The Art of Kepepet…

Sahabat,
Apa kabar malam ini? Semoga kebersamaan sahabat sekalian bersama keluarga memberikan kehangatan dan melahirkan kegairahan hidup untuk memandang esok hari.
Hari ini,  saya kembali mendapatkan kegembiraan sebagaimana hari-hari yang lalu yang banyak dipenuhi dengan kegembiraan. Alhamdulillah. Tahukah sahabat, gerangan apa yang menjadi pemantik kegembiraan  itu?
Seharian tadi saya menemani teman-teman Pejabat Eselon IV Kementerian Keuangan, para peserta Diklat Kompetensi Khas Pengambilan Keputusan dan Pemecahan Masalah yang sedang saya ampu,  mengikuti kegiatan outbound bersama teman-teman Trustco Jakarta di Buperta Cibubur.
Ada beberapa permainan yang sengaja kami rancang untuk merangsang sekaligus menginternalisasi ketrampilan pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang selama dua hari kemarin sudah kami bahas dan diskusikan di kelas.
Beberapa permainan mengandung unsur resiko yang tinggi. Karena memang sikap mental untuk berani mengambil resiko secara terukur perlu dilatih secara kontinyu. Demikian pula, mentalitas untuk memandang suatu persoalan sebagai suatu peluang dan kesempatan mutlak membutuhkan exercise agar semakin terasah.
Saya terkesan dengan beberapa sahabat peserta diklat yang notabene sudah tidak bisa dibilang muda lagi, ternyata mampu melakukan gerakan melompat dari papan pijakan diatas ketinggian 5 meter  sembari meraih tongkat ayunan yang terikat tali satu meteran dihadapan mereka dalam permainan pampers fall. Sungguh mengesankan …
Betul, bahwa beberapa sahabat tidak bisa melakukannya secara spontan dan tidak berhasil dengan baik. Namun, keberanian mereka untuk melakukan hal tersebut meski diiringi dengan rasa grogi, takut, maupun khawatir yang menghinggapi memang pantas diapresiasi.
Sebagian dari mereka mengatakan, “saya berani karena sudah kepepet… hanya ada satu pilihan: melompat dan biarlah terjadi apa yang harus terjadi!”.
Nah, di titik inilah saya teringat dengan kedahsyatan seni dari kepepet
Saya teringat dengan perjuangan hidup pendiri kerajaan Honda,  perusahaan otomotif raksasa itu.  Dia adalah Soichiro Honda. Manusia luar biasa yang patut menjadi panutan atas perjuangan hidupnya yang penuh dengan kegagalan namun tidak pernah patah arang, terus belajar dan mencoba dalam menghadapi banyak permasalahan.
Tahun 1947  setelah perang dunia kedua, Jepang kekurangan bensin dan mengalami kerusakan yang luar biasa di banyak bidang. Di saat itu, kondisi ekonomi Jepang porak-poranda.  Sampai-sampai Honda, yang sebelumnya berstatus sebagai pengusaha, jatuh miskin dan kelaparan. Untuk menyambung hidup, Honda berniat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya.
Tapi, siapa yang mau membeli mobilnya dalam suasana yang seperti itu? Ia gagal menjual mobilnya dan terancam tidak dapat memberi makan kepada keluarganya.
Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepedanya. Siapa sangka, “sepeda motor” cikal bakal lahirnya kendaraan Honda itu justru diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan untuk membelinya sehingga Honda kehabisan stok. Inilah titik balik (turning point) kehidupan Honda. Ya, kepepet memungkinkan kita untuk melakukan sesuatu yang bahkan paling mustahil sekalipun!
Masih ingatkah Sahabat dengan kisah penemuan hukum fisika oleh Archimedes?
Konon, semua berawal dari keinginan sang Kaisar untuk memiliki sebuah mahkota yang terbuat dari emas murni. Maka, dipanggillah sang maestro pembuat mahkota oleh sang Kaisar. Diperintahkannya untuk membuat mahkota sesuai keinginannya sembari menyerahkan emas berkilo-kilo sebagai bahan baku.
Alkisah, mahkota itu pun jadi. Seperti impian Kaisar. Sungguh ia puas dengan mahkota barunya tersebut. Berulang kali ia mematutkan diri di depan kaca sembari mengagumi keindahan mahkotanya.
Nah, dititik inilah masalah muncul. Entah kenapa, pikiran sang Kaisar memunculkan satu pertanyaan besar, “benarkah emas berkilo-kilo yang ia berikan kepada si pembuat mahkota betul-betul digunakan seluruhnya untuk membuat mahkota tersebut? Jangan-jangan, emas yang digunakan hanya sebagian sebagian kecil saja, sisanya dikorup oleh si pembuat mahkota?”
Karena kecurigaan inilah, ia memerlukan pembuktian.
Archimedes pun dipanggil. Ia diberi tugas untuk membuktikan kebenaran penggunaan emas untuk membuat mahkota tersebut dengan sebuah titah, “Tunjukkan kepadaku sebuah pembuktian, apakah si pembuat mahkota telah bekerja dengan benar ataukah ia telah berlaku curang”. Bagaimana jika Archimedes tidak berhasil melaksanakan tugas ini? kepalanya adalah taruhannya.
Berhari-hari Archimedes berusaha menemukan cara.
Namun, rasanya semua jalan telah buntu. Semakin dekat dengan tengat waktu eksekusi, ia belum berhasil menemukan solusi. Hingga di ujung waktu, ketika sudah terdesak, ia menemukan jawabannya tatkala sedang berendam di bak mandi. Saking gembiranya, ia berlari tanpa pakaian sembari berteriak di muka umum, “eureka…eureka!”.
Lagi-lagi, the art of kepepet…
Tapi, apa pembelajarannya bagi kita?
Bagi saya, kisah tentang Honda dan Archimedes ini sungguh menginspirasi.  Itulah sebabnya, setiap bertemu permasalahan saya melihatnya sebagai suatu peluang. Karenanya, hadapi dan jangan pernah menghindar.
Sebab saya sangat yakin, pada titik tertentu. Ketika semua kemungkinan rasanya sudah tertutup. Sepanjang kita tidak pernah menyerah dan terus menghidupkan nyala api harapan… Pada saatnya, “hukum kepepet” ini akan memainkan peranannya. Ia akan muncul sebagai penyelamat.
Jadi jangan takut mencoba, jangan takut bertemu masalah. Hadapilah dan pecahkanlah masalah tersebut!
Mengutip Claude Meyer dari Swissair, “Leadership adalah belajar melalui praktik (learning by doing), serta beradaptasi dengan situasi di lapangan. Sebab, seorang leader terus menerus belajar dari kesalahan dan kegagalannya”.
Ya, berusahalah dan belajarlah dari kegagalan. Bahkan, meski harus belajar dari kegagalan yang paling brutal sekalipun.
Sahabat,
Selamat membuktikan…

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to The Art of Kepepet…

  1. bams says:

    super sekali!!
    bagus pak. lanjutkan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s