Menciptakan Pikiran Positif

Apa kabar, sahabat? … cukup lama saya tak menyapa..:D

Ada pertanyaan yang menggelitik datang dari sahabat baru yang bertemu saya dalam kelas-kelas pembelajaran untuk para pejabat eselon IV Kemenkeu  di Manado beberapa pekan lalu. “Apa yang membuat mas Sampurna tampak enerjik selalu seperti tidak kenal lelah padahal empat hari penuh, di sepanjang hari menemani teman-teman dalam kelas pembelajaran. Gembira terus, banyak senyum dan tawa lagi ,” demikian kurang lebih pertanyaan yang sempat mampir ke saya.

He…he..he…
Sebenarnya, kondisinya tidaklah se-ideal itu. Dalam konteks pekerjaan, kalo mau jujur, sebenarnya banyak dinamika dalam pekerjaan yang acapkali mendatangkan rasa frustasi. Ada yang memang harus dimaklumi, namun banyak juga yang susah untuk dimengerti.

Seperti Sahabat yang lain, beban kerja kita memang terlampau banyak. Bahkan sejak akhir Januari lalu hingga akhir pekan depan, tidak ada libur sabtu-minggu yang bisa saya lewatkan bersama keluarga kecuali ketika ada libur bersama di hari jum’atnya. Panggilan tugas menanti, nyaris tanpa jeda.

Makanya wajar, ketika didiagnosa oleh psikolog dari John Robert Power saya dibilang mengalami tekanan stress dalam pekerjaan yang cukup tinggi. Beliau bilang, stress level saya berada di posisi ambang batas stress tinggi. Sebagai gambaran, dengan skala pengukuran 1-10, level stress dalam pekerjaan saya berada di angka 7,5. Itu ketinggian, idealnya ada di angka 5. Sehingga saya disarankan untuk menurunkan level stress tersebut. Untungnya, saya punya energi level yang membuncah di angka 9,5. Artinya, meskipun mengalami stress yang cukup tinggi, hal itu tercover oleh energi level yang lebih tinggi lagi.

Nah, yang menarik adalah bagaimana caranya me-maintenance agar energi level kita tetap tinggi?

Jagalah perasaan Anda. Peliharalah agar senantiasa positif dan mengalir. Sebab, perasaan Anda adalah bahan bakar Anda.  Perasaan adalah salah satu sumber pembangkit energi kita.

Pikiran dan kata-kata kita tidak akan punya daya apapun dalam kehidupan jika tidak kita sertai dengan perasaan. Mungkin kita memikirkan begitu banyak hal maupun permasalahan dalam sehari yang tidak menghasilkan apapun karena sebagian besar pikiran kita tidak menimbulkan perasaaan dalam diri. Yang bisa mendatangkan makna dalam hidup ini adalah apa-apa yang kita RASAKAN. Bukankah begitu?

Bila kita berpikir, “Wah, saya sudah ga kuat menghadapi atasan baru itu,” pikiran ini akan mengungkapkan PERASAAN NEGATIF kita terhadap atasan. Self talk yang buruk akan menciptakan servo yang buruk, yang pada gilirannya akan menarik hal-hal negatif di sekitar kita. Dalam konteks contoh diatas, wajar jika hubungan dengan atasan menjadi memburuk.

Namun, jika kita berpikir,”Aku bekerja dengan sejawat yang hebat dan atasan yang inspiratif,” kata-kata ini akan membentuk self talk yang positif yang menciptaan servo positif sehingga menarik banyak hal-hal positif di sekitar kita.

Begitulah, kenapa yang muncul kemudian adalah aura kegembiraan. dampaknya, sepertinya kita seantiasa bertemu dengan banyak kemudahan meskipun sesungguhnya situasi yang tengah dihadapi tidaklah se-ideal yang tampak dipermukaan.

Dalam istilah Bapak psikologi positif, DR. Martin Seligman, kondisi seperti itu disebut dengan the Flow. Dia bilang, “Flow is the mental state of operation in which a person in an activity is fully immersed in a feeling of energized focus, full involvement, and success in the process of the activity”. Wajar jika seorang yang tengah berada dalam situasi flow akan dapat merasakan kepuasan batin dari tindakannya, tenggelam/menikmati aktivitasnya, dan merasa memegang kendali atas tindakan maupun situasi yang tengah dihadapi.

Jadi? masukkan emosi-emosi positif dalam setiap tindakan maupun situasi yang kita temui. Berusahalah untuk bisa memasukkan emosi-emosi positif itu. Kata Charles Haanel, “Emosi harus dipancing untuk memberikan rasa kepada pikiran supaya memiliki bentuk.”

Makanya, dari pada mengeluhkan penugasan keluar kota yang nyaris tanpa jeda di setiap akhir pekannya, belum lagi penugasan di hari-hari kerja yang juga tidak mengenal henti. Mendingan saya memilih untuk mencari apa yang bisa memunculkan emosi dan rasa bahagia di sela-sela penugasan yang ada. Itulah sebabnya, pantai dan snorkling atau sekedar pemandangan yang tidak bisa dijumpai di Jakarta sudah membuat hati membuncah dengan perasaan takjub. Alangkah indahnya hidup ini ternyata! Alhamdulillah.

Maka, marilah kita rasakan kegembiraan itu….😀

Semoga bermanfaat, salam hangat.

Sampurna

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Ragam and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s