Latih Daya Kenyalmu

Sekelompok pemuda merencanakan pendakian ke Gunung Rinjani untuk melewati akhir tahun sekaligus menyambut tahun yang baru. Terpesona oleh foto-foto yang mempublikasikan keindahan gunung Rinjani, mereka bersepakat bahwa hidup tidaklah lengkap jika belum pernah sampai ke puncak Rinjani. Terlalu sayang jika keindahan Rinjani dilewatkan. Ya, puncak gunung api aktif tertinggi kedua di Indonesia itu memang menyimpan keindahan yang sungguh menawan.

Mereka pun berkomitmen untuk berkumpul di kaki Gunung Rinjani di suatu pagi jelang pergantian tahun baru. Di kaki gunung tertinggi di Lombok, dengan ketinggian 3.726 mdpl, mereka semakin terpana. Pantas jika Rinjani menjadi impian traveler untuk berdiri di puncaknya. Mereka mematok target, harus bisa mencapai puncak Rinjani. Pantang berpulang tanpa menapakkan kaki di sana.

Mulailah rombongan sepuluh  pemuda itu bergerak  mengikuti jalur pendakian Sembalun. Semua tampak menyenangkan pada awalnya. Rinjani berdiri menjulang jauh di depan. Cuaca cerah berbalut hangat sinaran mentari pagi. Sepanjang perjalanan pertama, mereka masih sering berpapasan dengan para petani dan penduduk desa Sembalun, serta ladang pertanian warga di kiri-kanannya. Jalur perjalanan awal setelah areal pertanian adalah jalur pendakian yang landai didominasi oleh punggungan bukit dengan tumbuhan ilalang yang lebat. Mereka mendaki penuh semangat.

Pemandangan menakjubkan di sepanjang perjalanan pendakian memanjakan mata. Juga udara segar yang memenuhi rongga dada. Seiring sinar mentari yang merambat naik, langkah-langkah kaki mereka mulai membawa ke jalur pendakian yang semakin berat. Jalan mulai rumpil, akar pohon-pohon liar dan bebatuan yang berserakan semakin sering ditemukan. Meski demikian, pos pertama dan kedua pendakian mampu mereka lalui.

Selepas pos ketiga Plawangan Sembalun, medan pendakian semakin berat. Mulai terdengar satu dua komentar dari sebagian rombongan mengeluhkan kondisi medan. Semakin mendekati Bukit Penyesalan semakin banyak keluh kesah itu terdengar. Susah payah mencapai Bukit Penyesalan, mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka belumlah sampai di puncak bukitnya! Masih ada bukit-bukit selanjutnya sebelum mengapai puncak Rinjani. Deretan bukit yang seolah tiada habis-habisnya…

Di Bukit Penyesalan itu, kekesalan dan sumpah serapah tak bisa ditahan lagi. Puncaknya, enam orang diantara kelompok pemuda itu memutuskan menghentikan pendakian dan kembali ke desa Pembalun. Mereka tak sanggup meneruskan perjalananan dan memilih pulang meski belum mencapai tujuan awal mereka.

Empat orang sisanya tidak sepakat dengan keputusan menghentikan perjalanan. Sebab, komitmen awal adalah mencapai puncak Rinjani apapun yang akan terjadi. Mereka tetap memilih meneruskan pendakian.

Tak lama berselang, tanjakan terakhir sebelum Plawangan Sembalun sudah terlihat. Itu adalah tanjakan menantang dengan kemiringannya sekitar 60 derajat. Jalanannya terjal dan licin, apalagi hujan yang cukup deras mengguyur di sisa perjalanan hari itu. Oksigen semakin menipis, kaki terasa lelah dan hampir mati rasa, ditambah lagi badan mulai menggigil kedinginan. Meski begitu, tekad mereka tetap bulat untuk meneruskan perjalanan. Puncak Rinjani masih jauh, tegak menantang.

segara-anakSetelah menempuh sekitar 10 jam pendakian dari jalur Sembalun, Danau Segara Anak berhasil mereka capai.  Decak kekaguman dan lontaran teriakan tanda kepuasan kontan nyaring terdengar. Berbentuk seperti bulan sabit dengan lahan yang luas dan datar, Segara Anak tidak saja sangat indah namun juga menjadi tempat berkemping yang ideal. Tidak menunggu lama, pemimpin dari rombongan yang tersisa itu memutuskan untuk menghentikan pendakian guna beristirahat. Tenda didirikan dan bekal-bekal makanan segera dikeluarkan. Usai menikmati bekal, mereka berendam di air panas yang mengandung belerang untuk mengusir lelah. Mereka memutuskan bermalam di tepi danau nan eksotik itu.

Esok hari, usai menikmati istirahat malam yang nyenyak, pemimpin rombongan menyerukan untuk segera berkemas dan melanjutkan perjalanan. Alih-alih bergegas, tiga pendaki yang tersisa mempertanyakan instruksi pemimpin rombongan itu. “Untuk apa kita berkemas dan meneruskan pendakian? Bukankah yang kita cari adalah keindahan Rinjani? Bukankah tempat ini adalah tempat sangat indah yang kita belum pernah temui sebelumnya? Apalagi yang kita cari? Bukankah puncak masih sangat jauh? mana berat lagi medannya”, rentetan pertanyaan dan alasan bermunculan. Diskusi diantara mereka tidak mencapai kesepakatan. Tiga pemuda bersikeras untuk menghentikan pendakian sebab keindahan Danau Segara Anak sudah lebih dari cukup bagi mereka.

Tinggallah sang pemimpin rombongan. Seorang diri meneruskan perjalanan. Baginya, tujuan mencapai puncak Rinjani belumlah diraih. Komitmen dan tekad yang diusung sedari awal harus dipenuhi. Meski berat dan tertatih, di hari kedua pendakian, jelang sore tenggelam, ia berhasil mencapai puncak Rinjani. Segera lantunan syukur ia ucapkan. Luar biasa indah puncak Rinjani ini… betul-betul keelokan yang sulit dicari bandingnya. Sejenak ingatannya melayang kepada kawan-kawannya yang tercecer dalam pendakian ini. “Alangkah ruginya mereka. Andai mereka mau bersabar dan menanggung sedikit lagi kepayahan, keindahan yang menakjubkan ini pasti akan mereka rasakan jua,” gumamnya sembari tak lekang matanya menatap hamparan langit di puncak Rinjani.

***

Apa yang ditunjukkan oleh para pemuda dalam cerita diatas mengingatkan saya pada satu hal, bahwa banyak orang berani memimpikan kesuksesan dalam hidup, namun sayangnya tidak banyak yang bersedia membayar harga untuk kesuksesan itu. Padahal kesuksesan menuntut banyak hal, diantaranya kerja keras dan komitmen yang kuat  untuk menggapainya. Sebab, jalan menuju sukses bertabur dengan hambatan dan kesulitan. Disinilah kita perlu meyadari pentingnya membangun kecerdasan untuk mengatasi setiap permasalahan yang kita hadapi.

Setelah 19 tahun melakukan penelitian dan mengkaji lebih dari 500 referensi, DR. Paul G. Stoltz mengemukakan satu teori kecerdasan baru selain Intellegent Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ)  yang selama ini sudah dikenal. Kecerdasan baru itu bernama Adversity Quotient (AQ).   Stoltz mendefinisikan AQ sebagai “the capacity of the person to deal with the adversities of his life. As such, it is the science of human resilience.” Secara ringkas, AQ adalah kemampuan dalam bentuk kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk bertahan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan serta mengatasi tantangan-tantangan dalam kehidupan.

Seseorang yang memiliki AQ yang tinggi teridentifikasi dari kegigihannya dalam menghadapi tantangan dan kesulitan sehari-hari. Lebih dari itu, bukan saja mampu mengatasi tantangan, seseorang yang memiliki AQ tinggi akan sanggup merespon tantangan-tantangan tersebut untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik. Ia mampu mengubah hambatan menjadi peluang. Demikian pula sebaliknya. Untuk memberikan gambaran atas kecerdasan ini, Stoltz membagi kecerdasan ini ke dalam tiga kelompok kategori manusia: quitter, camper, dan climber.

Enam pemuda yang memilih untuk menghentikan pendakian di Bukit Penyesalan adalah contoh dari manusia tipologi quitter. Seorang quitter melihat masalah dan tantangan sebagai sesuatu yang gelap dan menakutkan. Mereka bahkan sudah berhenti sebelum memulai. Jika pun berani memulai, gampang pula mereka menyerah di tengah perjalanan. Dari tipikal ini, kita akan sering mendengar bagaimana mereka dengan entengnya menyalahkan orang lain atas kegagalan hidupnya. Mereka cenderung menghindar untuk mengambil resiko, suka bermain aman, dan tak berani menghadapi tantangan-tantangan baru yang menuntut keberanian. Padahal, sejatinya mereka memiliki potensi yang besar dalam diri. Sayangnya potensi itu terabaikan.

Tiga pemuda yang memutuskan untuk berhenti di Segara Anak adalah contoh dari tipologi camper. Meski berani memulai dan pada awal terlihat sangat  bersemangat, mereka bukanlah pejuang sejati. Cepat merasa puas dengan capaian-capaian yang ada, dan menggunakan seluruh energi besar yang masih dimiliki untuk memelihara status quo adalah ciri khas tipologi ini. Akibatnya, mereka tak pernah mencapai potensi sesungguhnya yang dimiliki.

Satu-satunya pendaki yang tersisa, yang sanggup mencapai puncak Rinjani seperti komitmen awal, itulah sang climber. Ia adalah tipologi manusia yang tak pernah menyerah dalam mengejar mimpi. Seolah ia tak ada matinya. Terus bergerak menuju pencapaian-pencapain yang lebih tinggi dalam kehidupannya. Semakin dihadapkan pada kesulitan, sebanyak kuat ia melangkah. Semakin keras ia ditekan, semakin tinggi daya lentingnya terlontar.

***

Kecerdasan dalam menghadapi masalah adalah penentu kesuksesan seseorang. Tanpa kecerdasan ini, sulit bagi seseorang untuk menggapai prestasi terbaik dalam hidupnya. Sebab, dalam proses mencapai prestasi itu pasti akan bertemu dengan hambatan, tantangan, dan kesulitan. Semua ragam permasalahan itu tidak cukup diselesaikan menggunakan IQ, EQ, dan SQ saja. Dibutuhkan “daya kenyal” untuk mengatasi itu semua. Kekenyalan seseorang dalam merespon kesulitan dan kemampuannya dalam mengatasi adalah cermin dari AQ.  Dengan kata lain, seseorang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan  cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya rendah.

Dalam kehidupan nyata, para climber-lah yang akan mendapatkan kesuksesan sejati. Penelitian Charles Handy terhadap ratusan orang sukses di Inggris memperlihatkan bahwa mereka, yang dikategorikan sebagai orang-orang sukses itu, memiliki tiga karakter yang sama. Pertama, memiliki dedikasi tinggi terhadap apa yang tengah dijalani. Dedikasi itu bisa berupa komitmen, passion, kecintaan atau ambisi untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. Kedua, mereka memiliki determinasi, yaitu  kemauan untuk mencapai tujuan, bekerja keras, berkeyakinan, pantang menyerah dan kemauan untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Terakhir, selalu berbeda dengan orang lain. Orang sukses memakai jalan, cara atau sistem bekerja yang berbeda dengan orang lain pada umumnya.

Nah, seberapa jauh Anda telah melatih “daya kenyal” itu, kawan? Siapakah Anda? Seorang quitter, camper, ataukah climber-kah? Telisiklah lebih cermat ke dalam diri Anda.

Salam pengembangan diri!

Posted in Motivasi | Tagged , | Leave a comment

JANGAN KALAH DENGAN KEBIASAAN LAMA

 Seorang kawan bertanya usai mendengar uraian saya tentang teknik mencabut gulma untuk mengubah pola pikir lama yang bersifat negatif, “Bagaimana cara mengubah gulma jika sang gulma (kebiasaan) itu sudah terlanjur mengakar?… Bukan saja sekedar bentuk akarnya yang sudah sangat memanjang, namun ia juga merasuk ke dalam tanah dan menjalar hingga ke mana-mana?” Begitulah kira-kira pertanyaan simboliknya.

Ya, sering saya mendengar hal yang seperti ini. Terkadang, ujung dari pertanyaan seperti itu menyiratkan bahwa rasanya kok tidak mungkin untuk mengubahnya ya? Sepertinya, hal itu menjelma menjadi kebiasaan yang telah begitu lama mengekang kehidupan. Kalo ditanyakan ulang,” Masih perlukah perubahan itu harus Anda lakukan?”, mayoritas akan menjawab, ”Jelas dong, pak. Kebiasaan lama itu seakan seperti benalu bagi hidup saya!”

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, kita membutuhkan disiplin diri yang kuat untuk mengatasinya. Semakin kuat akar kebiasaan lama yang merusak itu menancap, semakin kuat pula kebutuhan kita akan disiplin diri itu. Terkadang, disiplin diri itu membutuhkan hentakan yang sangat keras dari sumber eksternal agar kita mampu menyadarinya.

Dalam beberapa sesi training motivasi saya sering mengingatkan, “Apabila nasehat dan ceramah, dan yang semisalnya, sudah tidak bisa lagi menjadi obat bagi kita untuk berubah, saya khawatir, satu-satunya jamu yang mujarab hanyalah musibah.”  Mengapa saya katakan itu? Pengalaman hidup banyak orang telah mengajari saya akan hal itu.

Lho kok begitu? Ya. Sebab jarang sekali orang mau mengubah dirinya manakala sudah tertanam suatu kebiasaan yang mengakar dalam dirinya. Dalam situasi itu, cenderungnya ia merasa nyaman dengan kebiasaan tersebut. Jika pun dalam suatu ketika muncul kesadaran, dan pengakuan, tentang kebiasaan buruk tersebut umumnya kesadaran itu tidak cukup kuat untuk membuatnya melakukan perubahan. Sekalipun kesadarannya menuntun pada suatu pengakuan tentang kebutuhan untuk mengubahnya.

Mengapa begitu? Sederhana saja. Jika kebutuhan akan perubahan itu belum sampai pada taraf menjadi tuntutan yang sangat menyakitkan, orang memiliki kecenderungan kuat untuk resisten terhadap perubahan.

Perubahan, terutama yang bersifat drastis, sering kali dijelaskan dengan cara seperti itu. Jarang orang mau melakukan perubahan karena memang menyukai dan menginginkan perubahan tersebut. Sebab, perubahan menyimpan satu misteri yang ditakuti manusia: ketidakpastian. Umumnya, orang pada akhirnya melakukan perubahan karena sudah tidak ada cara lain. Ia terpaksa harus melakukan perubahan. Maka semboyan yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ini adalah change or die!

Tiada pilihan lain lagi. Wajar, jika kemudian perubahan diidentikkan sebagai proses yang tidak menyenangkan. Menyakitkan memang. Namun perubahan adalah satu-satunya jalan yang mesti ditempuh. Teori psikologi menjelaskan, salah satu faktor motivasi yang kuat mendorong orang untuk melakukan sebuah tindakan adalah menghindari kesakitan. Meski tidak menyenangkan, jika suatu tindakan harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari situasi yang lebih menyakitkan, manusia akan melakukan itu. Itulah sebabnya, kita mau minum obat sepahit apa pun demi sebuah kesembuhan dari penyakit! Belajarlah pada sang elang untuk memahami hal ini.

elangSeekor elang dewasa sanggup bertahan hidup hingga usia 70 tahun. Namun usia sepanjang itu hanya akan ia nikmati jika sebelumnya ia mau melakukan tindakan yang menyakitkan baginya. Memasuki umur 40 tahun, elang memiliki dua pilihan yang sama-sama tidak enak. Mati di usia itu atau meneruskan hidup namun harus melalui perjalanan yang berat dan menyakitkan dalam hidupnya.

Elang  yang berumur 40 tahun harus  mau menerima kenyataan bahwa paruhnya tidak lagi sekuat di masa mudanya. Paruh sang elang menjadi bengkok ke dalam dan memanjang hingga hampir menyentuh dadanya. Di satu sisi, seiring proses penuaan itu, bulu-bulu elang bertambah menjadi lebat dan semakin menebal. Kondisi itu menyulit dirinya untuk merentangkan sayap dan terbang dengan berat yang semakin membebani. Belum lagi bentuk cakarnya yang berubah semakin menua hingga kehilangan daya cengkeram yang menjadi andalannya. Dalam situasi seperti itu, nyaris mustahil baginya untuk berburu mangsa untuk mendapatkan makanan.

Jika ingin survive dari kondisi itu, elang harus bersusah payah terbang ke puncak gunung yang tinggi untuk memulai proses perubahan yang akan menyelamatkan dan memperpanjang kehidupannya.

Di sana, ia akan mematuk-matukkan paruh tuanya menghantam batu agar terlepas dari mulutnya hingga tumbuh paruh baru sebagai gantinya. Sang elang pun harus memaksa cakar-cakarnya  agar tanggal hingga muncul cakar-cakar baru. Selesai dari proses itu, sebagai bagian terakhir yang tak kalah menyakitkan baginya adalah mencabuti bulu-bulu di tubuhnya satu persatu agar tumbuh bulu-bulu baru setelahnya. Semua proses itu membutuhkan waktu lima bulan, sebelum akhirnya ia menjelma menjadi elang lama dengan chasing baru yang lebih segar dan kuat. Perubahan yang memungkinkannya untuk hidup 30 tahun lebih lama.

Kita bisa memetik hikmah dari kehidupan sang elang. Lesson learned dari cerita ini memang memaksa kita untuk mau berpayah-payah menempuh jalan perubahan. Sebab itu memang suatu kemestian. Jalan yang harus dilewati. Maka, kuatkan disiplin diri untuk melakukannya. Jangan menunggu musibah baru kita berubah. Sebab, cara itu biasanya jauh lebih menyakitkan, kawan…

Salam hangat sepenuh cinta

Posted in Motivasi | Tagged , | Leave a comment

MENGUBAH POLA PIKIR LAMA

Pada tulisan sebelumnya tentang pembentukan pola pikir, saya menulis bahwa kita sesungguhnya adalah produk dari kebiasaan cara berpikir orang lain. Ketika kita tidak secara kritis menerima nilai-nilai, keyakinan, kebiasaan, atau harapan-harapan orang lain dan bertindak mendasarkan pada hal-hal tersebut, sesungguhnya kita telah memberikan kesempatan bagi orang lain untuk memegang kendali atas hidup kita. Di titik pemahaman ini, kita harus memulai membangun kehati-hatian. Mengapa?

Tidak masalah jika kendali/pengaruh lingkungan tersebut berdampak pada hal-hal yang positif bagi hidup kita, bahkan kita bisa menjadi sangat beruntung karenanya. Namun, di sisi lain  kendali/pengaruh itu juga bisa memberikan hal-hal yang buruk, seperti membatasi kemampuan dasar kita, tidak efektif, atau bahkan membahayakan kehidupan. Ingatlah selalu bahwa pada awalnya kita membentuk pola pikir kita sendiri, kemudian pola pikir itulah yang akan membentuk kita selanjutnya. Jadi? Pastikan kita mampu menyaring pengaruh lingkungan terhadap diri kita. Pastikan hanya pengaruh positif saja yang kita ijinkan turut membentuk pola pikir kita.

Untuk memastikannya cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan ini:

  • Siapa yang telah mempengaruhi pemikiran saya tentang diri saya sendiri, tentang orang lain, tentang kehidupan, tentang keberhasilan, dan hal-hal lainnya?
  • Keyakinan, sikap, kebiasaan berpikir seperti apa yang telah ditanamkan kepada saya selama ini?
  • Apakah pikiran, sikap, keyakinan, dan pendidikan yang selama ini saya peroleh berguna untuk meningkatkan keberhasilan saya dalam hidup atau justru malah membatasinya?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu direnungkan secara jernih dan dijawab secara jujur. Jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut dapat menjadi titik anjak bagi perubahan yang lebih baik dalam pengembangan pola pikir kita. Mari kita pertanyakan, apa yang bisa kita lakukan terhadap pola pikir, kebiasaan, sikap, nilai-nilai, keyakinan dan harapan lama, yang kita miliki selama ini, yang membatasi bahkan menjadi penghalang bagi pencapaian-pencapaian selama ini?

Jika jawaban atas pertanyaan tersebut sudah dapat ditemukan, kita dapat merumuskan pendekatan-pendekatan untuk merubahnya ke arah yang positip. Secara umum, kita harus menghapus/mengubah program-program lama dalam pikiran tersebut dan menggantikannya dengan program baru yang sesuai dengan keinginan. Secara terus menerus dan konsisten, kita harus menanamkan gagasan-gagasan baru ke dalam pikiran kita hingga bisa menggantikan gagasan-gagasan lama yang sudah terlanjur tertanam sebelumnya. Saya menyebut teknik ini sebagai teknik mencabut gulma.

Mencabut-gulmaPerhatikanlah gulma yang tumbuh ditengah-tengah sawah petani. Meski sang petani telah mencabut gulma-gulma itu namun jika tempat dimana gulma itu berada sebelumnya dibiarkan kosong begitu saja, pasti dalam waktu yang relatif singkat akan tumbuh gulma-gulma baru ditempat itu. Begitulah seterusnya.

Betapa melelahkan kerja petani jika seperti itu. Sangat tidak efektif. Lalu bagaimana mengatasinya? Jika ingin efektif maka usai gulma-gulma tersebut dicabut, sang petani harus menanam tumbuhan baru yang diinginkannya diatas area bekas gulma-gulma itu berada.

Begitu pun dengan pola pikir kita. Tatkala kita menyadari ada  kebiasaan, sikap, nilai-nilai, keyakinan dan harapan lama yang negatif dalam hidup maka kita harus menanamkan dalam pikiran gagasan-gagasan baru yang berlawanan dengan hal tersebut. Pola pikir baru yang positif sebagai lawan dari pola pikir lama yang negatif harus dihadirkan secara terus menerus dan konsisten. Itu pintu untuk memastikan perubahan pola pikir terjadi.

Sepertinya mudah sekali… Oh, no.. no.. no. Anda salah besar jika mengatakan seperti itu. Pengalaman saya menegaskan, lebih mudah mengajarkan teknik mencabut gulma itu ketimbang mempraktikkannya sendiri. Diperlukan disiplin diri yang kuat untuk bisa mencapainya. Sungguh tidak mudah melawan diri sendiri itu. Sebab, normalnya, manusia terlahir dengan kecenderungan untuk merangkul kemudahan dan menolak kesulitan. Karenanya, kita membutuhkan kemampuan untuk membuat diri kita mau melakukan sesuatu yang sangat kita inginkan pada saat kita tidak suka untuk melakukannya. Itulah disiplin diri!

Setiap orang pasti menginginkan pola pikir yang lebih baik, sayangnya kebanyakan akan menyerah untuk menggapainya manakala tahu ternyata jalan menuju pola pikir yang lebih baik itu ternyata terjal. Sering kita mencoba untuk mengubah, namun ternyata gagal. Berulang mencoba, berulang pula kegagalan-kegagalan itu terjadi. Kita marah karenanya. Sayangnya, terkadang ekspresi marah itu kita arahkan dengan cara yang salah: berhenti untuk melakukannya!

Mulai sekarang, saya ingin ketika Anda gagal untuk menanamkan pola pikir baru yang positif setelah mencabut gulma Anda, marahlah. Ya, marahlah dengan kemarahan terbesar Anda!

Marahlah dengan kemarahan yang meluap-luap sehingga Anda akan sanggup meneriakkan, “Cukup! Aku tidak mau lagi mengalami kegagalan-kegagalan ini lagi. Aku mau berubah! Aku harus berhasil mengubah diri untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang!” Biarkan emosi itu membantu Anda untuk fokus pada tujuan: mengubah pola pikir. Disaat seperti itu, Anda membutuhkan fokus pada apa yang Anda inginkan. Mengapa ini penting? Karena fokus akan membuka aliran energi dan sumber daya Anda untuk mencapai keinginan Anda. Sebab, energi dan sumber daya akan mengalir sesuai dengan arah niat dan atensi Anda.

So, jangan berhenti. Jangan menyerah. Teruslah tanamkan kebiasaan, sikap, nilai-nilai, keyakinan dan harapan-harapan baru yang Anda inginkan! Biarkan waktu yang akan membuktikan. Suatu saat Anda akan tertegun mendengar orang mengatakan tentang Anda, “Kok kamu beda banget ya dengan dulu waktu terakhir kita bertemu. Gimana sih caranya bisa seperti itu?”

Salam hangat,

Sampurna

Posted in Motivasi | Tagged , | Leave a comment

Dari Mana Pola Pikir Terbentuk?

Salah seorang guru saya dalam bidang neuro linguistik programming pernah berbagi pengalaman menarik tentang seorang kliennya. Sang klien, seorang pengusaha di Surabaya, mengeluhkan peristiwa-peristiwa yang sering terjadi dalam perjalanan bisnisnya. Pendeknya, ia kerapkali mengalami kegagalan dalam deal-deal bisnis.

Setiap kali terlibat dalam lobby-lobby transaksi bisnis yang melibatkan uang dalam jumlah besar, ia selalu gagal mencapai deal di tahap akhir lobby-lobby bisnis tersebut. Pada akhirnya, ia hanya bisa terbengong-bengong karena kontrak-kontrak bisnis yang nyaris disepakati pada akhirnya melayang dan berpindah tangan ke pengusaha lain. Uniknya, kalo kontrak-kontrak itu hanya melibatkan uang dalam jumlah nominal kecil, kesepakatan mudah didapat dan order pun menjadi miliknya. Ada apa? Mengapa hal seperti itu sering kali ia alami? Pertanyaan-pertanyaan yang berputar di benaknya sekian lama itu akhirnya mengantarnya bertemu dengan guru saya.

Selidik punya selidik, dalam sesi konsultasi, guru saya menemukan akar permasalahannya. Rupanya di masa kecilnya, pengusaha itu sering mendengar orang tuanya ribut gara-gara masalah uang. Tidak begitu jelas baginya, mengapa uang selalu menjadi pemicu percekcokan sengit antara kedua orang tuanya. Di masa kecilnya, keluarga pengusaha itu bukanlah keluarga yang kekurangan. Apa lagi miskin.

Entah kenapa kemudian dalam pikiran pengusaha itu, di usianya yang masih kanak-kanak, terbentuk sebuah penggambaran bahwa uang adalah sumber mala petaka. Seiring dengan seringnya ia melihat pertengkaran kedua orang tuanya, keyakinan bahwa uang adalah sumber masalah bagi hidupnya pun terbentuk. Bahkan, tanpa ia sadari gambaran uang sebagai sumber masalah berubah menjadi sebuah keyakinan yang semakin mengkristal.

Sebagai coach dengan jam terbang tinggi, guru saya segera menyadari apa yang sebenarnya tengah terjadi. Sesi terapi pun dilalui hingga pengusaha itu bisa keluar dari permasalahannya. Kabar baiknya, tak lama setelah itu datang berita. Ada kesepakatan bisnis yang bisa dituntaskan oleh pengusaha itu. Sebuah kesepakatan bisnis yang melibatkan uang dalam jumlah besar.

***

Apa yang terjadi dengan cerita tentang pengusaha itu? Rupanya, keyakinan yang salah tentang uang di masa kecil pengusaha itu menjelma menjadi sebuah pola pikir. Keyakinan yang salah, bahwa uang adalah sumber masalah, kemudian membentuk pola pikir yang menghambat perjalanan karier bisnisnya. Ia menjelma menjadi mental block di masa dewasanya.

Setiap kali akan mengikat persetujuan bisnis, pikiran bawah sadar bahwa uang adalah sumber masalah menyeruak secara otomatis. Dalam benaknya, jika ia setujui perikatan bisnis itu dan uang dalam nominal yang banyak kemudian menjadi limiting_beliefs_mean_shadow3miliknya, hidupnya akan mengalami masalah. Akibatnya, ia menjadi ragu-ragu untuk bertindak. Keraguan inilah yang kemudian dilihat oleh calon mitra bisnisnya dan diartikan sebagai bentuk ketidaksiapan pengusaha itu untuk menjalankan kesepakatan bisnis secara profesional. Wajar kalau kemudian mereka kabur dan berpaling ke penyedia jasa lainnya.

***

Sebagian kalangan meyakini bahwa pola pikir adalah pembentuk kehidupan seseorang. Ketika seseorang berpikir, baik secara sadar maupun tidak sadar, uang adalah sumber bencana maka tindakan-tindakan di sepanjang kehidupannya akan diarahkan oleh pola pikir ini.

Dari mana kita memperoleh sebuah pola yang menyebabkan kita berpikir, merasakan dan bertindak dengan cara tertentu terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar kita? Dari mana pikiran-pikiran yang membentuk pola itu berawal?

Sebenarnya pola pikir kita adalah hasil bentukan dari pikiran orang lain maupun hasil interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Pola pikir acap kali mirip dengan hadiah yang diterima dari orang lain bahkan manakala kita tidak memintanya. Umumnya, manusia adalah produk dari kebiasaan berpikir orang lain.

Itu pula yang terjadi dengan pengusaha dalam cerita diawal tulisan ini. Tanpa sadar, ia menyerap pertengkaran tentang uang di masa kecilnya. Persepsi negatif tentang uang pun mulai terbentuk dalam benaknya. Dalam perkembangannya, ia memperhatikan dampak dari pertengkaran-pertengkaran itu dan secara sadar beranggapan, membenarkan bahkan kemudian meyakini bencana-bencana yang ditimbulkan sebagai akibatnya.

Waduh, berbahaya sekali kalau seperti itu cara kerjanya. Berarti kita  tidak memiliki kendali atas diri sendiri dong? Kalau kita dilahirkan dan berada di lingkungan yang baik, itu bagus! Bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya?

Untungnya, Allah sudah menciptakan seperangkat mekanisme yang otomatis ter-install dalam pikiran manusia. Dunia neuro linguistic programming menyebutnya sebagai kemampuan untuk melakukan filterisasi. Setiap manusia memiliki kemampuan dalam dirinya untuk menyaring semua informasi yang diterimanya.  Melalui kemampuan itu, kita bisa menyaring informasi dan menentukan mana yang akan kita terima, dihilangkan (delete), digeneralisasi, atau bisa pula dimaknai ulang dalam bentuk distorsi dari makna awal informasi yang diterima.

Ketika kita tidak secara kritis menyaring semua informasi yang kita terima, sesungguhnya kita tengah membiarkan nilai-nilai, keyakinan, kebiasaan, atau harapan-harapan orang lain masuk dalam pikiran bawah sadar kita dan membentuk kita. Selanjutnya, kita bertindak atas dasar semua itu. Ketika itu, pola pikir orang lain mendapatkan kendali atas kehidupan kita.

Begitulah, mengapa manusia umumnya akan menjadi produk dari kebiasaan orang lain. Apa maknanya bagi kita?

Sebagai pemimpin, sudah sepantasnya kita menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terbentuknya pola pikir yang positif di sekitar kita. Itu artinya kita harus menumbuhkan secara terus menerus nilai-nilai, keyakinan, kebiasaan, atau harapan-harapan yang sehat dalam keseharian kita. Tidak mudah memang.

Kita harus menciptakan komunitas yang bisa saling mengingatkan dan menyemangati agar hal-hal positif terus tumbuh di lingkungan kita. Sebab dengan cara itulah, disadari atau tidak, pola pikir kita dan bawahan kita akan terbentuk. Apa yang kita lihat, dengar dan rasakan dari lingkungan kita akan menjadi bahan bakar bagi pembentukan pikiran-pikiran kita. Repetisi atas pikiran-pikiran kita sesuai input informasi yang kita terima akan membentuk pola pikir kita. Pada gilirannya, pola pikir itu akan membentuk kehidupan di sekitar kita. Maka pastikan agar nilai-nilai, keyakinan, kebiasaan, atau harapan-harapan yang positif saja yang hadir dalam keseharian kita. Selainnya? Singkirkan jauh-jauh… kick out from our life!

Bagaimana menggunakan kemampuan filterisasi dengan benar untuk memastikan pembentukan pola pikir yang positif serta bagaimana mengubah pola pikir yang sudah terlanjur salah atau negatif? Insya Allah akan kita bahas pada kesempatan lain. So, jangan kemana-mana setelah iklan yang berikut ini…😀

Salam hangat, selalu ada cinta untuk Sobat sekalian …

Sampurna

Posted in Motivasi | Tagged , | Leave a comment

AGAR SENANTIASA “TERBAKAR”

Menemani para eselon IV Kementerian Keuangan di Training Kreativitas dan Inovasi untuk Sektor Publik selama empat hari di Balikpapan pekan lalu, banyak memberikan pembelajaran baru bagi saya. Selalu ada yang bisa dipelajari dan dikembangkan dari kebersamaan di kelas-kelas training yang saya ampu.

Salah satu yang menarik untuk dicermati adalah pertanyaan di sesi siang hari kedua training berlangsung. “Pak Sam, sebelum dilanjutkan bahasannya, bolehkah saya bertanya dahulu?” ujar seorang peserta dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

Setelah saya respon dengan anggukan sembari tersenyum lebar, beliau melanjutkan.

“Seringkali kali saya “terbakar” kala mendengar paparan dari para motivator. Seperti juga yang kali ini terjadi. Namun, sayangnya itu tidak berlangsung lama. Dalam beberapa minggu bahkan dalam bilangan hari kemudian, perasaan itu menghilang. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar kondisi seperti itu tidak terus berulang? Saya khawatir tidak lama setelah mengikuti training, perasaan ini akan menguap juga”, tuturnya.

Pertanyaan itu muncul, disela-sela story telling saya ketika memodel pikiran manusia dan cara kerjanya. Di hari sebelumnya kami sempat membahas struktur dan cara kerja otak manusia. Pertanyaannya sangat pas untuk mengeksplorasi kedua topik tersebut.

“Apa visi hidup, Bapak?”, saya bertanya sebelum membahas pertanyaan tersebut. Bagi saya penting sekali untuk mendapatkan jawaban ini terlebih dahulu. Mengapa?

Banyak orang dengan mudah mampu mendengar masukan dari pihak eksternal, apalagi jika itu terkait dengan kepentingan dalam hidupnya. Akibatnya, semangat dan motivasi segera menyala sebagai suatu respon. Umumnya, memang begitu. Ketika berbicara tentang motivasi yang diinduksikan pihak luar/eksternal ke dalam diri kita, lazimnya ada suatu percikan yang langsung timbul dalam diri. Masalahnya adalah bagaimana menjaga agar semangat dan motivasi yang terbangun itu bisa bertahan lama?

Saya memberi resep sederhana agar semangat dan motivasi itu bertransformasi menjadi percikan semangat dan motivasi yang bersifat internal. Ini penting, sebab semangat dan motivasi internal bersifat lebih long term bahkan bisa permanen. Pertama, kaitkan semangat dan motivasi yang terpercik itu ke dalam visi hidup Anda.

Visi hidup ini sangat penting. Apapun rumusannya, ia akan menjadi pemandu arah kehidupan kita. Ibarat seorang pilot yang menerbangkan pesawat terbang. Jika ia tidak punya tujuan yang jelas, hendak kemana pesawatnya diarahkan, bisa jadi ia akan kehabisan bahan bakar di udara yang menyebabkan pesawatnya didaratkan dengan cara yang sangat membahayakan keselamatan diri.

Visi adalah ruh bagi kehidupan kita. Tanpanya, kehidupan akan terasa hambar dan daya juang pun tak memiliki kanal sebagai saluran untuk menumpahkannya.

Sebagai contoh, kepada peserta training, saya memaparkan visi hidup saya. Saya punya tiga visi besar. Pertama, visi pribadi selaku hamba Allah. Kedua, visi pribadi selaku suami serta orangtua dari anak-anak. Ketiga, visi pribadi berkaitan dengan karier dan pekerjaan.

SampurnaBerkaitan dengan visi ketiga, mimpi saya adalah menjadi seorang trainer terpercaya bagi PNS Pusat dan Daerah yang berjiwa melayani.  Untuk memperjelas visi ini hingga mudah untuk dirasakan secara emosi dan memiliki kejelasan tolok ukurnya, saya menargetkan: Di tahun 2020, seluruh Kementerian dan Lembaga Negara serta 20% pemda yang ada di Indonesia telah menggunakan jasa pelatihan saya.

Sejak merumuskan visi itu, apa yang saya lakukan selanjutnya adalah melakukan afirmasi (self suggestion) secara terus menerus untuk menanamkan ke dalam pikiran bawah sadar tentang citra diri sebagai seorang trainer terpercaya yang berjiwa melayani. Dalam konteks ini, energi yang mengalir dari motivasi eksternal yang terbangun saya gunakan untuk menguatkan upaya pencapaian visi hidup. Saya tahu, energi akan mengalir ke mana niat dan fokus dipancangkan.

Saya membayangkan semangat dan motivasi yang diinduksikan oleh pihak eksternal tak ubahnya seperti kayu yang membakar api unggun. Sedikit demi sedikit, batang-batang kayu itu dilemparkan ke dalam tumpukan kayu bakar untuk menggelorakan upaya pencapaian visi. Karena visi hidup ini begitu penting, maka menjaga agar api terus menyala adalah sebuah keharusan. Itulah sebabnya, terkadang ketika merasa mengalami dis-orientasi dalam upaya pencapaian visi tersebut, sengaja saya mencari pihak-pihak maupun sumber-sumber lain yang bisa memotivasi saya kembali. Memperbaiki niat dan fokus dalam pencapaian visi hidup diperlukan agar energi tak terhambur tanpa daya ungkit.

Resep kedua adalah action-kan semangat dan motivasi yang memercik itu. Mengapa harus begitu?

Pernahkah Anda mengalami situasi di mana motivasi rasanya menguap, hilang entah kemana? Situasi yang membuat semangat kita untuk melakukan sesuatu seperti tiada dan membuat kita tak berdaya. Apa yang Anda lakukan ketika itu?

Sebagian orang memilih untuk menyalahkan situasi. Sebagian lain memilih untuk menunggu munculnya mood untuk kembali beraktivitas. Masalahnya, kehidupan terus bergulir dan kita tidak bisa hanya diam menunggu untuk mendapatkan hasil. Sebenarnya, jika mengetahui rahasianya, kita bisa memicu motivasi untuk berkinerja.

Masih ingat rumus energinya Einstein? E = MC2. Mengacu ke rumus ini, energi berbanding lurus dengan kecepatan. Jika kecepatannya nol, dengan asumsi massa bersifat konstan,  maka energinya adalah nol.

Kecepatan itu sendiri berhubungan dengan gerak. Karenanya, untuk memunculkan energi, rumusannya mudah: bergeraklah! Jangan menunggu motivasi muncul baru bergerak. Aturan mainnya harus dibalik, bergeraklah untuk memunculkan motivasi.

Menariknya adalah begitu kita bergerak, kecepatan tidak lagi nol, maka energi pun tidak lagi nol. Semakin cepat kita bergerak, energi semakin meningkat dengan koefisien kuadrat. Jadi, mulailah bergerak. Mulailah action! Energi Anda pun akan meningkat dan bertambah. Ketika itu terjadi, dorongan dalam diri/motivasi pun akan meningkat. Motivasi mengikuti tindakan yang diambil seseorang. Itu sebabnya, action menjadi penting.

Motivasi bisa dipicu. Pemicunya adalah apa yang kita pikirkan dan lakukan. Paksa tubuh untuk bergerak sembari berpikir. Pikiran dan tubuh kita adalah satu sistem yang saling mempengaruhi. Pikiran memicu, tubuh merespon. Tubuh memicu, pikiran merespon. Oleh karena itu, jika sedang lemah motivasi jangan mengeluh dan do nothing. Ketika motivasi lemah, kita justru memerlukan lebih banyak gerak. Jangan diam dan menunggu. Jika Anda selalu bertindak, terus menerus menjaga untuk mengambil posisi action, Anda tidak akan pernah kehabisan motivasi.

Itu dua resep saya menjawab pertanyaan peserta training dari DJBC.  Saran saya untuk Anda, jangan cepat percaya dengan efektivitas dari kedua resep itu! Mendingan Anda buktikan saja sendiri dengan mencobanya terlebih dahulu. Bagaimana dengan pengalaman saya pribadi? Jelas, saya sudah membuktikannya selama ini…😀.

Selaksa cinta untuk Anda, Sahabat…

Salam hangat selalu.

Posted in Motivasi | Tagged , | Leave a comment

Belajarlah dari Suster Apung…

Apa kabar, Sahabat… Mohon maaf, lama tak menyapa dan berbagi inspirasi.

Beberapa waktu lalu, saya diminta Biro SDM untuk mengisi sesi Coaching for Improvement bagi para eselon IV di lingkungan Kemenkeu. Sepanjang sesi berlangsung, banyak sekali diskusi hangat yang terjadi menanggapi pertanyaan dan pernyataan yang dilontarkan para peserta. Uniknya, mayoritas dari pertanyaan dan pernyataan tersebut, oleh peserta disimpulkan sebagai mewakili fenomena gunung es ketidakpuasan terhadap kesejahteraan dan kenyamanan mereka selaku pegawai. Mulai dari kebijakan mutasi, promosi, hingga urusan salary yang dikeluhkan para anak buah maupun mereka rasakan sendiri. Memang mengurusi pegawai itu sangat menantang, sebab setiap pegawai memiliki keinginan yang unik.

Meski bisa memahaminya, tetap saja saya terhenyak. “Wah, sepertinya saya harus melakukan coaching terlebih dahulu kepada para pejabat ini. Baru kemudian mengajarkan ilmu dan ketrampilan coaching kepada mereka,” saya membatin.

Maka, saya memilih untuk keluar dari rencana pembelajaran yang seharusnya saya bawakan menggunakan metode pembelajaran yang telah dibakukan oleh Development Dimention International, tempat saya tersertifikasi sebagai coach, untuk menyesuaikan dengan situasi kelas hari itu. Setelah itu, materi mengenai coaching for improvement bisa saya deliver untuk mereka. Alhamdulillah, sesi hari itu berakhir dengan memberikan kesan positif bagi para peserta.

Pentingnya Memiliki Pikiran Positif

Pepatah Arab bijak mengatakan, “Wa ‘ainur-ridha ‘an kulli ‘aibin kaliilatun (Jika kita melihat sesuatu dengan positif, maka semuanya akan terlihat baik). Kamaa anna ‘aina-ssukhti tubdi-l-masawiya (Sebaliknya, jika kita melihat sesuatu dengan negatif, maka semua yang nampak adalah kejelekan).

Tak bisa dipungkiri, hidup ini memang mengenai cara pandang, tentang bagaimana kita merespon berbagai persoalan di sepanjang kehidupan. Cara pandang terhadap permasalahan hidup akan menentukan sikap & perasaan yang kita bangun terhadapnya. Pikiran mengerakkan sikap & perasaan kita.

Saya percaya, semua yang ada didunia ini, kecuali yang berasal dari-Nya, diciptakan dua kali. Penciptaan pertama selalu bermula di pikiran kita. Kitalah sesungguhnya pencipta isi pikiran-pikiran itu. Pikiran adalah alat ukur yang digunakan manusia untuk memilih sesuatu yang dinilai baik dan lebih menjamin masa depan dirinya. Yang dibutuhkan hanyalah memastikan kita mampu mengelola pikiran agar senantiasa positif. Agar tindak tanduk sebagai implementasi dari isi pikiran juga senantiasa positif. Sebab kebaikan tidaklah akan melahirkan kecuali kebaikan pula. Demikian pula hukum kebalikannya.

suster-apungSaya teringat sesosok perempuan tangguh, abdi negara dan masyarakat yang langka kita punya. Namanya, Andi Rabiah. Sedari kecil, perempuan kelahiran 29 Juni 1957 itu bercita-cita menjadi perawat. Di usianya yang kedua puluh, takdir membawanya menggapai mimpi menjadi seorang perawat. Satu hal yang tak disangkanya adalah ia menjadi suster apung untuk melayani sekitar 16.000 penduduk yang tinggal di 30 kepulauan yang berbeda di sepanjang Laut Flores, Laut Jawa, dan Selat Makassar.

Sejak 1997, ia harus terapung membelah lautan menghampiri siapa pun yang membutuhkan layanan kesehatan yang mampu ia berikan. Seorang diri, berbekal perahu sederhana ia menembus lautan lepas. Jarak terdekat antarpulau yang ia layani membutuhkan waktu 3 jam perjalanan, yang paling jauh harus ditempuh 13 jam untuk bisa mencapai Pulau Kapoposan dan Pulau Sabaru. “Kadang saya pergi malam, besok baru sampai di pulau. Jadi, semalaman berada di lautan dengan perahu kecil,” tuturnya tegar.

Gajinya hanya 1,7 juta per bulan. Itu tak menghalanginya untuk melakukan pekerjaan yang melebihi tanggung jawabnya. Bergelut dan mengobati berbagai macam penyakit: malaria, tipus, penyakit kulit, diare TBC, dan kusta mestinya adalah porsi seorang dokter. Bukan perawat seperti dirinya. Apalagi ditengah keterbatasan fasilitas dan stok obat-obatan yang ia punyai. Walhasil, ia pun pernah memberikan cairan infus yang sudah kadaluarsa kepada seorang pasien. “Alhamdulillah, orang yang menerima cairan infus itu hingga kini masih hidup,” ujarnya masygul pada presenter acara talkshow yang mewawancarainya di salah satu televisi swasta.

Pun juga, ia pernah terpaksa berperan sebagai bidan meski dengan ilmu kebidanan seadanya. Ia menuturkan bahwa dirinya pernah membantu orang bersalin dengan plasenta tertinggal di kandungan. “Alhamdulillah, ibu dan bayinya selamat.” Ya, ia memang dituntut oleh keadaan untuk serba bisa mencari solusi atas setiap masalah yang terjadi.

Kondisi masyarakat miskin yang tak mampu ke rumah sakit dan tak terjangkau oleh layanan kesehatan lainnya menjadi alasan baginya untuk tetap bertahan menekuni pekerjaan itu. “Ada kepuasan tersendiri bila orang yang ditolong sembuh. Bahkan saya rela tidur di rumah pasien menunggu sampai pasien sembuh”, ia menambahkan, “Mungkin kalau saya pindah ke darat, saya tidak dibutuhkan seperti kalau di Pulau. Karena itu, saya ingin tetap di Pulau,” kata Rabi’ah.

Duh, malunya diri mengenang sosok tangguh ini. Sesusah-susahnya kerja di Kemenkeu, rasanya tidak pernah ada kondisi separah seperti yang dihadapi Ibu Rabi’ah. Bahkan, suatu kali ia pernah mengalami kecelakaan ditengah laut. Kapalnya pecah diterjang ombak besar, ia pun terdampar di karang selama tujuh hari sebelum diselamatkan oleh seorang nelayan. Luar biasa. Ia memiliki mentalitas yang sulit dicari padanannya.

Bekerja tanpa pusing memikirkan fasilitas, gaji, sarana dan prasarana, karier, jam kerja maupun kejelasan SOP dan tanggung jawabnya. Wajar jika kemudian banyak penghargaan tersemat untuknya. Lebih dari itu, ia punya ribuan cinta dari penduduk pulau yang dilayani. Belum lagi, insya Allah, pahala dan amal shalih yang kelak akan menjadi sandaran di akhiratnya.

Sahabat…
Tolong cerita ini jangan diartikan bahwa saya selalu bisa menerima apa pun, dengan pasrah, situasi yang terjadi di Kemenkeu kini dan mendorong Anda untuk bersikap serupa. Menerima apa pun yang terjadi tanpa pembenahan. Tentu kita menginginkan arah perubahan yang bisa memastikan semua bergerak kearah perbaikan yang positif. Apa pun kondisi yang tengah terjadi itu. Hanya saja, saya ingin mengingatkan diri sendiri, mudah-mudahan Sahabatpun tergerak pula, ada pula yang harus kita bangun dalam diri. Diantaranya adalah etos kerja..,. semangat pengabdian…, dan rasa syukur.

Setidaknya hal itu, yang saya yakini, harus kita tanam melalui afirmasi terus menerus ke dalam pikiran kita. Memang kita punya banyak alasan untuk tidak puas, namun bukan itu yang kita butuhkan saat ini. Kita butuh solusi, ketika belum ada perbaikan seperti yang kita inginkan. Salah satu solusi itu adalah penyikapan yang benar atas masalah yang ada. Agar kita tidak dikenal sebagai pribadi yang berisik, namun minim kontribusi.

Jack Canfield dan Mark Hansen dalam Aladdin Factor merilis hasil sebuah riset. Kata riset tersebut, “Setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran. Satu-satunya yang dibutuhkan oleh pikiran itu adalah pengarahan. Jika arah yang ditentukan bersifat positif maka sekitar 60.000 pikiran akan keluar dari memori otak ke arah positif. Demikian pula sebaliknya.”

Jadi, janganlah larut dalam pikiran yang tak bermanfaat apalagi hanya mendramatisir masalah yang sama sekali tak menyelesaikan masalah. Sayangnya, kebanyakan kita gemar melakukan hal tersebut. Riset dari fakultas kedokteran di San Fransisko menyatakan bahwa 80% pikiran manusia bersifat negatif. Bisa dibayangkan jika setiap hari kita memproduksi 60.000 pikiran dan 80% darinya bersifat negatif, berarti setiap hari kita memproduksi 48.000 pikiran-pikiran negatif.

Duh, alangkah capeknya! Hidup kita terlalu indah jika harus ditukar dengan kesengsaraan semacam itu, Sobat…

Salam cinta selalu untuk Anda…,
Sampurna Budi Utama

Posted in Motivasi | Tagged , | Leave a comment

Jangan Pernah Abai Mengasah Kapakmu

Masih ingat cerita tentang “mengasah kapak” yang saya kutip dari Covey, Sahabat?
Senada dengan itu, kali ini saya teringat dengan cerita dari Thomas B. Welch Jr tentang efek dari pemanfaatan waktu senggang… tentu dengan modifikasi ala Sampurna😀

Selamat menikmati…

***

“Ada dua lelaki yang sedang membelah kayu sepanjang hari. Seorang dari mereka, terus bekerja tanpa berhenti untuk beristirahat. Sedang kawannya, memilih untuk mengambil waktu istirahat beberapa kali. Ia memilih untuk bekerja 50 menit kemudian beristirahat selama 10 menit.

Pada akhir dari hari kerja, lelaki yang bekerja tanpa henti itu memperoleh setumpukan kayu bakar yang lumayan banyaknya. Tak disangka, lelaki kawannya yang banyak mengambil kesempatan beristirahat itu justru malah mendapatkan lebih banyak tumpukan kayu dibanding dirinya.

mengasah-kapakHeran dengan perbedaan hasil perolehan mereka, lelaki itu bertanya, “Bagaimana mungkin Engkau bisa menghasilkan kayu yang lebih banyak, sedangkan Engkau kulihat sebentar-sebentar berhenti dari membelah kayu?”

Sembari tersenyum, lelaki itu berujar singkat, “Kawan, tatkala aku beristirahat aku tak pernah melewatkan waktu untuk mengasah kapakku!”

***

Sahabat,…
Seringkali kita terpukau melihat staf yang bekerja sepanjang waktu yang ia miliki. Dengan penuh keseriusan ia menekuni pekerjaan itu. Begitulah hari demi hari dilalui, ia bekerja dan terus bekerja, dan kita pun jatuh hati mengagumi etos kerjanya.

Namun, Sahabat, cobalah perhatikan apa akan yang terjadi jika ia melupakan prinsip penting yang tidak boleh dilupakan dalam dunia kerja: “mengasah kapak”. Ya, pengabaian atas peningkatan dan penguatan kompetensi adalah tindakan bunuh diri. Kecemerlangan kinerja pun akan cepat memudar, seiring dengan munculnya tantangan-tantangan baru dan perubahan situasi yang terjadi.

Karenanya, Sahabat, jangan biarkan pesonanya memudar karena keterpukauan kita atas kontribusinya saat ini. Berikan ia waktu sejenak untuk “beristirahat”, biarkan ia mengasah “kapaknya” agar kembali tajam.

Semoga bermanfaat… Salam Cinta I Kerja I Harmoni.

 

Posted in Leadership | Tagged , , | Leave a comment

Membangun Kepercayaan, Membangun Integritas

Apa kabar hari ini, Sahabat?…
Semoga menjadi hari yang indah dan menyegarkan. Hari yang akan memompa energi kita untuk terus berkarya di waktu-waktu yang akan datang. Ijinkan, siang di hari Jum’at  ini, saya berbagi pengalaman yang pernah dituliskan oleh John C. Maxwell tentang membangun kepercayaan yang saya kutip dari bukunya “Developing the Leaders Around You”. Begini, tulis beliau….

***
Kepercayaan adalah faktor penting dalam hubungan pribadi dan profesional. Wareen Bennis dan Burt Nanus menyebut kepercayaan sebagai ‘perekat pengikut dan pemimpin”. Kepercayaan melibatkan akuntabilitas, dan keadaan yang dapat diperkirakan serta dipercaya. Pengikut ingin dipercaya dan mempercayai pemimpin mereka. Mereka ingin berkata, “Kelak saya ingin jadi seperti dia”. Orang harus percaya pada Anda terlebih dahulu sebelum mengikuti kepemimpinan Anda.

Kepercayaan harus dibangun dari hari ke hari. Itulah konsistensi. Pemimpin bisa mengkhianati kepercayaan dengan: tidak tepat janji, bergosip, tidak transparan, dan bermuka dua. Semua itu menghancurkan kepercayaan yang dibutuhkan bagi pertumbuhannya. Dengan begitu, ia harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkannya kembali.

kepercayaanOrang tidak mau mengikuti pemimpin yang tidak bisa dipercayai. Pemimpin bertanggung jawab mengembangkan kepercayaan terhadap dirinya secara aktif dari orang-orang sekitarnya, yang di bangun diatas:

T- Time (waktu). Sediakan waktu untuk mendengarkan dan memberi umpan balik mengenai hasil kerja.
R- Respect ( rasa hormat). Tunjukkan rasa hormat Anda pada seseorang dan ia akan mengembalikannya dengan kepercayaan.
U- Unconditional Positive Regard (penghormatan tanpa syarat). Tunjukkan penerimaan atas orang itu.
S- Sensitivity (kepekaan). Antisipasi perasaaan dan kebutuhan pemimpin potensial.
T- Touch (sentuhan). Berikan dorongan-jabat tangan, saling memberi selamat dengan saling menepuk telapak tangan, atau tepukan di punggung.

Begitu orang mempercayai pemimpin mereka sebagai pribadi, mereka akan menaruh kepercayaan terhadap kepemimpinannya.

***

Sahabat,…
Hari ini, maupun hari-hari yang lalu dan yang akan menjelang, saya sadar betapa banyak orang-orang yang masih belum mempercayai saya dalam banyak aspek kehidupan. Itu wajar. Yang terpenting, saya ingin mendapat banyak kepercayaan dari banyak pihak. Sungguh, nasehat dan saran Maxwell itu bagi saya sangat layak untuk diperhatikan. Dan saya berkomitmen untuk menerapkannya sejauh yang saya mampu. How about You? Will You? …

Semoga bermanfaat. Salam Cinta I Kerja I Harmoni.

Posted in Leadership | Tagged , | Leave a comment

KETEGARAN RUMAH TANGGA

Sahabat,…

Ijinkan kali ini tulisannya agak berbeda. Didedikasikan kepada para jomblo yang selesai Ujian Akhir Semester di tingkat terakhir bangku kuliah, sebentar lagi wisuda dan mulai mikir soal.. #eaa… Nikmati sajalah… ngapain berlama-lama😀.

***

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang-orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintahnya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. 2:221).

Kita telah memahami bahwa hanya rumah tangga yang benar-benar berdiri di atas landasan keimananlah rumah tangga yang bisa menikmati kebahagiaan. Ini dapat kita buktikan dalam kehidupan nyata. Secara manusiawi, seorang isteri yang ditinggal suaminya pasti akan merasa menderita. Apalagi kalau ditinggal selama bertahun-tahun, ada yang 10 tahun, 12 tahun, bahkan ada yang 20 tahun. Mujahidin-mujahidin dan du’at ilallah yang sekarang ada di sebuah alam Islami, isterinya ditinggal selama sekian tahun, sehingga kadang-kadang anaknya pun tidak kenal dengan bapaknya, karena bapaknya dipenjara dalam rangka memperjuangkan Islam.

Kalau isterinya ketika menikah dengan suaminya bukan dilandaskan atas dasar keimanan, jihad dan da’wah di jalan Allah, tentu ia akan minta agar diceraikan saja. Akan tetapi karena landasan rumah tangganya adalah keimanan, sang isteri tetap rela menunggu sampai suamiya keluar dari penjara. Dan ketika sang suami keluar dari penjara, ia bukan kemudian santai, tetapi tetap berjihad di jalan Allah SWT, karena dalam hidupnya yang ada hanyalah da’wah dan da’wah. Ini adalah satu hal yang patut untuk kita renungkan. Kita harus bertanya kepada diri kita, laa qodrollah (semoga Allah tidak mentakdirkan), seandainya diantara kita nanti ada yang harus merasakan kehidupan dalam penjara karena rekayasa thoghut, sudahkah kita dan keluarga kita siap menghadapinya ? Siapkan isteri kita selama sekian tahun mendidik anak kita dengan pendidikan yang Islami tanpa kita ada disampingnya ? Atau akan berantakan anak kita karena ketidaksanggupan isteri kita dalam memberikan tarbiyah yang Islami ? Mari kita perhatikan hal ini.

Kalau kita meneriakkan reformasi, yang mula-mula harus kita reformasi adalah keluarga kita sendiri. Sudahkah rumah tangga kita berdiri di atas dasar keimanan ? Ini bukan berarti kita mengharap-harap ujian Allah, karena tidak boleh kita mengharap ujian dari Allah SWT. ‘Jangan kamu mengharap bertemu dengan musuh, tetapi kalau kamu sudah bertemu dengan musuh, fatsbutu (harus tetap tegar)’.

Kita tidak mengharap ujian Allah berupa dipenjaranya kita. Akan tetapi sudah siapkah keluarga kita jika seandainya kita diuji Allah demikian ? Kadang-kadang isteri kita itu kita tinggal sehari dua hari saja sudah rewel. Kalau kita bandingkan dengan isteri-isteri para du’at ilallah di bumi Allah sana, yang ditinggal selama 10 tahun, atau 15 tahun, tidak mengeluh, apakah keluarga kita juga sudah sesiap itu ? Padahal ketika suaminya keluar dari penjara, langsung da’wah dan da’wah, langsung jihad dan jihad. Begitu jihad ditangkap lagi dan dipenjara lagi. Namun demikian isterinya tidak minta cerai.

untukmuKeluarga yang solid semacam ini tidak hanya terjadi pada kehidupan Rasulullah dan para shohabat saja. Kalau diberikan contoh dengan kehidupan Rasululllah SAW dan para shohabat, sebagian orang mengatakan “ Ya.. itu kan Rasul, tentu saja bisa”. Contoh yang sekarang kita angkat ini terjadi sekarang dan orangnya masih hidup di sebuah bumi Islam. Ketegaran semacam ini bisa diwujudkan karena pernikahannya benar-benar mabniyyun ‘alal iimaan (dibangun di atas dasar keimanan). Makanya sekali lagi, penikahan jangan hanya dianggap sebagai sekedar pemenuhan selera pribadi. Kita tidak dilarang mempunyai selera pribadi, tetapi selera kita itu hendaknya kita sesuaikan dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam hadist dengan jelas dikatakan “Laa yu’minu ahadukum hatta yakuuna hawaahu tab’a bimaa ji’tu bihi (seseorang diantara kamu tidak beriman, sehingga menjadikan hawa nafsu atau seleranya, mengikuti apa yang aku bawa, yaitu Al-Islam). Jadi keimanan bukan hanya sekedar untuk diucapkan, tetapi harus dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Masalah penikahan ini adalah masalah yang asasi (prinsip) dalam Islam. Ketika Islam menghendaki menuntut tegaknya sebuah masyarakat Islam, itu tidak mungkin bisa terjadi kalau rumah tangga-rumah tangga yang ada bukan rumah tangga yang Islami.

“Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.

Jadi masalah pernikahan itu merupakan ayatum min ayatillah. Pernikahan adalah sesuatu yang unik. Ada orang yang sebelum menikah tidak saling mengenal sama sekali, kadang-kadang sebagian orang bahkan hanya mengenal calon isterinya lewat sebuah foto saja, dan oleh Ustadznya dijelaskan bahwa ia sholeh atau sholehah, mereka kemudian bisa bersatu dalam satu rumah tangga yang Islami. Dan pasangan yang seperti ini bisa saling mencintai.Darimana cintanya ? Tidak ada yang bisa membuat seperti ini, kecuali made in Robbani. Jadi kalau ada orang yang menganggap bahwa pacaran sebelum nikah adalah hal yang penting, patut dipertanyakan. Banyak orang yang pacarannya dua atau tiga tahun, tetapi setelah menikah malah sering ribut dan saling menjelek-jelekkan, karena dulunya sama-sama hidup dengan warna jahiliyah. Kalau antara suami dan isteri dulunya sama-sama rusak, setelah berumah tangga akan saling membongkar kejahiliyahannya masing-masing. Akibatnya pasangan yang seperti ini akan selalu tersiksa.

Perbuatan ma’shiyat itu pada dasarnya akan menyiksa pelakunya sendiri, karena suatu perbuatan ma’shiyat akan membuat trauma pelakunya. Di sinilah makanya Islam memberikan tuntunan dalam melaksanakan kehidupan, supaya kita bersih dari perbuatan ma’shiyat, termasuk dalam pembentukan rumah tangga. Inilah rahasianya mengapa ketika Allah mengangkat Muhammad SAW sebagai Rasul, beliau dijaga agar sejak kecil menjadi orang yang bersih. Bersih akhlaqnya, bersih pergaulannya, dan sebagainya, sehingga ketika menjadi seorang Rasul bisa melaksanakan perintah-perintah Allah dengan sempurna dan tidak menjadi cemoohan masyarakat.

Hukum masyarakat seringkali terasa lebih keras daripada hukum yang berlaku secara formal. Ketika ada seorang pemuda yang dulunya jahiliyah kemudian aktif berda’wah, masyarakat masih berkata “Ah sekarang saja dia begitu. Dulunya seorang preman dia itu”. Jadi masyarakat seringkali masih saja mengingat masa lalu seseorang walaupun orang tersebut sudah berubah perilakunya. Oleh karena itu Islam benar-benar menjaga agar kita tidak mudah berbuat ma’shiyat, terutama dalam pembentukan rumah tangga. Jadi penikahan merupakan ayatum min ayatillah (ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah SWT). Oleh karena itu dalam masalah pernikahan ini hendaknya kita benar-benar memperhatikan aturan Allah dengan perhatian yang bersih yang penuh dengan qudroh imaniyah (keimanan kepada Allah).

Masalah pernikahan itu tidak hanya sekedar kepentingan individu. Diantaranya buktinya adalah bahwa Rasulullah SAW selalu memutaba’ahi (mengontrol) para shohabatnya yang akan menikah. Ketika ada seorang shohabat yang akan menikah dengan seorang wanita Anshor, Rasulullah bertanya “Calon isterimu wanita Anshor?” Shohabat itu membenarkan. Kemudian Rasulullah mengatakan “Lihat dulu, dimatanya si wanita Anshor itu ada sesuatu”. Perkataan Rasulullah SAW ini menunjukkan besarnya perhatian beliau atas pernikahan para shohabatnya.

Jadi seorang laki-laki boleh melihat calon isterinya, sebelum ia memutuskan untuk menikahinya. Ini untuk menghindari agar jangan sampai ada sesuatu yang disembunyikan, sehingga menimbulkan kekecewaan di belakang hariJadi seorang qoid (pemimpin) itu senantiasa mengontrol para jundinya, agar selalu berada pada jalan yang diridloi Allah SWT. Hatta dalam masalah pernikahan pun, Rasulullah tidak membiarkan masyarakatnya untuk diperbudak hawa nafsunya. Dan hubungan antara Rasulullah dengan para shohabat yang seperti ini, terbukti telah menghasilkan sebuah generasi yang terbaik. Jika kita menghendaki masyarakat yang seperti itu bisa terwujud dalam masyarakat kita, tidak ada hal yang harus kita pilih kecuali meneladani Rasulullah dalam segala hal, termasuk dalam masalah pernikahan ini.

Posted in Taddabur Al Qur'an | Tagged , , | Leave a comment

Apakah Sukses Sebuah Kebetulan?

Tulisan yang bagus. Semoga membawa kemanfaatan, Sahabat…

***

Saya cukup yakin kita semua sudah sering dengar nasihat entah dari orang tua, guru, atau dari orang-orang yang lebih tua dan berpengalaman dari kita, bahwa untuk mencapai sebuah kesuksesan itu perlu kerja keras dan harus pantang menyerah.

Tapi, apakah kalau kita sudah kerja keras dan memiliki karakter pantang menyerah lantas kita pasti sukses? Jawabannya, “Tidak.” Tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mutlak. Tidak ada satu pun cara jitu untuk sukses. Meski ada puluhan atau bahkan ratusan buku yang “menjanjikan” kesuksesan dengan instan, tidak ada satu pun yang berani menjamin pembacanya akan sukses setelah membaca buku tersebut sampai habis.

Begitu juga seminar-seminar motivasi dengan tema yang fantastis, sang penyelenggara juga pasti tidak akan berani untuk menjanjikan apa-apa. Lalu, bagaimana supaya kita bisa mencapai kesuksesan di dalam hidup ini? Apa yang kita perlukan selain kerja keras dan pantang menyerah? Kita perlu yang namanya faktor keberuntungan. Mungkin ada ribuan contoh nyata yang menggambarkan betapa kerasnya usaha yang telah dilakukan, dan dengan pantang menyerah, namun mereka belum juga sukses. Biasanya, kalau hal ini terjadi pada teman kita, kita akan bilang, “Sabar.

Dewi Fortuna (keberuntungan) belum menghampiri saja. Usaha lagi ya.” Nah, pertanyaannya: Bagaimana kita bisa mengatur keberuntungan kita? Apakah keberuntungan bisa diatur? Ada yang berpendapat keberuntungan itu tidak bisa diatur, tapi ada juga yang bilang bahwa keberuntungan itu bisa dipengaruhi. Maksudnya apa? Pernah dengar quote terkenal dari Oprah Winfrey yang mengadopsi quote dari Seneca, seorang filsuf Roman abad pertama, “Luck is when opportunity meets preparation”? Saya setuju dengan pernyataan ini.

Covey-QuotesKarena memang pada kenyataannya, sering kali mereka yang “siap” yang akan mendapatkan kesempatan. Siap dalam arti apa? Siap di sini meliputi kesiapan ilmu, kesiapan mental, dan kesiapan wawasan. Jangan heran, kalau karena kesiapannya inilah yang membuat seseorang bisa melihat kesempatan, atau yang lebih kita sering juga sebut sebagai peluang. Nah, biasanya ketika seseorang berhasil mengambil peluang yang ada, saat itulah dia dianggap beruntung (lucky).

Padahal, apakah dia berhasil hanya karena dia beruntung? Atau, karena sesungguhnya dia memang siap ilmu, siap mental, memiliki wawasan yang luas, dan mampu melihat peluang serta cekatan dalam mengambil peluang tersebut? Buat mereka yang tidak terlatih melihat peluang (tidak siap) ya jelas saja tidak akan tahu bahwa ada peluang. Dan saat inilah yang sering dikatakan orang, “Anda belum beruntung.

” Padahal, apakah ini hanya karena faktor keberuntungannya yang tidak memihak dia, atau karena dia memang tidak siap? Lalu, kenapa judul tulisan ini “(Apakah) Sukses Sebuah Kebetulan?” Saya telah berbincang dengan kurang lebih 200 CEO, direktur, maupun general manager di program radio maupun di program TV “Young On Top”. Dan, hampir seluruhnya, ketika saya tanya, “Apa yang membuat Anda bisa sukses seperti sekarang?”, jawaban mereka, “Ah, saya beruntung.

” Menurut saya, sukses itu bukan sebuah keberuntungan, bukan sebuah kebetulan. Tapi apakah ada faktor keberuntungan di dalam sebuah kesuksesan seseorang? Jawabannya, “Tentu!” Lalu, kenapa orang-orang sukses selalu mengatakan bahwa mereka beruntung? Menurut saya, yang pasti karena mereka sadar bahwa faktor keberuntungan itu ada di dalam perjalanan mereka dalam menuju kesuksesan, dan mereka tidak mau sesumbar bahwa semua kesuksesannya secara keseluruhan adalah hasil kerja kerasnya semata.

Sejujurnya, ketika karier saya melejit layaknya sebuah roket, saya sempat berpikir bahwa semua kesuksesan yang saya dapatkan adalah 100% karena kerja keras saya. Namun semakin saya merenung dan menganalisis apa yang saya lalui, saya semakin sadar bahwa memang faktor keberuntungan itu ada di sepanjang perjalanan karier saya. Kalau saya tidak memiliki orang tua yang pengertian dan mampu mengarahkan saya, mungkin saya tidak akan memiliki karakter yang baik.

Kalau saya tidak memiliki kesempatan sekolah di luar negeri hingga S-2 mungkin saya tidak memiliki pola pikir yang terbuka. Kalau di pekerjaan pertama, saya tidak memiliki atasan yang baik, mungkin saya tidak belajar sebanyak yang saya dapatkan kala itu. Dan, masih ada ribuan keberuntungan lainnya. Terlepas dari faktor keberuntungan itu benar ada, saya tetap berpendirian bahwa faktor keberuntungan itu tidak bisa sepenuhnya kita kontrol.

Kalau kita “siap”, kita punya kesempatan untuk beruntung. Ini sudah kita bahas di atas. Tapi, kalau kita siap, apakah kita pasti beruntung, kanjelas tidak. Jadi, karena keberuntungan itu tidak bisa kita atur, maka saya selalu bilang: Tidak usah pusingin apa yang tidak bisa kita kontrol, fokus saja ke apa yang bisa kita lakukan. Tidak bisa dipungkiri, banyak juga orang yang kaya karena pure luck, entah karena menang lotre, atau dapat hibah dari orang tua.

Pertanyaannya: Pernah dengar cerita di mana mereka yang kaya namun tidak siap secara mental, uangnya habis juga pada akhirnya? Kalau ini yang terjadi, apakah bisa dibilang mereka sukses? Ingat, apa yang didapat dengan mudah, juga akan hilang dengan mudah. Kenapa? Karena secara psikologis, manusia akan kurang menghargai apa yang dia dapatkan dengan mudah (tanpa kerja keras). Kalau bahasa Inggrisnya: Easy come, easy go. Menjadi kaya, bisa karena kebetulan. Kalau menjadi sukses, saya rasa tidak ada yang kebetulan. Mau sukses? Tidak ada jalan lain kecuali dengan berusaha keras dan pantang menyerah. See you ON TOP! 

Billy Boen ;  CEO PT YOT Nusantara; Director PT Jakarta International Management

Posted in Motivasi | Tagged , | Leave a comment