Menyikapi Kegagalan

Apa kabar Sahabat, … Semoga tetap hebat dan penuh semangat!

Beberapa waktu lalu, saya bertemu kembali dengan seorang kawan yang telah lama tidak berjumpa. Ia kawan sewaktu kuliah di Jurangmangu dulu. Kebersamaan kami di kampus berakhir lebih cepat dari seharusnya karena ia harus ter-drop out di tingkat II.

Sedih sekali rasanya saat itu, menyaksikan dan mendengar sedu sedan tangis teman-teman yang  bertemu dengan kenyataan bahwa mereka harus keluar dari kampus yang mereka harapkan menjadi batu pijakan menuju kesuksesan di masa depan. Ia tidak sendirian, ada puluhan dari jurusan akuntansi yang tereliminasi waktu itu. Kalau tidak salah ingat, di tingkat II itu saja ada enam puluhan yang senasib dengannya.

Ada banyak episode yang terjadi setelah mereka tereliminasi. Ada cerita sedih tentang kehidupan mereka selanjutnya. Namun tak jarang, dari mereka yang drop out itu saya mendapat cerita-cerita yang menggembirakan. Kawan itu salah satunya.

Meski sempat berhari-hari tenggelam dalam tangis penyesalan dan rasa malu serta minder bertemu dengan teman-teman, ia kemudian memutuskan untuk bangkit. Alih-alih menyalahkan situasi, ia memilih menciptakan situasi. Ia sadar, masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan. Cukuplah pengalaman pahit ini ia pegang sebagai pembelajaran.

Ia memutuskan untuk mengambil kesempatan yang ditawarkan, yakni menjadi pegawai Depkeu meski harus mulai dari golongan rendah, II/a. Sembari bekerja ia melanjutkan kuliah dengan etos yang sudah berbeda. Begitulah, ia pun kemudian melaju.

Bertahun-tahun sesudahnya, ia bisa sejajar bahkan melebihi teman-temannya yang lulus dengan normal di kampus dulu. Ia sudah menyelesaikan pendidikan S-2 di luar negeri lewat bea siswa yang diperolehnya dari Depkeu. Ia juga punya masa depan karier yang dalam beberapa hal melebihi teman-teman lamanya. Ia meraih keberhasilan berbekal kepahitan mengalami kegagalan.

***

Dalam Your Road Map for Success, John C Maxwell menulis:

Kesuksesan tidak berarti mengabaikan kegagalan. Kita semua pernah gagal. Ketika berkendara, kita semua pernah terperosok di lubang, mengambil jalur yang salah, atau lupa memeriksa radiator. Satu-satunya orang yang tidak pernah gagal adalah orang yang tidak pernah meninggalkan rumahnya. Jadi masalah sebenarnya bukan apakah Anda akan gagal, melainkan apakah Anda akan gagal dengan baik (maksudnya, memetik keuntungan/belajar dari kegagalannya).

Nelson Boswell berkata, “Perbedaan antara kebesaran dan kemampuan yang sedang-sedang sering tergantung pada cara seseorang memandang kesalahan.”

Jika Anda ingin melanjutkan perjalanan menuju kesuksesan, Anda perlu belajar mengatasi kegagalan.

Orang  yang tidak berhasil sering begitu takut menghadapi kegagalan dan penolakan, sehingga mereka menghabiskan hidupnya dengan upaya menghindari resiko atau keputusan yang dapat membawa mereka pada kegagalan. Mereka tidak menyadari bahwa kesuksesan itu dibangun di atas dasar kemungkinan untuk gagal dan terus berusaha.

Jika Anda memiliki sikap yang tepat, kegagalan tidak akan bersifat fatal atau final. Kenyataannya, kegagalan itu dapat menjadi batu loncatan menuju kesuksesan.

Pakar leadership, Warren Bennis mewawancarai 70 tokoh bangsa sukses dari berbagai bidang dan mendapati bahwa tidak seorang pun dari mereka memandang kesalahan mereka sebagai kegagalan. Ketika berbicara tentang semua kegagalan itu, mereka merujuk pada “pengalaman pembelajaran” mereka atau “pembelajaran yang berhasil”, atau “memastikan arah’, dan “peluang untuk bertumbuh”.

Orang-orang yang berhasil tidak akan membiarkan kegagalan menguasai pikiran mereka. Daripada terus-menerus memikirkan akibat kegagalan, atau memikirkan apa yang seharusnya terjadi, dan mengapa terjadi kegagalan, mereka lebih berfokus pada ganjaran dari keberhasilan: belajar dari kesalahan mereka dan memikirkan cara meningkatkan diri mereka dan keadaan mereka.

***

Apa makna pembelajarannya bagi kita, Sahabat?

Jadilah manusia pembelajar! Bukankah setiap orang yang terlahir di dunia ini memiliki dorongan yang sangat kuat untuk belajar? Perhatikanlah bagaimana proses belajar yang dilakukan seorang balita untuk bisa berjalan. Ia memerlukan lebih kurang 24.000 kali, kata sebuah riset,  proses jatuh bangun untuk bisa berjalan sendiri.

Jika jatuh bisa kita samakan dengan kegagalan, mengapa kita berhenti berusaha hanya karena mengalami kegagalan yang hanya sekali?

Mengapa kita cepat menjadi trauma untuk mencoba hanya karena pernah merasakan resiko dari sebuah kegagalan?

Sesungguhnya, penghalang manusia untuk sukses adalah pola pikir statis (fixed mindset) yang membelenggunya. Orang-orang dengan mind set seperti ini akan mudah mencampuradukkan sebuah peristiwa, sebuah situasi dengan citra diri atau keadaan diri mereka. Jika ia mengalami sebuah kegagalan, ia akan mencari kambing hitam atas kegagalannya bahkan lebih jauh ia akan mempersepsikan dirinya sebagai orang yang gagal. Jika ini berlanjut, ia akan semakin tenggelam dalam lingkaran citra diri yang negatif tentang dirinya bahwa “Saya adalah orang yang gagal”, atau “sungguh, Saya adalah orang yang paling sial didunia ini”. Pada gilirannya, citra diri negatif inilah yang akan melahirkan kegagalan-kegagalan berikutnya dalam kehidupannya. Begitulah, law of attraction mewujud dan bekerja secara negatif dalam dirinya. Sungguh, amat disayangkan!

Yakinlah bahwa kegagalan yang pernah kita alami tidak akan mempermalukan kita dihadapan semua orang di sepanjang hidup kita. Kuncinya adalah bagaimana cara kita memandang kegagalan. Stephen R Covey  pernah mewanti-wanti, “The way we see problem is the problem.” Sedangkan Mario Teguh berujar, “Bagi dua orang yang berbeda, satu masalah yang sama bisa menjadi batu penghalang perjalanan atau batu pijakan yang baik.”

Semoga bermanfaat, selamat berkarya untuk Indonesia… Merdeka!

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s