Love… make us stronger.

“If you want your followers to have Loyality, Obedient, Values and Emphaty, you must lead them with love cause love is a key word that can links all of the characters. To be success in doing that, you must able to touch their heart “.

Sahabat,
Seringkali kita menemukan para leader yang tidak memberi perhatian para bawahannya secara personal. Bahkan tidak jarang kita menemukan sebuah paradigma bahwa semestinya harus dibuat jarak yang tegas antara leader dan followers-nya. Semakin berjarak dan formal hubungan yang terjadi, akan semakin baik. Tidak jarang pula kita temui cara mengelola bawahan yang mengartikan sikap tegas identik dengan kemarahan dan sekat-sekat kekakuan hubungan. Management by angry, demikian sebutan orang. Produktif-kah cara pandang ini? belum tentu.

Para pemimpin yang sukses senantiasa mempunyai ekspektasi yang tinggi terhadap diri sendiri maupun kepada pengikutnya. Namun perlu pula diingat bahwa bawahan pun memiliki harapan yang sama terhadap pemimpinnya.

Ketika seorang pemimpin memandang bawahannya tak ubahnya hanya sekedar alat produksi dalam mencapai tujuan institusi serta menghilangkan sisi-sisi humanisme. Jangan salahkan jika bawahan akan memiliki cara pandang serupa terhadap atasannya.

Saya kok sangat yakin, bahwa kinerja institusi tersebut dengan mudah dapat ditebak akan berkinerja rendah. Kalaupun ada capaian kinerja yang bagus, saya juga sangat yakin bahwa sifatnya hanya temporer. Kinerja yang bagus tersebut tidak terjadi secara berkesinambungan dan dalam jangka panjang.

Lain halnya, jika seorang pemimpin mengikut sertakan sisi humanisme dalam berhubungan dengan bawahannya. Misalnya, seorang pemimpin yang memperlakukan bawahan dengan cara yang dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Merasa dihargai dapat meningkatkan harga diri seseorang yang pada gilirannya dapat menumbuhkan keyakinan untuk melakukan sesuatu melebihi apa yang pada awalnya mereka percayai dapat mereka lakukan.

Wajar jika kemudian Andris Ramans, seorang CEO Intuitive Surgical, mengatakan, “Apakah orang akan menghargai seorang rekan yang mengatakan “terima kasih” dan “Saya sangat senang karena Anda telah melakukan pekerjaan dengan sangat baik”? Saya membayangkan bagaimana perasaan saya jika mendengarnya – dan saya menyadari kehebatan dari mengakui dan menghargai orang lain.”

Kenapa ini saya angkat dalam tulisan ini, sahabat?
Sebab saya sangat ingat dalam suatu kesempatan makan siang di kelas DBK III kita, salah seorang peserta dari kelas sebelah dengan sangat yakin mengatakan bahwa untuk konteks Indonesia tidak ada cara yang lebih ampuh untuk membuat bawahan berkinerja kecuali dengan pendekatan stick and carrot.

Sahabat kita itu, kemudian menceritakan kepada saya apa yang sudah dilakukannya di kantor yang sekarang beliau pimpin berkaitan dengan hal itu. Saya dengan tekun mendengarkan, dan hanya mendengarkan dengan baik, sembari mencoba untuk membayangkan kira-kira seperti apa suasana kerja di kantor tersebut. Hmm, praktik kepemimpinan yang didominasi dengan pendekatan stick, batin saya.

Saya khawatir, dengan pendekatan seperti itu, ketika nanti beliau dimutasi ataupun sudah tidak berada dikantor itu lagi, kepergian itu akan dirayakan oleh bawahannya dengan menyembelih kambing dan memasak nasi tumpeng untuk syukuran….🙂. Bukankah kita sering mendengar cerita-cerita, bahkan mungkin pernah mengalami sendiri, kejadian seperti ini?

Padahal, kepemimpinan yang baik itu tercermin ketika ada rasa kehilangan yang dialami followers-nya ketika sang pemimpin sudah tidak disana lagi. Mereka ada di hati followers-nya. Dalam banyak kasus, kelebihan dari praktik-praktik kepemimpinannya malah baru disadari jauh setelah sang pemimpin sudah tidak bersama mereka lagi.

Tidak sulit kok, menjadi orang yang mendapat respek dari orang lain. Syaratnya, kita harus memulai memberi respek dulu kepada orang lain. Itulah sebabnya, kenapa saya selaku fasilitator DBK III selalu memaksakan diri untuk bisa menyambut bapak/ibu sekalian di depan pintu kelas sembari menyapa, berusaha berjabat tangan dan kalo memungkinkan mengantar bapak/ibu menempati meja dan kursi yang sudah disediakan …🙂.

Saya terinspirasi oleh kisah tentang Muhammad Ali. Suatu kali, Muhammad Ali berjalan-jalan di daerah kumuh di Distrik Harlem New York, diikuti para pengawalnya dan para wartawan. Ketika berjalan, Ali bertemu seorang gelandangan yang meminta sedekah darinya. Setelah meminta agar rombongannya menjauh, akhirnya Ali berjongkok dan bercakap-cakap dengan sang Pengemis. Setelah memberi uang, Ali pun berlalu meninggalkan daerah kumuh tersebut. Tidak jelas apa yang dikatakan Ali kepada gelandangan tersebut. Hal ini yang membuat penasaran para wartawan yang mengiringinya.

Seorang wartawan sengaja agak menjauh dari rombongan Ali. Dia bermaksud menanyakan apa saja yang dikatakan Ali kepada gelandangan tersebut. Ketika ditanya bagaimana pendapat gelandangan tersebut tentang sebutan “Ali the Greatest”, gelandangan tadi hanya mengatakan, ” Ali memang sangat hebat dan baik!”.

Ketika dikejar lagi oleh sang wartawan, mengapa dia bisa mengatakan demikian, apakah karena uang yang telah diberikannya? Pengemis itupun menggeleng kepala sambil berkata, “Bukan. Ali hanya bertanya kenapa saya terdampar di sini sebagai pengemis? Lalu saya menceritakan jalan hidup saya yang menderita ini. Ketika saya menceritakan kisah hidup saya, saya melihat mata Ali berkaca-kaca dan ada genangan air di pelupuk matanya. Dia memang hebat. Ketika aku menangis dihadapannya, dia menangis untukku!”.

Semoga bermanfaat, sahabat…

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s