Memotivasi kinerja melalui kritik…

Apa kabar hari ini, Sahabat?

Agak lama juga, saya tidak menyapa sahabat sekalian melalui forum ini. Mudah-mudahan, kesibukan-kesibukan kita tidak menghalangi untuk terus bersua dan saling memberi inspirasi sembari menatap esok hari dengan lebih optimis lagi.

Pekan lalu, saya mengampu kelas Motivasi dan Pemberdayaan untuk para Pejabat Eselon IV Kementerian Keuangan. Salah satu pembicaraan yang muncul di sela-sela sesi adalah bagaimana selaku atasan kita dapat meningkatkan kinerja bawahan melalui media kritik.

Masalahnya, seringkali para bawahan tidak bisa menerima ketika mendapat teguran ataupun kritikan dari atasan atas kinerja yang mereka tampilkan. Kalaupun, seakan, mereka mendengarkan ketika ditegur/dikritik ternyata teguran/kritikan tersebut tidak efektif merubah perilaku mereka yang terus menerus mengulang kesalahan yang sama atau serupa. Apa yang salah?

Pada dasarnya, setiap orang tidak suka dikritik. Apalagi jika kritik disampaikan dengan cara yang pedas. Bisa jadi, kritik dari atasan yang kurang sesuai, dapat menimbulkan hubungan yang kurang baik antara atasan dan bawahannya. Chandler (2005) menyatakan bahwa 90% teguran manajerial cenderung merusak hubungan atasan-bawahan.

Namun demikian, sebenarnya kritik yang disampaikan secara tepat dapat digunakan untuk memotivasi para bawahan sehingga dapat berkinerja lebih optimal. Yang perlu kita lakukan adalah menyadarkan bahwa kritik adalah hal yang lazim dan biasa diterima setiap orang dalam interaksinya dengan orang lain.

Seperti yang umum kita ketahui, apapun yang dilakukan manusia, baik atau buruk, tak lepas dari kritikan. Lazimnya, ada dua alasan yang melatarbelakangi motivasi seseorang untuk melakukan kritik: bisa jadi karena sang pengkritik peduli kepada yang dikritik, atau mungkin pula karena sang pengkritik ingin menjatuhkan pihak yang dikritik.

Nah, dari pemahaman kedua hal tersebut, seorang atasan yang bijak mestinya mampu menyakinkan bawahan kalau kritik yang disampaikan kepadanya, semata-mata timbul dari kepedulian agar sang bawahan dapat memperbaiki diri sehingga dapat lebih berprestasi. Sebab, kata kritik mengandung dua kemungkinan makna. Pertama, menampakkan berbagai sisi positif untuk kita kembangkan atau yang kedua, menampakkan berbagai sisi negatif untuk kita hindari atau minimalisir.

Kedua syarat inilah yang menjadi patokan apakah sebuah kritik dapat digolongkan sebagai kritik membangun/konstruktif. Jika sebuah kritik tidak mengandung kedua muatan tersebut, kita dapat menggolongkannya sebagai kritik yang destruktif, karena muatannya ingin menjatuhkan. Tidak perlu alergi menghadapi kritik model seperti ini. Yang dibutuhkan hanyalah pembuktian nyata bahwa kita tidak seperti yang dikatakan oleh sang pengkritik. Itu saja.

Perlu disadari bahwa perkataan yang melukai perasaan dapat mengakibatkan perubahan motivasi. Komunikasi yang negatif dapat membuat orang yang potensial jadi tidak ingin bekerja maksimal.

Kritikan yang tidak seimbang, kutukan, keluhan, gerutuan, omelan, gosip yang tidak benar, dan kasak-kusuk yang negatif sangat berpotensi membuat seseorang terluka. Hanya kritik membangun yang memiliki efek positif terhadap produktivitas seseorang. Sebaliknya, kritik yang bertujuan menjatuhkan dapat membuat seseorang kehilangan motivasi untuk menunjukkan kinerja yang terbaik.

Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam memberikan kritik terhadap bawahan. Sebelum menunjukkan poin-poin kritikan, biarkan ia tahu bahwa Anda menghargai dan mengetahui hal-hal yang sudah dikerjakannya dengan baik. Jangan biarkan bawahan berpikir bahwa atasan hanya memusatkan perhatian pada kesalahannya saja dan mengabaikan hal-hal baik yang ia lakukan. Dalam kontek ajaran agama, saya sangat sepakat dengan nasehat dari Ibnu Taimiyah, “Sebagian orang selalu terlihat olehmu sebagai pengkritik. Ia melupakan berbagai kebajikan dan kelebihan orang/kelompok lain. Ia hanya mengingat sisi keburukan/kekurangan saja. Orang seperti ini seperti lalat. Ia tinggalkan tempat yang sehat dan tidak sakit, kemudian hinggap pada tempat yang luka dan tidak sehat…. ”

Kritikan sebaiknya dikatakan secara spesifik dan apa adanya. Pesan yang diberikan secara umum atau samar-samar seringkali tidak mencapai sasaran. Kemudian, jangan mengkritik orang, tapi kritiklah tindakannya. Maksudnya kritik diarahkan kepada perilaku atau hasil kerja yang ditunjukkan. Sebab, orang dan tindakannya adalah dua hal yang berbeda.  Sampurna adalah Sampurna, orangnya tidak mungkin berubah. Tetapi tindakan dan perilaku seorang Sampurna, dapat berubah seiring dengan berlalunya sang waktu.

Yang penting, perlu pula disadari bahwa kritikan tidak selamanya benar meski tidak selamanya pula selalu salah. Nah, kalau sudah seperti ini, Insya Allah kritik bisa dinikmati selezat rasa kripik.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Memotivasi kinerja melalui kritik…

  1. miftachul arifin says:

    Bener pak, kadang yang kita sampaikan sebagai kritik ataupun teguran kurang mengena bahkan tidak mempan. Untuk itu, kritik yang kita sampaikan harus satu paket dengan motivasi. Ketika terjadi ketimpangan (lebih menonjol kritikannya) bisa-bisa dinilai sebagai mencari-cari kesalahan. Demikian juga bila hanya motivasi yang disampaikan tanpa kritikan, kecenderungannya bahwa si orang yang dikritik tidak mengetahui secara pasti kesalahannya, dimana letak kekurangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s