Reformasi birokrasi membutuhkan kepemimpinan spiritual

Manusia 104 milyar, demikian salah satu stasiun televisi menjuluki Gayus Tambunan. Sungguh fenomenal memang. Seorang pegawai negeri golongan III/a dengan masa kerja yang terhitung relatif singkat mampu mengumpulkan aset sedemikian fantastis, hasil dari praktik pat-gulipat dengan wajib pajak yang ditanganinya.

Lebih menyesakkan lagi, praktik tersebut terkuak ditengah kampanye reformasi birokrasi yang digalakkan di lingkungan Kementerian Keuangan. Kerja keras dari Kementerian Keuangan untuk melakukan reformasi birokrasi melalui pilar-pilar penataan organisasi, penyempurnaan proses bisnis, peningkatan disiplin kerja dan manajemen sumber daya manusia, serta diikuti dengan perbaikan remunerasi, lenyap dalam sekejap.

Kegeraman masyarakat terhadap penyimpangan yang dilakukan Gayus dan komplotannya memunculkan kecaman publik yang sangat luas dan berdampak besar pada kondisi psikologis pegawai Kementerian Keuangan, terutama kepada pegawai Direktorat Jenderal Pajak.

Sebagian kalangan berpendapat bahwa praktik memalukan tersebut terjadi tidak terlepas dari lemahnya sistem nilai/value dan kepemimpinan di lingkungan tempat Gayus bekerja. Pengakuan Gayus bahwa praktik yang dilakukan adalah hal yang lazim dilakukan oleh rekan sejawatnya bahkan melibatkan atasannya, mengindikasikan betapa lemahnya sistem nilai/value yang dianut dalam hubungannya dengan pekerjaan.

Ada satu pelajaran penting dari  skandal tersebut yang layak kita perhatikan. Bahwa tidak ada satu pun organisasi yang eksis tanpa ada value/nilai yang secara kuat mendasarinya. Karenanya, value/nilai tersebut perlu dibangun dan dikembangkan.

Pengembangan nilai-nilai dalam organisasi  membutuhkan adanya model kepemimpinan yang tepat. Salah satu model yang tepat untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah kepemimpinan spiritual.

Model kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang mendasarkan tindakan dan perilaku kepemimpinan pada suara hati nurani sebagai pusat kendali diri. Dalam model ini, seorang pemimpin tidak hanya dituntut berpandangan visioner, namun juga harus memiliki sejumlah nilai yang meliputi kepekaan nurani, karakter yang kuat serta memiliki kekuatan untuk mengembangkan dan memobilisasi seluruh sumber daya dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

Dengan demikian, kepemimpinan spiritual adalah model kepemimpinan yang memadukan unsur cipta (pikir), karsa (keinginan/nafsu), karya (tindakan), dan rasa (hati nurani). Tanpa pelibatan unsur rasa (hati nurani), tindakan dalam mengoperasikan kepemimpinan akan kehilangan fungsi sebagai ‘pemberi arah yang baik’.

Dalam perspektif spiritual, fungsi kepemimpinan dalam organisasi diletakkan sebagai bagian dari cara untuk mewujudkan kebaikan dan reformasi dalam segala bidang kehidupan.

Para pakar manajemen, berkonsensus bahwa inti dari efektivitas proses kepemimpinan terletak pada pengaruh interaktif  antara pemimpin dan bawahannya. Kepemimpinan yang sukses adalah kepemimpinan yang mampu mempengaruhi perilaku individu-individu dalam organisasi untuk menunaikan tugasnya melalui arahan, petunjuk dan contoh perilaku pemimpin dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi.

Teori kepemimpinan kini telah berkembang dengan mengapresiasikan nilai-nilai kehidupan (values) dan kemanusiaan.

Dari sudut pandang spiritual, memobilisasi kekuatan manusia yang potensial dan memandu manusia di jalan kesempurnaan merupakan tugas sangat mulia yang tidak mudah untuk dilakukan. Dalam hal ini, Patricia Patton (dalam Pagu, 2002) menggemukakan pandangan yang sangat menarik, “It took a heart, soul and brains to lead a people…..”.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, menurut Pagu, seorang pemimpin haruslah memiliki perasaan, keutuhan jiwa dan kemampuan intelektual. Dengan perkataan lain, “modal” yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin tidak hanya intektualitas semata, namun harus didukung oleh kecerdasan emosional, serta komitmen pribadi dan integritas, sebagai bentuk kecerdasan spiritual  yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi berbagai tantangan.

Spiritualitas berbicara tentang interaksi jiwa (the soul) manusia pada dunia sekitar, sebagai bentuk respon yang memengaruhi perilaku manusia di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Spiritualitas bukanlah segalanya tentang agama. Spiritualitas adalah bagaimana melakukan segala sesuatu dengan usaha terbaik dalam kesempurnaan batin sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang diyakini, termasuk agama.

Spiritualitas membantu membangun karakter dalam diri sehingga mempengaruhi dalam pola kepemimpinan yang dijalankan. Kepemimpinan yang berbasis spiritualitas, bukanlah tentang kecerdasan dan keterampilan dalam memimpin belaka. Namun juga menjunjung nilai-nilai kebenaran, kejujuran, integritas, kredibilitas, kebijaksanaan, belas kasih, yang membentuk akhlak dan moral diri sendiri dan orang lain. Spiritual Leadership adalah kepemimpinan yang mengedepankan moralitas, kepekaan (sensitivitas), keseimbangan jiwa, kekayaan batin dan etika dalam berinteraksi dengan orang lain.

Seperti dikemukakan Ashmos dan Duchon (2002), spiritualitas di tempat kerja bukanlah agama atau pengganti agama. Bukan pula perihal mengajak orang untuk mengikuti sistem keyakinan tertentu. Spiritualitas di tempat kerja adalah mengenai pemahaman diri pegawai sebagai makhluk spiritual yang jiwanya memerlukan “makanan” di tempat kerja; mengenai pengalaman akan rasa bertujuan dan bermakna dalam pekerjaannya; dan juga tentang mengalami perasaan saling terhubung dengan orang lain dan dengan komunitasnya di tempat kerja.

Perkembangan spiritualitas di tempat kerja tidak dapat diharapkan berkembang sendiri tanpa adanya dukungan dari pimpinan. Itu sebabnya, wacana kepemimpinan spiritual menjadi penting untuk dikemukakan.

Sejak tahun 1980-an mulai terjadi pergeseran fokus dari teori kepemimpinan behavioral contingency, yang mempelajari perilaku pemimpin yang cocok dengan situasi tertentu, menuju kepemimpinan strategis yang menekankan visi, motivasi, dan pengendalian melalui nilai-nilai atau budaya di dalam organisasi, yang adaptif terhadap perubahan lingkungan organisasi. Pandangan terhadap kebutuhan akan perubahan model kepemimpinan ini dinyatakan oleh Louise W. Fry dalam tulisannya, toward a theory of spiritual leadership. (2003).

Pernyataan Fry ini didukung dengan maraknya penerbitan buku-buku teks kepemimpinan yang mengupas tentang kepemimpinan dan budaya organisasi, kepemimpinan perusahaan berdasarkan misi dan nilai-nilai, dan artikel-artikel tentang spiritualitas di tempat kerja dalam jurnal-jurnal bisnis/manajemen.

Dari berbagai penelitian diketahui bahwa pengembangan spiritualitas di tempat kerja berpengaruh positif terhadap sikap dan perilaku kerja para pegawai. Antara lain menyangkut kepuasan kerja, komitmen, motivasi, keterlibatan kerja, inovasi, dan produktivitas. Hal-hal tersebut sangat penting bagi efektivitas organisasi secara keseluruhan.

Bagi kita, isu mengenai spiritualitas di tempat kerja ini tentu sangat berarti. Hal ini dapat menjadi alternatif dari model birokrasi yang sudah terbukti tidak efektif. Birokrasi yang banyak diterapkan pada organisasi pemerintah cenderung berorientasi pada standardisasi, formalisasi, dan sentralisasi.

Model ini tidak cukup mampu mengantisipasi perubahan-perubahan dari lingkungan dan tidak mendukung kebermaknaan hidup. Banyak orang bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan status, bukan karena mencintai pekerjaan itu sendiri dan menemukan makna hidup melalui pekerjaannya.

Menurut Fry, kepemimpinan spiritual merupakan kumpulan nilai-nilai, sikap, dan perilaku yang diperlukan untuk memotivasi diri sendiri maupun orang lain secara intrinsik, sehingga masing-masing memiliki perasaan survival yang bersifat spiritual melalui keanggotaan dan keterpanggilan.

Manakala fungsi motivasi ini dapat bekerja dengan baik, setiap pegawai akan mengalami suatu perasaan terpanggil, suatu bentuk pengalaman transendens sehubungan dengan tugas/pekerjaan. Selain itu, setiap pegawai akan memiliki makna dalam hidupnya.

Melalui kepemimpinan spiritual, suatu budaya organisasi yang berdasarkan cinta altruistik (tanpa pamrih pribadi) akan terbentuk. Imbasnya, perilaku birokrasi yang rentan dengan budaya mencari untung (rent seeking behaviour) dapat dihilangkan.

Diharapkan, melalui penerapan kepemimpinan yang bercorak spiritual, pengembangan value/nilai untuk melengkapi reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Keuangan dapat berjalan dengan baik. Dampaknya, penyalahgunaan kewenangan sehubungan pelaksanaan pekerjaan dapat diminimalisir. Jangan pernah ada lagi, Gayus-Gayus baru yang menari ditengah himpitan kesulitan ekonomi yang mendera sebagian besar anak bangsa.

Sampurna Budi Utama, Ak., ME.

Referensi:

Ashmos and Duchon. Spirituality at Work: A Conceptualization and Measure. Journal of Management Inquiry. 2000.

Frey, Louis W. “Toward a Theory of  Spiritual Leadership” dalam The Leadership Quarterly, Volume 14, No. 6. Desember 2003.

Pagu, Johanes. EQ dalam Kepemimpinan. 1992. Situs: http://www.e-psikologi.com/wirausaha/eq.htm.

Zohar, Danah and Marshall, Ian. Spiritual Intellegence: SQ the ultimate intelligence. London. Bloomsburry Publishing. 2001.

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Reformasi birokrasi membutuhkan kepemimpinan spiritual

  1. nobody says:

    Kekuatan FreeMason Yahudi bermain di balik masalah Gayus dll.?
    Semua orang sepertinya berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utamanya tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada yang bisa menangkap dan mengadili Gembong tersebut -di dunia ini- selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s