Sang Pendaki…

Sahabat, apa kabar hari ini?
Maafkan saya jika beberapa hari ini saya gagal memenuhi komitmen saya untuk menyapa bapak/ibu semua setiap hari melalui postingan-postingan yang barang kali akan membawa kemanfaatan bagi kita semua. 

Sesungguhnya banyak yang ingin ditulis dan diungkap, apa daya alasan klise kesibukan menjadi penghalang untuk sementara. Saya jadi ingat salah satu nasehat dari seorang ulama panutan yang sangat saya kagumi bahwa :”Ya, kewajiban kita memang jauh lebih banyak dibandingkan dengan waktu yang kita punyai”.

Sahabat,
Beberapa hari ini saya sering merasa sedih dan terkadang muncul rasa agak frustasi. Masalahnya sepele, banyak dinamika pekerjaan yang sesungguhnya menantang dan dapat menumbuhkan karya-karya yang jauh lebih bermanfaat daripada yang dikerjakan sekarang namun sayangnya tidak disikapi secara positif. Sebagai contoh, kebersamaan kita di DBK III selama ini, diakui atau tidak, telah membuka wawasan kita tentang banyak hal yang semestinya harus kita lakukan agar kita bisa menjadi lebih baik lagi.

Seperti biasa, setiap ada keinginan mesti ada usaha nyata untuk mewujudkannya. Pada bagian terakhir inilah, masalah timbul. Alih-alih tantangan yang ada akan disikapi sebagai pendorong dan penggerak kita untuk berbuat. Sayangnya, respon yang ditunjukkan lebih mengarah kepada resistensi.

Lebih menyedihkan lagi, karena resistensi yang timbul lebih dominan didorong oleh sikap mental tidak mau repot! Argumentasi bisa beragam namun ujung-ujungnya memang sikap mental tidak mau susah-susah, apalagi menantang kesulitan yang jelas pasti ada dalam upaya mencapai sesuatu yang lebih baik lagi.

Sedih. Jika mentalitas itu ada di kalangan followers, itu mudah diatasi. Namun jika mentalitas itu membelenggu para leader?…. apa kata dunia?

Maafkan, sahabat.
Hari ini saya membebani bapak/ibu dengan cerita sedih ini. Mestinya saya harus mengalirkan energi positif dan elan vital yang mampu membakar motivasi berkinerja kita.

Namun, sesungguhnya cerita ini membawa kita pada banyak perenungan. Bahwa seorang pemimpin mestinya senang dengan tantangan dan bahkan selalu menetapkan tantangan baik untuk dirinya sendiri maupun institusi yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin sejatinya adalah seorang pendaki (climber) yang sangat tahu menata diri, mengukur perjalanan, dan menetapkan tujuan. Setiap kali puncak demi puncak bukit bahkan gunung kesulitan mampu ia daki, bertambahlah kebahagiannya. Dia akan mengatakan, “Inilah tujuan saya dalam bekerja. Bahagia, karena merasakan kebermaknaan ketika mampu membawa institusi dan orang-orang yang saya pimpin, berkinerja lebih dan lebih baik lagi. Mendaki satu pencapaian untuk terus bergerak ke arah pencapaian yang lebih tinggi lagi. Inilah makna kebahagian dalam bekerja!”

Pemimpin sejati bukanlah tipe manusia yang gampang menyerah. Mereka tidak ingin hidup hanya sebatas pajangan belaka. Karenanya, mereka berani menyibak belukar kesulitan dan mendaki gunung kemustahilan agar bisa meraih puncak-puncak kebahagian yang menjulang.

Sahabat,
Cukuplah bagi kita untuk merenungkan untaian indah kata-kata Grace Hopper berikut: “A Ship in port is safe, but this not what ships are built for!”. Ya, kapal di pelabuhan memang aman, tapi bukan untuk itu tujuan orang membuat kapal!

Jangan sampai lagi kita mendengar kritikan orang tentang pejabat-pejabat pemerintahan, you are lazy because you are a safety player…

Kita adalah leader. Seorang leader bukanlah safety player. Pemimpin sejati selalu rindu dengan tantangan dan menantang status quo…

Semoga bermanfaat, selamat berkarya…

(note: awalnya tulisan ini ditujukan untuk alumni Diklat Berbasis Kompetensi Leadership untuk eselon III Kemenkeu (DBK III). Siapa tahu berguna pula untuk pembaca di blog ini, semoga).

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Sang Pendaki…

  1. deden says:

    Wah keren Mas… Kata a ship in port is safe but this not what ships are built for…..

    Saya sering menjadi malas ketika berhadapan dengan hal-hal yang tidak nyaman (comfort zone). Setelah membaca tulisan ini. Ternyata saya harus terus mendaki, karena disanalah letak kebehagian itu….Thanks ya Mas

    • Sama-sama, mas Deden.
      Sesungguhnya, tantangan terbesar kita justru terletak dalam diri kita. Masalahnya ada di sini (dalam diri) bukan di luar sana. Sepanjang kita punya kemampuan adaptasi sehingga adaftif terhadap segala sesuatu. Sebagian besar masalah akan dapat kita selesaikan.

  2. sigit LP says:

    joss pak sam…🙂
    antara quiter, camper, dan climber…kita yang memang harus memilih.
    Sukses terus pak sam.

    sigit LP
    Penilai – IX

    • Nah…
      Rasanya akan sangat nikmat dan bermanfaat jika mas Sigit bersedia sharing tentang quiter dan camper menurut perspektif mas Sigit melalui forum ini. Akan terbayang nilai kemanfaatan yang dapat digali oleh pembaca-pembaca lain blog ini.

      Silahkan, mas…
      Ditunggu sharingnya. Jangan terbebani dengan kekhawatiran apakah opininya akan bagus atau tidak bagus, layak atau tidak layak… Karena kita semua sedang dalam taraf belajar dan terus menerus berusaha untuk belajar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s