Kepemimpinan Spiritual Dalam Aplikasi

Nelson Mandela

Pada Februari 1990, Nelson Mandela keluar dari Penjara Pulau Robben Afrika Selatan setelah meringkuk selama 27 tahun. Pejuang yang lahir tahun 1918 ini dipenjarakan sejak tahun 1962 karena aktivitas politiknya yang menentang rezim apartheid kulit putih.

Di penjara Mandela mengalami penderitaan yang sangat buruk, mungkin yang paling buruk yang bisa dibayangkan orang: sel kecil tanpa dipan, kerja paksa di siang hari, kelaparan sepanjang waktu, diisolasi kalau melawan, teror mental berkepanjangan, dan rasa sepi penuh cengkeraman.

Tahun pertama di bui, ibunya meninggal dunia. Beberapa bulan kemudian anak tertuanya tewas dalam kecelakaan. Namun pada saat pemakaman kedua orang tercintanya itu, mandela  tidak diberi izin keluar. Lalu puteri bungsunya pun lahir, tapi mandela tidak diperkenankan melihatnya barang sejenak pun hingga 17 tahun kemudian. Mandela terkurung total. Dalam setahun, Mandela hanya boleh menerima satu kunjungan saja, itu pun Cuma 30 menit. Per enam bulan, ia hanya boleh menerima dan mengirim sepucuk surat. Foto dan tulisannya dilarang beredar agar rakyat hitam Afrika Selatan melupakannya.

Tiada tara penderitaan Mandela. Orang akan maklum andaikata Mandela membiarkan dirinya berputus asa atau membusuk oleh sengsaranya. Namun, setelah sekian lama menderita, Mandela bukannya membusuk tapi malahan menguat. Dunia pun berpihak padanya dan mendesak rezim apartheid agar ia dibebaskan. Mandela tidak hanya bebas tetapi lahir sebagai manusia baru.

Tanpa dendam dan sakit  hati ia mampu memimpin kaumnya berdamai dengan kaum penindas kulit putih. Mandela bahkan mampu bekerja sama dengan rezim Presiden De Klerk membongkar sistem apartheid itu sendiri. Pada tahun 1992, Mandela terpilih secara demokratis menjadi Presiden Afrika Selatan. Dunia pun tercengang. Pada 1994, Mandela bersama De Klerk dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian.

Apa sesungguhnya yang terjadi dengan Mandela dalam sel penderitaannya sehingga ia bisa ber-tiwikrama sedemikian dahsyat? Rupanya Mandela mengambil jalur transendental. Ia tidak lagi melihat, merasakan, dan menghayati penjara sebagaimana biasanya, tetapi menggunakan segenap daya ruhaninya melakoni pengalaman itu secara berbeda. Sel kurungan yang umumnya adalah ruang kematian, bagi Mandela menjadi ruang pertumbuhan. Mandela mengubah dirinya dari seorang pejuang radikal yang berangasan, yang suka nekat mengambil resiko, menjadi seorang negarawan yang matang dan bijaksana. Mandela yang kenyang di zhalimi itu mentransendensikan tuntutan rasa keadilannya sehingga ia mampu mengampuni si kulit putih sebelum seruan minta ampun datang. Kata Mandela, ”Tanpa ada pengampunan maka tidak ada masa depan bagi Afrika Selatan.”

Tanpa ngotot dengan solusi hukum, Mandela mengambil tanggung jawab total atas kondisinya dengan tidak pernah mau terpancing untuk bertindak dibawah martabatnya sebagai manusia. Ia menolak mengeluh dan tak mau bersikap cengeng. Ia pantang bersungut-sungut dan tak sudi mengemis belas kasihan walau cuma sepotong. Inilah yang membuat aura pribadinya bersinar terang dan wibawa moralnya bercahaya benderang hingga tidak saja menembus keempat tembok penjara Robben tetapi jauh melampaui Afrika Selatan sampai ke ujung-ujung bumi. Mandela berkata, ”Siapa pun atau lembaga apa pun saja yang berusaha merampas martabat diri saya akan kalah!”

Menghadapi perlakuan tak manusiawi para sipir penjara, ia meneguhkan hatinya, dan dengan kecerdasan, keramahan, dan rasa humornya, ia memilih memberikan perlawanan moral tanpa kekerasan mengikuti jejak Mahatma Gandhi dan Martin Luther King, sehingga sipir yang paling kejam pun akhirnya tunduk pada wibawanya.

Di penjara, Mandela memperjelas tujuan hidupnya, menemukan takdir dirinya, dan  merumuskan misi perjuangannya. Berkatalah Mandela, ”Saya mengabdikan seluruh hidup saya bagi perjuangan rakyat Afrika. Saya akan berjuang melawan penindasan kulit putih dan akan berjuang juga melawan penindasan kulit hitam. Saya memimpikan sebuah masyarakat bebas yang demokratis di mana semua orang bisa hidup bersama. Demi ideal inilah saya hidup an akan terus saya perjuangkan hingga terwujud. Namun, jika diperlukan, saya pun bersedia mati demi ideal ini.”

Mandela menukik ke tataran terdalam eksistensinya, masuk ke relung batinnya yang paling tersembunyi, dan bertemu dengan Khalik-nya di sana. Hatinya pun tenteram. Ia mengaku bahwa keyakinannya tak pernah melemah bahwa suatu hari kelak ia akan bebas. Mandela bersaksi, “Saya mengalami sendiri bahwa kita mampu menanggung hal-hal yang sebenarnya tak tertanggungkan jika kita dapat menjaga semangat hidup tetap tinggi meskipun tubuh kita disiksa. Keyakinan yang kuat adalah rahasia kesangggupan menanggung segala kekurangan.”

(The Long Walk to Freedom, (Mandela, 1994), dalam Jansen Sinamo, 2005).

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Kepemimpinan Spiritual Dalam Aplikasi

  1. sedjatee says:

    pertamax:
    mandela inspiratif

    sedj

  2. :0
    Berbeda dengan blog-nya pak Sedjatee yang meriah dengan komentar. Di blog ini tidak perlu berebut untuk menjadi pertamax, pak… he..he..

    Ya, Mandela memang inspiratif. Seperti si Bilul yang juga sangat inspiratif. Apalagi made in lokal. Lebih berasa…

  3. maksudnya, si Bilung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s