Mereka adalah berlian yang tersembunyi…

Apa kabar hari ini, Bapak/Ibu sekalian?

Senang sekali di hari ini, Allah masih memberi kesempatan bagi kita untuk bersapa melalui forum ini. Mudah-mudahan kesempatan yang masih kita miliki hari ini membawa kesegaran dan gairah baru untuk kita semua.

Ada satu ungkapan yang pernah muncul di salah satu angkatan dalam DBK III yang membuat saya sering memikirkannya, pegawai lepehan. “Kantor saya dipenuhi oleh pegawai-pegawai “lepehan”, yaitu orang-orang buangan yang unit asalnya dengan senang hati melepas yang bersangkutan untuk bergabung dengan unit kami”, demikian kurang lebih sharing dari seorang sahabat Pejabat Eselon III Kemenkeu dalam salah satu diskusi kelas yang terjadi.

Sebelumnya, beberapa sahabat di angkatan yang berbeda mempermasalahkan alangkah sukarnya memiliki bawahan yang bisa dikatakan “kartu mati” alias useless karena rendahnya kompetensi yang dimiliki.

Saya memahami dan merasakan kegundahan dari sahabat-sahabat tersebut. Sangat wajar. Sebab, beban dan target kinerja yang sudah berat justru semakin dibebani dengan persoalan ini.

Saya memahami, sebab dalam kaca mata seorang manajer hal tersebut adalah problem. Pegawai seperti itu bagi seorang manajer adalah liabilities. Lalu bagaimana sebaiknya kita mensikapinya?

Jika kita menempatkan diri dalam posisi sebagai leader, kondisi tersebut justru mencerminkan tantangan bagi peran kepemimpinan kita. Tugas pemimpin adalah memberi motivasi, memberdayakan dan membangun potensi para bawahan sehingga mereka mampu melaksanakan tugas dan pekerjaan mereka dengan baik. Memang sulit. Namun, justru dari situasi seperti inilah nilai leadership seseorang akan diuji.

Dalam hal ini saya sepakat dengan pandangan Stephen R. Covey bahwa seorang pemimpin seharusnya: “…. don’t feel built up when they discover the weakness of others. They are not naive. They aware of weaknesses but they realize that behavior and potential are two different things. They believe in the unseen potential of all people. They feel grateful for their blessing and feel naturally to compassionately forgive and forget the offenses of other. They don’t carry grudges. They refuse to label other people, to stereotype, categorize, and prejudice. Rather, they see the oak tree in the acorn and understand the process of helping the acorn become a great oak… “.

Begitulah seharusnya prinsip dan sikap diri seorang pemimpin.

Mereka tidak merasa besar kepala bila menemukan kelemahan-kelemahan orang lain. Mereka tidak naif. Mereka sadar akan kelemahan. Namun, mereka menyadari bahwa perilaku dan potensi adalah dua hal yang berbeda. Mereka percaya pada potensi yang tersembunyi, yang dimiliki orang lain. Mereka mensyukuri kelebihan mereka dan merasa wajar untuk dengan ikhlas memaafkan dan melupakan kekasaran orang lain. Mereka tidak berkeluh kesah. Mereka tidak mau men-cap orang lain, mengandaikan, mengkotak-kotak, dan berprasangka. Mereka lebih memilih untuk melihat potensi terpendam pada setiap orang dan memahami proses untuk membuat potensi itu terwujud.

Sungguh, saya sangat menyukai dan banyak belajar dari pengalaman bu Nadia Wisatayanti (seorang pejabat Eselon III DJP) dan beberapa sahabat lain yang mampu menemukan lepehan di tempat yang tersembunyi dan menggubahnya menjadi berlian yang tak ternilai bagi institusi. Dalam pengalaman bu  Nadia, beliau pernah dipusingkan dengan perilaku kerja seorang bawahannya yang tidak betah berlama-lama kerja di mejanya. Jika sudah begitu, bawahan tersebut akan menghampiri teman-teman di ruangan untuk mengajak bicara segala macam hal. Jika satu orang memintanya untuk tidak menganggu aktivitas bekerja yang tengah dia lakukan maka sang bawahan tadi akan bergeser ke meja lainnya. Demikian setiap hari. Tentu saja, ini sangat menganggu.

Ketika dipanggil dan diingatkan oleh bu Nadia untuk berhenti menganggu konsentrasi bekerja teman-temannya di ruangan. Bawahan tadi memohon maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Apa yang terjadi kemudian? Betul, orang itu tidak menganggu teman-temannya seruangan lagi. Tapi apa lacur, ternyata kebiasaannya memang sudah susah diperbaiki. Tidak ada yang berubah dalam kebiasaanya, yang terjadi ia hanya memindahkan kebiasaan di ruangan tersebut ke ruangan-ruangan lain bahkan hingga memperluas wilayah jelajahnya  hingga ke Bagian/Bidang lain di kantor itu. Tentu saja ini segera mengundang komplain dari para pejabat lain kepada bu Nadia terkait perilaku bawahannya tersebut.

Untungnya, bukan mencap bawahan tersebut sebagai orang lepehan, bu Nadia justru berusaha melihat potensi apa yang bisa digali dan dimanfaatkan dari bawahan tersebut. Satu hal yang menonjol bahwa bawahan tersebut memiliki banyak relasi dan kegemarannya bersosialisasi dengan banyak orang membawa pada satu kesimpulan: bawahan ini memiliki potensi interpersonal relationship.

Nah, potensi itulah yang membuatnya mampu memberikan kontribusi yang sangat positif ketika ia dipindahkan ke pekerjaan pelayanan di front office dengan tugas menyambut dan mengarahkan para wajib pajak yang hendak menunaikan kewajiban perpajakan mereka. Apabila meja-meja pelayanan sedang sibuk memberi pelayan, tugasnya adalah menemani wajib pajak itu selama menanti antrean. Sapaan secara personal maupun penawaran koran/bacaan/minuman/permen kepada para wajib pajak, yang ia lakukan, segera saja membuat citra pelayanan di kantor itu meningkat. Ia memang bukan pegawai lepehan, ia adalah berlian yang tersembunyi.

Dalam The 360Leader, John C. Maxwell menulis:

Memindahkan orang lain dari pekerjaan yang tidak mereka sukai ke pekerjaan yang cocok akan sangat mengubah hidup mereka. Seorang eksekutif yang saya wawancarai berkata bahwa ia telah memutasi seorang wanita di kelompok stafnya ke empat posisi yang berbeda guna menemukan pekerjaan mana yang paling cocok. Karena telah berkali-kali salah menempatkan orang itu, ia nyaris menyerah. Tetapi, ia tahu orang ini memiliki potensi besar. Akhirnya, setelah posisi yang tepat berhasil ditemukan, pekerja ini menjadi cemerlang!

Karena eksekutif ini mengetahui betapa pentingnya mengusahakan agar setiap orang memegang pekerjaan yang tepat, setiap tahun ia selalu bertanya, “Jika Anda dapat mengerjakan hal lain, apa kira-kira pekerjaan itu?” Dari jawaban mereka, ia memperoleh petunjuk tentang siapa saja yang mungkin telah diberi peran keliru.

Berusaha menempatkan orang yang tepat pada pekerjaan yang tepat membutuhkan banyak waktu dan energy. Mari kita hadapi. Bukankah lebih mudah bagi seorang pemimpin untuk menempatkan orang di tempat yang menyenangkan dan pekerjaan yang cocok? Sekali lagi, ini bidang yang tidak diinginkan para pemimpin. Kalahkan kecenderungan yang melekat pada diri Anda untuk membuat keputusan, dan segera lakukan. Jangan takut memindahkan orang jika mereka tidak secemerlang yang Anda harapkan.”

Nah, bukankah sejatinya tidak ada pegawai lepehan? Sebenarnya, mereka adalah batu uji bagi kualitas kepemimpinan Anda. Temukan dan ubahlah lepehan tersebut menjadi berlian yang tak ternilai!

Selamat berkarya untuk Indonesia, Sahabat…

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s