Semangat Kesempurnaan

Apa kabar, Sahabat?

Dihari pertama ramadhan ini, ijinkan saya mengajak sahabat sekalian untuk merenungkan sebuah kisah berikut…

***
Seorang pria pernah mengunjungi kuil yang sedang dibangun. Di mana ia melihat seorang pemahat sedang membuat sebuah patung.

Tiba-tiba ia melihat sebuah patung yang mirip dengan patung yang sedang dikerjakan sang pemahat, tergeletak di dekat orang itu.

Terkejut, ia bertanya kepada si pemahat, “Apakah Anda memerlukan dua patung yang sama?”

“Tidak,” kata pemahat tanpa melihat ke atas, “Saya hanya memerlukan satu. Namun, yang pertama itu rusak pada tahap terakhir pengerjaannya.”

Pria itu meneliti patung pertama yang tergeletak dan tidak menemukan kerusakan yang jelas padanya. “Di mana kerusakannya?” tanyanya.

“Ada goresan pada bagian hidung patung”, kata si pemahat sembari sibuk dengan pekerjaannya.

“Di mana Anda akan memasang patung ini?”, kejar pria itu. Si pemahat menjawab bahwa patung itu rencananya akan dipasang diatas tiang setinggi enam meter.

“Jika patung itu diletakkan disana, siapa yang akan tahu bahwa ada goresan di hidungnya?”, tanya pria itu.

Si pemahat kemudian menghentikan pekerjaannya, memandang pria itu, tersenyum dan berkata, “Saya akan mengetahui.”

***

Sahabat,…
Apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari kisah diatas?

Bahwa keinginan untuk senantiasa menciptakan keunggulan adalah terlepas dari kenyataan apakah orang lain akan menghargai atau tidak. Seperti pemahat itu, biarpun orang lain tidak tahu akan cacat yang terjadi namun semangat kesempurnaannya menghalanginya untuk mengabaikan bahwa, sekecil apapun, ia tahu ada cacat dalam patung yang tengah dibuatnya. Ia tidak bisa mentolerir hal itu terjadi.

Bagi kita, selayaknya keinginan untuk berkinerja tinggi itu timbul dari kesadaran dalam diri kita untuk selalu berbuat yang terbaik. Excellence atau semangat kesempurnaan, sejatinya adalah dorongan yang timbul dan menggelegak dari dalam diri kita, bukan dari luar. Tidak peduli apakah orang akan memuji atau tidak, menghargai ataukah menghinakan. Tidak penting apakah orang akan memberi apresiasi ataukah malah mempertanyakan komitmen kita karena ketidaktahuannya. Terpenting, Allah sudah mewanti-wanti, “Katabal ihsan ala kulli syai’in (lakukan yang terbaik dalam segala kondisi)”.

Semoga bermanfaat, selamat menjalankan ibadah ramadhan 1433 H.

Salam hangat,
Sampurna Budi Utama

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Ragam and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s