Seri Nilai-Nilai Utama Kemenkeu:

                       KESEMPURNAAN (EXCELLENCE)

Dunia goncang,
diselubungi kegelapan,
Penguasa tidak sudi melayani,
hanya mau dilayani dan disegani.

Buruh tidak mau menghormati majikan,
para usahawan yang memberinya pekerjaan.
Usahawan pun tidak lagi menghormati
para negarawan dan petinggi.

Para petinggi Negara
mengabaikan nasehat para alim ulama;
para alim ulama pun tidak melakoni dalam keseharian,
segala apa yang mereka sendiri ajarkan.

-taken from Niti Shastra, Majapahit’s Ancient Wisdom-

Tepat sekali ilustrasi yang tertulis dalam serat nitishastra tersebut untuk menggambarkan kondisi kita hari ini. Ternyata, sejarah hanyalah pengulangan kondisi manakala tidak kita pelajari untuk memperbaiki diri. Apa yang pernah menjadi perilaku di masa lalu, menjadi niscaya untuk kembali terjadi di masa kini.

***

Dalam kelas-kelas pelatihan dan pembelajaran, saya masih sering mencuplik peristiwa satire di masa lalu. Ketika sekelompok mahasiswa sebuah universitas negeri terkenal di Jawa Tengah, pada masa Orde Baru berkuasa, menggelar upacara bendera penuh dengan parodi. Salah satu parodinya, mem”pleset”kan lagu Garuda Pancasila. Pada teks yang mestinya berbunyi “rakyat adil makmur sentausa”, mereka gubah menjadi “rakyat adil makmurnya kapan?”.

Kita mungkin tidak bersepakat atas tindakan mereka. Namun saya lebih suka untuk menjadikan tindakan mereka sebagai cermin untuk refleksi diri.

Benarkah kita sebagai aparatur negara dengan hak dan kewenangan yang melekat di dalamnya sudah menunaikan kewajiban yang mestinya kita penuhi?

Sudahkah pengelolaan keuangan negara yang menjadi tanggung jawab kita, sebagai insan Kemenkeu, dijadikan alat yang efektif untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat?

Jika kita menjawab sudah, mengapa masih banyak terjadi peristiwa dimana kita yang semestinya bertindak selaku penjaga keuangan negara, sebagaimana semboyan negara dana raksa, justru berperilaku pagar makan tanaman. Mungkin tidak dalam wujud melakukan tindakan korupsi ataupun maladministrasi lainnya. Bagaimana dalam wujud yang lain? Misalnya: nir prestasi, bekerja tidak sepenuh hati, banyak menuntut namun minim kontribusi untuk organisasi dan seterusnya.

***

Apa akar masalahnya?

“Telah terjadi kecenderungan yang meluas dalam organisasi untuk berkompromi dalam bidang mutu, baik mutu etika, mutu kerja, maupun mutu komitmen,“ kata Jansen Sinamo.

Kompromi itu terjadi mulai pada level pribadi dimana orang merasa nyaman mengorbankan kehormatan dirinya dengan bersedia melakukan hal-hal di bawah standar, bahkan yang tergolong nista hingga pada level institusi. Meskipun pada awalnya kenistaan itu berlangsung dalam derajat kecil saja. Tetapi seperti wabah, kenistaan itu meluas dengan sangat cepat menjadi bencana.

***

Dalam dunia organisasi maupun dalam kehidupan sosial, orang yang mampu menjaga kehormatan terutama secara moral dan profesional, akan disegani. Statusnya dalam lingkungan kerja dan sosial akan dihormati.

Oleh karenanya Sinamo menyarankan, “kepatutan moral yang sepadan adalah dengan menjaga kehormatan tersebut dengan sebaik-baiknya, mengedepankan mutu setinggi-tingginya, dan menampilkan mutu sebagus-bagusnya, sehingga pemberi kehormatan itu, apakah negara, pemilik usaha, manajemen, atau customer (stakeholder), merasa puas atas proses dan hasil kerja kita.”

***

Sahabat,…

Nilai-Nilai Utama Kemenkeu mengartikan Kesempurnaan (Excellence) sebagai ‘senantiasa melakukan upaya perbaikan di segala bidang untuk menjadi dan memberikan yang terbaik’.

Dengan jelas, kita dapat menangkap pesan yang diinginkan dari butir nilai Kesempurnaan ini. Masalahnya adalah apa yang kita perlukan agar bisa memenuhi tuntutan tersebut?

Untuk mencapai tuntutan itu, diperlukan konsistensi sikap mental dan perilaku dari insan Kemenkeu untuk melakukan perbaikan terus menerus dan mengembangkan inovasi dan kreativitasnya. Semua itu harus dimulai dari kesadaran yang bersifat self-respect (kehormatan diri) bahwa kita mampu untuk melakukan sesuatu dan berusaha untuk membuktikan kemampuan tersebut dalam bentuk nyata berupa prestasi-prestasi kerja.

Ketika kemudian kita sanggup memberi bukti, disitulah kepuasan dan kebanggaan kerja akan mewujud sehingga memberi rasa percaya diri (self-confident) sebagai pondasi bagi munculnya kreativitas-kreativitas dan inovasi-inovasi kerja berikutnya. Energi-energi kreatif dan inovatif akan mengalir karena memiliki pondasi yang kokoh sehingga perbaikan kinerja yang terus menerus dan berkesinambungan dapat diharapkan tumbuh dengan subur.

Di titik ini, kita memiliki pemahaman mengapa bekerja harus kita kaitkan dengan kehormatan diri. Sehingga bekerja bagi kita adalah sebuah kehormatan yang patut kita jaga dengan menghasilkan kinerja yang excellent.

Disitulah letak timbal baliknya, kinerja unggul yang kita tampilkan sesungguhnya adalah refleksi dari kehormatan diri yang akan mengundang penghormatan dari pihak lain.

Oleh karenanya, jagalah kehormatan diri kita dengan senantiasa berkinerja excellent. Dengan sikap mental tidak cepat puas dengan capaian-capaian yang pernah dihasilkan dan bergerak maju untuk terus menerus menghasilkan karya-karya yang bermanfaat untuk organisasi maupun dalam lingkup yang lebih luas.

Kita, sebagai leader di lingkungan Kemenkeu, semestinya berada di garda depan memainkan peran perubahan agar kekurangan kita di hari ini, tidak berulang pada generasi Kemenkeu mendatang. Sebab, kita adalah agen-agen perubahan itu dan saya sangat yakin bahwa kita sanggup memikul tanggung jawab itu. Bukan semata-mata demi pelaksanaan tugas dan tuntutan jabatan, lebih dari itu: demi kehormatan diri kita pribadi.

Semoga bermanfaat, selamat berkarya untuk Indonesia!

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Seri Nilai-Nilai Utama Kemenkeu:

  1. wahidarifin says:

    Mungkin lebih tepatnya berusaha “nearly perfect” pak, soalnya kita sendiri sebagai pegawai kemenkeu kadang unsur subjektifitas sangat sulit dihindarkan

    • Setuju, mas. Nearly perfect, untuk skala pribadi pun memerlukan perjuangan besar dalam menggapainya. Sejauh dan sekuat upaya kita, semoga bisa sampai ke sana.

      • wahidarifin says:

        Insya Allah, Pak. Jadi teringat perkataan Pak Qeys saat kuliah materi HAKN Oktober 2010 silam; “kita ini sebuah bagian kecil dari rangkaian mesin yang sangat besar dan kompleks, peran kita hanya kecil, optimal pun tak dipuji, tapi bila rusak maka akan mengganggu keseluruhan kerja sistem”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s