Seri Nilai-Nilai Utama Kemenkeu:

Integritas Seorang Pemimpin

Sebagaimana anak ikan, burung,

dan kura-kura

belajar dengan hanya mencontoh

perilaku induk mereka.

Seorang anak manusia pun

haruslah mengikuti jejak orangtuanya

meniru perbuatannya.

-taken from Niti Shastra, Majapahit’s Ancient Wisdom-

Seorang pemimpin tak ubahnya orang tua bagi para bawahannya. Ia menjadi pusat perhatian dalam organisasi. Gerak-gerik dan sikap perbuatannya akan menjadi acuan bertindak para bawahan. Apalagi di negara yang budayanya patrilineal seperti kita. Lebih sering, baik dan buruk itu diukur dengan persepsi dan tindakan sang pemimpin. Karenanya, pantas bagi kita untuk merenungkan, “Seberapa kuat integritas kita selama ini dipertontonkan kepada para bawahan.”

***

Integritas berakar dari kata latin, integer yang bermakna incorruptibility, firm adherence to a code of especially moral or artistic values. Dari situ, kita bisa menerjemahkan integritas sebagai sikap yang teguh memegang prinsip, tidak mau korupsi, dan menjadi dasar yang melekat pada diri sendiri sebagai nilai-nilai moral.

Menurut Nilai-Nilai Utama Kementerian Keuangan, integritas diartikan sebagai “berfikir, berkata, berperilaku dan bertindak dengan baik dan benar serta memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral”.

Sebagian orang mengartikan integritas sebagai sikap hidup untuk selalu berbuat jujur. Sebenarnya, integritas berbeda dengan kejujuran. Stephen R. Covey mengatakan, “Honesty is telling the truth, in order word, conforming our words to reality. Integrity is conforming to our word, in order word, keeping promises and fulfilling expectation”. Di sini kita lebih bisa memahami bahwa integritas lebih pas diartikan sebagai kesesuaian antara ucapan dengan tindakan. Sementara, kejujuran lebih dekat kepada menyampaikan kebenaran sehingga ucapannya selaras dengan kenyataan yang ada.

***

Saya masih ingat benar, ketika seorang sahabat teman kuliah dulu, bercerita dan meminta masukan, tentang apa yang mesti dia lakukan. Ketika itu, kami baru selesai pendidikan D-III dari kampus Jurangmangu, sebagai pegawai baru dia ditempatkan di salah satu kantor pelayanan dan mendapatkan tugas untuk memeriksa kewajiban pembayaran dari WP.

Selesai melaksanakan tugas, ia melapor kepada atasan tentang penetapan kewajiban perpajakan untuk WP tersebut. Katanya, “Pak, saya telah menyelesaikan tugas. Hasilnya, SKP-nya nihil pak”. Lalu, betapa kagetnya ia, ketika atasannya menjawab, “Mas, disini SKP boleh nihil. Tapi hasilnya tidak boleh nihil. Gimana caranya, kamu harus bisa mendapatkan seratus juta”.  Deg, ia tersadar bahwa dirinya sedang mengalami pendadaran. Ia sedang diuji coba.

Sejak itu ia hanya masuk sehari untuk mengatakan kepada atasannya, “Pak, mohon maaf. Saya tidak bisa melakukan hal itu. Silahkan Bapak pindahkan saya atau saya tidak akan masuk ke kantor selamanya.”

Dia konsisten dengan ucapannya. Setelah beberapa minggu tidak masuk kantor, ia mendapat pemberitahuan bahwa dirinya dipindahkan ke Kantor Pelayan Pajak di Solo. Sejak itu, kami pun berpisah.

Di mana dan bagaimana kabarnya sekarang? Ah… tiba-tiba saja rindu ini menyeruak memenuhi rongga dada ketika membayangkan wajahnya. Wajahnya yang bundar dan badannya yang besar, sangat kontras dengan wajah saya yang tirus, ketika itu, dan kurus kering.  Semoga Allah selalu menjagamu…

***

Sahabat,

Maafkan, saya tidak bermaksud untuk mengungkap luka lama. Kita tahu dan percaya bahwa kita telah berubah. Namun, sebagai suatu monumen bolehlah kita mengingat kembali peristiwa itu. Untuk menjadi pembelajaran, bahwa pernah ada sebagian di antara kita yang tersesat jalan. Cukuplah itu sebagai pengalaman terburuk yang tidak akan pernah kita ulang.

Kita patut bersyukur. Saat ini kita telah me-reform diri kita. Bahkan organisasi pun dengan sangat jelas menggariskan kebijakan itu. Mudah-mudahan, hari-hari ke depan kita tidak lagi terjebak pada kalimat klise tentang integritas, “Mudah diucapkan namun sulit untuk dilakukan”.

Seiring dengan komitmen kita untuk mempraktikkan nilai-nilai utama kementerian Keuangan, kita berharap nilai-nilai itu akan menghunjam. Terinternalisasi dalam diri kita. Hingga pada gilirannya akan menarik bawahan-bawahan kita untuk menerapkannya. Sebab, kita adalah panutan. Sepantasnya seorang pemimpin bertindak sebagai model the way

Semoga bermanfaat… Selamat berkarya untuk Indonesia!

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Seri Nilai-Nilai Utama Kemenkeu:

  1. Wikiapbn says:

    Kalau pegawai DJP dan wajib pajak sama-sama jujur, Indonesia pasti sejahtera🙂
    In sya-a ‘llah.

    • Insya Allah. Namun tidak adil jika hanya pegawai DJP atau DJBC saja yang dituntut untuk jujur. Mestinya, semua aparatur negara di semua level, Pusat dan Daerah, pun harus jujur. Selainnya, harus benar-benar berkomitmen untuk menerapkan anggaran berbasis kinerja. Dengan demikian, efektivitas dan efisiensi belanja negara dapat diharapkan terjadi. Pada gilirannya, hal tersebut akan menciptakan belanja negara yang berkualitas sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s