Pelajaran dari Pak Haji berprofesi Tukang Becak

Sahabat, apa kabar akhir pekan ini? Alhamdulillah, senang sekali mempunyai kesempatan untuk menyapa bapak/ibu sekalian diakhir pekan yang menyenangkan ini. Perkenankan hari ini saya berbagi kisah tentang seorang tukang becak yang berhasil menunaikan ibadah haji di tahun ini. Mudah-mudahan menjadi pembelajaran yang bermanfaat…

Nama aslinya pak Muthalib. Di kota Pekalongan, bapak yang berprofesi sebagai tukang becak ini lebih populer dikenal dengan nama panggilan pak Carub. Tahun ini beliau berkesempatan untuk menunaikan impian sepanjang hidupnya, pergi ke Baitullah memenuhi panggilan Allah untuk beribadah haji. Sungguh luaaaar biasa!!!Bahwa haji adalah ibadah yang sangat berat, semua orang yang pernah menunaikannya akan mengakui itu. Dibutuhkan kekuatan fisik yang prima untuk dapat melaksanakan semua rukun maupun amaliah lainnya dengan sempurna. Di titik ini, saya menyaksikan dan mendengar banyak jama’ah yang gagal berhaji dengan sempurna.

Lalu apa hebatnya dengan pak Carub?

Dari sisi fisik, tentu saja tantangan tersebut bukanlah suatu masalah. Profesi beliau sehari-hari memang menuntut dan membuat kekuatan fisik menjadi prima. Masalahnya, ibadah Haji memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tiga puluhan juta harus disediakan untuk bisa berangkat haji. Tiga puluhan juta tentulah jumlah yang fantastis bagi seorang tukang becak. So, mana mungkin ada tukang becak yang sanggup berhaji.

Ah,…

Pastilah beliau bisa karena mendapatkan hadiah untuk pergi Haji. Atau, pastilah ada dermawan ataupun pihak lain yang mensponsori kepergian beliau ke Baitullah. Mungkin begitulah dugaan yang ber-“sliweran” di benak sahabat ketika membaca judul postingan ini.

Tidak, sahabat.

Beliau pergi menunaikan panggilan Tuhan-nya dengan biaya sendiri! Ya, biaya sendiri hasil dari pendapatan harian yang beliau tabung. Ah, mana mungkin. Berapa banyak sih penghasilan seorang tukang becak? Pas-pasan, bukan? untuk makan saja susah. Lalu, mana mungkin bisa pergi haji dengan biaya sendiri….

Inilah pelajaran leadership yang bisa kita petik dari pak Carub, Sahabat.

Bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika kita sudah yakini dan tekadkan untuk diwujudkan. Nothing is impossible!

Rahasianya adalah niat yang sudah tertanam dan menghunjam memenuhi lubuk dan gelora hati. Ketika niat sudah bercampur dengan ikatan emosi, ia akan melahirkan erupsi berupa tekad yang tidak mudah digoyahkan. Gelora hasrat untuk memenuhi panggilan Tuhannya adalah sumber motivasi pak Carub. Itulah, rahasia pertama pak Carub. Napoleon Hill, dalam buku think and grow rich, mengatakan: ” Hasrat (passion) adalah rahasia mengapa seseorang bisa mendapatkan/mewujudkan impian mereka.”

Kedua, ada impian yang melekat dalam benak pak Carub. Mimpi untuk berhaji! Hasrat tidak akan meletu-letup jika gambaran tentang mimpi saja kita tidak punya. Oleh karena itu, bermimpilah. Selanjutnya, visualisasikan gambaran dalam mimpi-mimpi kita itu. Visualisasi adalah pengikat antara pikiran dan impian kita. Visualisasi akan memperkuat dan menghidupkan hasrat dalam diri kita. Lakukan apa pun yang memungkinkan gambaran tentang mimpi kita itu bisa menjadi hidup dan menari-nari dalam benak kita. Visualisasi lewat gambar, film atau media apapun akan sangat bermanfaat.

Rahasia ketiga adalah ber-ikhtiar secara konsisten.

Bermimpi dan melakukan visualisasi tidaklah cukup. Hanya akan ada di atas kertas. Maka, wujudkanlah! Lakukan ikhtiar, biarpun setapak demi setapak asal konsisten. Tengoklah apa yang dilakukan pak Carub selama 25 tahu terakhir. Beliau menabung secara harian. Beliau sisihkan dari penghasilannya sebagai tukang becak, berapa pun jumlahnya untuk ditabung. Kadang seribu rupiah, kadang lima ribu lain hari sepuluh ribu rupiah. Konsisten selama 25 lima tahun. So, the dream comes true…

Mari kita hitung. Andaikan beliau menabung lima ribu sehari. Sebulan akan terkumpul Rp. 150.000,00. Dalam setahun, jumlah itu menjadi Rp. 1.800.000,00. Maka, setelah dua puluh lima tahun, pak Carub sudah memiliki Rp. 45.000.000,00. Suatu jumlah yang cukup untuk membayar ONH biasa bahkan ONH semi-plus! That is.

Nah, kebaikan dalam konteks apapun yang kita ingin kita lakukan sesungguhnya sangat realistis untuk dapat kita wujudkan. Kinerja individual maupun kinerja kantor setinggi apapun sebenarnya bukanlah hal yang mustahil untuk kita raih. Mungkin kita perlu belajar dari pak Carub, seorang tukang becak dari Pekalongan.

Jika Beliau bisa membuat karya yang monumental, kita pun pasti bisa!

Selamat berkarya, Sahabat… Kementerian Keuangan dan negeri ini menanti karya monumental kita!

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s