Mitos Kepemimpinan: The Anger Myth

Sahabat, apa kabar?
Mudah-mudahan liburan setelah merayakan hari yang fitri kemarin memberikan gairah dan kesegaran baru bagi kita untuk terus berkarya. Tak lupa saya haturkan mohon maaf lahir batin atas kekhilafan ataupun hal-hal lain yang tidak berkenan di hati sahabat sekalian.

Sahabat…
Dalam beberapa tulisan sebelumnya, saya pernah mengingatkan agar kita, selaku pemimpin, sebisa mungkin menghindari praktik kepemimpinan yang banyak diwarnai dengan kemarahan dan hukuman-hukuman kepada anak buah maupun kekakuan dalam bersikap berikut dampak-dampak yang dihasilkannya.

Uniknya, semakin banyak saya berinteraksi dengan para pejabat eselon IV dan III di lingkungan Kemenkeu semakin banyak pula saya mendengar keluhan tentang praktik-praktik kepemimpinan seperti itu yang ditunjukkan oleh para atasannya. Wah, sepertinya hal itu adalah praktik yang lazim.

Timbul dalam benak saya, apa penyebab sehingga bisa seperti itu? Apakah mungkin karena sekedar mencontoh dari para atasan-atasan terdahulu atau mungkinkah karena upaya-upaya untuk mempersiapkan mereka menjadi pemimpin selama ini dirasa masih sangat kurang? Atau jangan-jangan mereka adalah korban dari mitos yang salah tentang kepemimpinan? Mari kita bahas kemungkinan yang terakhir ini.

Sebagian kalangan meyakini bahwa seorang pemimpin seharusnya memiliki kedalaman dan keluasan perasaan yang jauh dibandingkan kebanyakan orang. Intensitas ini bisa beragam bentuknya, salah satunya adalah intensitas emosional.

Kalangan ini beranggapan bahwa seorang pemimpin lebih emosional dibandingkan yang lainnya. Termasuk di dalamnya emosi yang bersifat negatif. Jadi, jika seorang pemimpin selalu marah-marah di kantor dengan mengedepankan otoritas dan kekuasaan yang dimiliki, harap dimaklumi. Hal itu wajar. Cukuplah bagi bawahan untuk menerima dan ikuti saja situasi itu, jangan dilawan. Mitos seperti ini disebut sebagai the anger myth atau the intensity myth.

The anger myth lahir didasari oleh pandangan McGregor tentang teori X yang menyatakan bahwa pada dasarnya manusia membenci pekerjaan dan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Oleh karenanya, tidak ada cara yang lebih baik untuk menggerakkan mereka agar mau mengerjakan tugas selain dengan memberi ancaman dan hukuman. Pendekatan pemberian motivasi melalui menebar kemarahan dan rasa cemas seperti ini dipandang efektif oleh sebagian pemimpin. Bagi mereka, tidak ada hal yang lebih memotivasi pegawai kecuali rasa takut terhadap suatu hal.

Mitos ini cukup kuat melekat dalam praktik kepemimpinan. Salah satu pembuktiannya, dapat Anda temukan dari daftar “10 Besar Bos Tergalak di Amerika Serikat” yang dilansir setiap tahunnya oleh salah satu majalah bisnis di sana. Kriteria yang digunakan untuk menentukan kandidat dalam daftar itu adalah penilaian tentang pemimpin yang “tidak mau mendengar kata tidak”, “perasaannya mudah berubah-ubah”, “keras dalam mengarahkan para bawahan”, “pemarah, tidak sabar, dan mudah tersinggung”, “kasar”, serta “kaku”.

Selain teori X, saya pribadi punya dugaan lain. Alasan munculnya praktik tipikal bos seperti diatas timbul disebabkan oleh salah persepsi yang mencampuradukkan kepemimpinan dengan posisi. Bagi kalangan ini, kepemimpinan (leadership) muncul hanya jika seseorang memiliki suatu posisi. Persepsi tentang posisi ini kemudian diidentikkan dengan kekuasaan atau otoritas tertentu.

Wajar jika kemudian muncul anggapan, “Karena saya yang berkuasa atau yang memiliki otoritas, saya bisa dan boleh bertindak seperti yang saya inginkan” atau “Bukan saya (bos) yang harus memperhatikan orang lain (bawahan) namun merekalah yang harus memahami dan mengikuti apa yang saya maui”. Wajar jika kemudian seorang diktator, penganut paham ini, mengatakan, ”Jika rakyat tidak tidak suka pada saya, mereka bebas meninggalkan negeri ini.”

Namun, kita pun tidak menghendaki seperti apa yang pernah diucapkan Jenderal DeGaulle, ”Jika rakyat tidak menyukai saya, saya akan meninggalkan negeri ini”. Atau seperti ilustrasi yang pernah dikatakan oleh John F. Kennedy, ”Kami tidak ingin seperti pemimpin Revolusi Perancis yang berkata, ’Rakyat saya telah pergi. Saya harus tahu ke mana mereka akan pergi sehingga saya bisa memimpin mereka?”

***

Tentu, kita tidak menginginkan ilustrasi tentang mitos kepemimpinan diatas menjadi cermin kepemimpinan kita hari ini.

Kalaupun kita mempercayai the intensity myth, ada baiknya kita lebih banyak mengelaborasi bentuk-bentuk intensitas emosional yang positif. Misalnya, rasa percaya diri atau bentuk-bentuk yang lain. Dengan mengarahkan perilaku kepemimpinan dalam corak intensitas emosional yang positif, saya yakin kualitas kepemimpinan kita akan lebih meningkat sehingga mampu memberi dampak berupa peningkatan kinerja yang berkesinambungan.

Selain itu, satu hal yang semakin jelas bagi kita adalah bahwa kepemimpinan tidaklah identik dengan posisi. Tidak, sama sekali tidak identik. Ukuran yang sesungguhnya dari kepemimpinan adalah pengaruh (influence), tidak kurang, tidak lebih.

Sehingga yang kita perlukan saat ini adalah komitmen untuk terus mengembangkan kemampuan kita dalam mempengaruhi siapa pun di sekitar kita. Dengan daya pengaruh yang kita miliki, kita tidak hanya bisa memimpin ke bawah (terhadap bawahan). Namun, kita pun bisa memimpin ke samping (sejawat) bahkan ke atas (atasan).

Paling tidak, dengan cara ini kita bisa menggeser level kepemimpinan kita. Dari level terendah, memimpin mendasarkan pada posisi yang memaksa orang lain mengikuti Anda karena mereka harus melakukan hal tersebut, meningkat ke level berikutnya, memimpin berlandaskan pada hubungan personal (relationship).

Pada level kedua, kita mulai memimpin melampaui posisi kita karena kita telah membangun hubungan dengan orang-orang yang ingin kita pimpin. Kita memperlakukan mereka dengan penuh keistimewaan dan respek. Kita memperlakukan mereka sebagai manusia, bukan semata sebagai alat produksi. Kita peduli kepada mereka sebagai sebuah pribadi, bukan semata karena apa yang bisa mereka kerjakan untuk diri kita maupun organisasi yang kita pimpin. Pada tahap ini, orang mengikuti kita karena mereka ingin melakukan hal tersebut.

Semoga bermanfaat, selamat berkarya untuk Indonesia…!

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Mitos Kepemimpinan: The Anger Myth

  1. zainuri says:

    pemimpin biasanya memang lebih sensitif. apalagi di birokrasi Indonesia. Kita sadari masih nampak warisan lama, dimana ABS kerap menjadi tujuan. dengan banyak bersinggungan dengan hal seperti ini, kita jadi tahu seperti apa pula sebaiknya yang diterapkan. kisah-kisah kepemimpinan yang terjadi di masa rasul, sahabat, atau sampai sekarang tokoh2 sukses yang memimpin dengan nurani, “ngelekke tapi ora ngasorake” perlu mendapat lebih banyak tempat di pemberitaan dan perbincangan kita…. diharapkan, akan memotivasi kita….

    thanks pak Sampurna dengan artikel menarik ini…
    Jazakallah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s