Model the way…

Sahabat,

Ketika pertama kali membaca tulisan mas Zaim di bawah ini, saya agak tertegun. Kenangan saya langsung terngiang pada sepenggal fragmen dalam kehidupan saya. Sebenarnya, saya tidak terlalu mengenal sosok kita ini. Namun, sekelumit interaksi dengan beliau sudah cukup untuk menggoreskan keyakinan bahwa beliau memang sosok pemimpin yang tidak biasa.

Bermula dari suatu acara santunan anak yatim di salah satu masjid di bilangan Bintaro Jaya. Pagi di hari ahad itu, setelah beliau menyampaikan ceramah singkat dan pamit untuk meneruskan agenda-agenda lain yang sudah terjadwal. Saya berkesempatan mengenalnya secara lebih dekat.

Menjelang pintu keluar, saya mencoba menyapa beliau. “Wa alaikum salam, ustadz. Apa kabar?” Begitu beliau menjawab sapaan saya.

Sejurus setelah berjabatan tangan, saya bisikkan satu rayuan maut kepada beliau. “Pak Anton, jika Bapak berkenan saat ini teman-teman sedang mengadakan acara pemberian bantuan bea siswa sekolah untuk anak-anak tidak mampu tidak jauh dari sini. Bisakah bapak menyambangi barang sebentar teman-teman itu? Barangkali, satu dua wejangan Bapak akan sangat menyemangati mereka.”

Dengan wajah ramah dan senyum khasnya, sejenak beliau menatap wajah saya sembari berkata, “Baik, tapi tidak bisa lama-lama ya. Jangan lebih dari satu jam.”

Jadilah kemudian kami meluncur menuju lokasi diiringi suara sirene yang meraung. Membelah jalan utama kampus STAN, yang waktu itu masih menjadi lintasan pintas dari jalan utama Bintaro Jaya, menuju lokasi di pinggir jalan Ceger Raya yang padat oleh lalu lalang kendaraan.

Sesederhana itulah prosesnya. Yang kemudian kalang kabut adalah para polisi lokal, yang setengahnya agak sewot, dengan kekacauan kecil yang saya buat. Mereka harus memperpanjang tugas mereka untuk mengamankan agenda dadakan dan mensterilkan jalan serta lokasi tujuan.

Tapi…

Oops, ternyata acara teman-teman telah selesai. Waduh, padahal acara pemberian bea siswa itulah yang saya janjikan kepada Beliau. Tidak kurang akal, akhirnya saya ajak Beliau untuk berbincang-bincang santai dengan teman-teman sembari ditemani air putih aqua dan duduk di kursi-kursi plastik yang masih tersedia. Tak terasa lebih dari satu jam, waktu berlalu sejak kesepakatan awal dibuat.

Kami pun berpisah dengan Beliau yang waktu itu ditemani putrinya, satu-satunya anak Beliau. Saat itu, beliau masih berstatus sebagai salah satu menteri di republik ini.

***

Apa hebatnya cerita itu? Bukan sekilas fragmen diatas yang menurut saya sungguh hebat. Namun, sosok sederhana yang saya ceritakan itulah yang hebat. Sosok pemimpin yang jarang bisa ditemui di republik ini.

Beliau seorang doktor kimia pangan. Ahli gizi yang pernah menjadi menteri pertanian RI. Ahli Gizi yang memilih menyantap roti dan salad ketimbang jamuan makan nan mewah yang telah disediakan oleh perwakilan dari Pemerintah Rumania, dengan alasan sebuah prinsip yang diyakini. Pada kesempatan lain, ia lebih memilih makan mie instan ketimbang menu lain yang lebih menjanjikan.

Nah, lho. Kok Begitu? Itulah, sekelumit pelajaran tentang integritas dari sosok kita ini. Sosok sederhana yang mengajarkan kepada kita bahwa seorang pemimpin seharusnya mempraktikkan prinsip model the way alias walk the talk…

***

Dalam Resonansi-nya di Republika, Zaim Uchrowi yang alumnus IPB menulis: ‘’Sebagai ilmuwan, Anton Apriyantono dikenal perfeksionis, konsisten, pekerja keras, dan fokus. Ia memperjuangkan ’halal’ di tengah masyarakat yang katanya agamis ini. Ia mengikhlaskan hidup untuk perjuangannya itu.’’

Perjuangan Anton didukung anugerah berupa indera penciuman yang tajam untuk menggeledah jenis dan kualitas makanan atau minuman. ‘’Sebagai seorang flavour scientist, saya selalu curious dengan bau-bauan. Saya punya kebiasaan mencium apa-apa yang akan dimakan,’’ aku pakar pangan IPB ini.

Suatu pagi Rossi, sang istri, menyodorkan mie goreng buat sarapan suami. Dengan bersemangat, Anton menuju meja makan. Tapi, dari jarak agak jauh, hidungnya sudah membau kurang enak. Ia lalu mengendus bau mie goring tersaji. Eh, ternyata benar, mie tersebut sudah menyimpang baunya.

‘’Ini mie kemarin ya Ma,’’ kata Anton. ‘’Iya tuh, maaf yah,’’ sahut sang istri malu-malu. ‘’Aduh, maaf nih Ma, saya nggak bisa memakannya. Mie ini sudah rusak, saya khawatir dengan perut saya,’’ kata Anton.

Lain pagi, iseng-iseng Anton ikut pesan jamu keliling langganan pembantunya. Tak tanggung-tanggung, ia mengorder jamu sehat lelaki. ‘’Pakai telur mboten, Pak,’’ tanya si Mbok jamu. Sambil mengiyakan, Anton lalu membuka tutup botol-botol jamu, lalu membauinya satu per satu. ‘’Bapak emang biasa begitu, Mbok,’’ kata istri Anton melihat kelakuan suaminya. ‘’Ya ndak apa-apa, to Bu,’’ sahut si Mbok sambil tertawa.

‘’Nah,’’ kata Anton tiba-tiba. ‘’Iki opo Mbok?’’ katanya sambil menunjukkan botol yang mengobarkan aroma alcoholic beverages.

‘’Iku anggur,” jawab si Mbok kalem.

Masya Allah, betul dugaan Anton. Ia pun lalu memberi pengertian pada penjual jamu. ‘’Tolong ini jangan diberikan untuk orang Islam, ya Mbok. Nggak boleh sama Gusti Allah,’’ pinta Anton dalam dialek Jawa. Saat itu ia belum tega untuk melarang si Mbok jualan anggur sama sekali.

Jangan kira Anton beraninya hanya pada wong cilik. Pernah, seusai mengaudit sebuah pabrik milik perusahaan besar, Anton dan rekan-rekan auditor LPPOM MUI disuguhi makan siang oleh tuan rumah. Saat itu dengan lugunya para petinggi perusahaan menyilakan tamunya menyantap makanan paket bermenu Jepang dari sebuah resto Jepang terkenal.

‘’Maaf, ini belum bersertifikat halal. Tolong saya minta nasi Padang saja,’’ kata Anton sambil menyingkirkan hidangan dari hadapannya.

Warung Padang pula yang akhirnya menjadi solusi bagi tuan rumah di sebuah acara resmi di NTT, tatkala menteri Pertanian Anton Apriyantono berkunjung ke sana. Semula panitia ngeri, sambutannya bakal dinilai keterlaluan untuk menghargai seorang petinggi negara. Tapi ternyata Pak Anton makan dengan lahapnya di warung Padang itu.

Skenario tersebut susah payah di-arrange oleh Sekretaris Menteri, Dr Abdul Munif, berdasarkan pengalaman sebelumnya mendampingi Mentan di Bali. Waktu itu, panitia menjamu Mentan dan rombongan di sebuah restoran besar. Hidangan memang tidak menyuguhkan babi. Tapi, demi melihat menu babi di daftar menu reguler restoran tersebut, Pak Menteri kontan mengurungkan makan.

‘’Saya makan pop mie (yang bersertifikat halal) dan air putih saja,’’ kata Anton tanpa basa basi.

Kementrian Pertanian dan Peternakan Rumania pun pernah mencicipi ketegasan Anton Apriyantono dalam soal makanan halal. Waktu itu, mereka mengundang Mentan dan rombongan Kedubes RI di Bukarest dalam sebuah jamuan kenegaraan.

‘’Silakan, ini halal food, tidak ada babi,’’ tuan rumah yang sudah berkoordinasi dengan Sekretaris Menteri Pertanian RI, mempersilakan Menteri Anton.

Saat itu, selain menu vegetables, juga tersaji daging bison dan kalkun muda nan mengundang selera. Anggota rombongan Mentan yang memang sedang lapar, sudah membayangkan bakal bersantap besar yang uenak tenan.

Olala, ternyata Pak Anton hanya memakan salad, makan roti tawar, minum air putih, lalu mengakhiri makan dengan buah-buahan. That’s all. Sebab, perkara halal bukan sekadar ada tidaknya daging babi. Daging binatang halal pun mesti dikejar lagi bagaimana cara penyembelihannya. Terlebih di negeri Barat yang umumnya tidak mengenal halal-haram.

Ketika tuan rumah Rumania setengah memaksa mencicipi hidangan besar lainnya, Menteri Pertanian hanya berucap, ‘’Sudah cukup buat saya, terima kasih.’’

Tak hanya shohibul bait yang melongo. Rombongan Pak Menteri pun terpaksa mengikuti jejak boss-nya.

…..

Sahabat,

Mudah-mudahan cerita ini memberi inspirasi. Selamat berkarya untuk Indonesia!

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s