Serial Infaq_01: “Motivasi untuk ber-Infaq fii Sabilillah”. (Tadabbur surah Al baqoroh: 261)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:261)

***

Melalui ayat diatas, Allah SWT menerangkan masalah kehidupan dan kematian dalam bentuk yang lain yaitu hayatul qolb (kehidupan hati) melalui infaq fi sabilillah. Pada ayat ini Allah SWT menerangkan perumpamaan orang yang menginfaqkan sebagian harta yang diberikan Allah SWT untuk meninggikan kalimat Islam. Kebaikan dari tindakan seperti itu, Allah umpamakan sebagai “…serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji…”.

Artinya, jika ada orang yang mau berinfaq di jalan Allah, maka pahalanya akan Allah tingkatkan 700 kali lipat. Dalam dunia perbankan, jumlah itu sama dengan 70.000%. Subhanallah. Oleh karena itu, kita sebagai seorang mu’min tidak perlu mengejar-ngejar bunga bank, karena bunga yang paling tinggi di dunia perbankan ini masih di bawah 100 %, sedangkan ‘bunga’ di sisi Allah sebesar 70.000%. Bahkan Allah SWT mengatakan, “…Allah melipat gandakan balasan bagi siapa yang Dia kehendaki”.

Kenapa Allah bisa berbuat demikian ? Semua ini karena: “…Dan Allah Maha Luas kurnia-Nya lagi Maha Mengetahui”. Allah Maha Luas karunianya, sehingga tidak akan habis diberikan kepada hamba-hambaNya yang sholeh. Allah juga Maha Mengetahui kepada siapa Dia akan melipatgandakan ‘bunga-Nya’ itu. Jadi sangat besar pembalasan yang Allah berikan kepada hambanya yang taat kepada-Nya.

Namun ironisnya, karena banyak diantara ummat Islam yang didominasi oleh pandangan materialistik, tidak banyak yang tertarik dengan ‘bunga’ yang ditawarkan Allah SWT tersebut. Akibatnya, warna kehidupan yang mereka geluti mereka bukanlah kehidupan yang robbani, sebaliknya telah menjadikan materi sebagai tuhan-tuhan baru (fa ka-annahu ilaahu maddah).

Pada ayat ini Allah SWT tidak langsung mewajibkan infaq kepada setiap muslim, akan tetapi memberikan motivasi terlebih dahulu dengan memberikan penjelasan bahwa jika seorang muslim mau berinfaq di jalan Allah, maka ia akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda sebagaimana yang telah dijelaskan pada ayat ini. Jadi dusturul Islam (Undang-Undang Islam) tidak dimulai dengan memberikan beban atau kewajiban (laa yubda-u bil fariidloh) kepada para pemeluknya, akan tetapi dimulai dengan menjelaskan manfaat yang akan didapat jika mereka taat pada aturan-aturan Allah SWT. Metode seperti ini dimaksudkan untuk memberikan memotivasi agar seorang mu’min bersedia untuk melakukan sesuatu yang baik dalam kehidupannya.

Metode seperti ini merupakan pelajaran bagi kita bahwa jika kita akan membuat suatu aturan, hendaklah kita mulai dengan memberikan motivasi terlebih dahulu, dan jangan sampai kita mulai dengan menjelaskan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan. Dalam kehidupan berumah tangga misalnya, ketika kita hendak mengkondisikan anak kita agar bisa menghafal Al-Qur’an, kita bisa memulainya dengan mengatakan kepada anak kita “Nak… hamba Allah yang hafal Al-Qur’an adalah hamba yang mendapat tempat istimewa di sisi Allah SWT. Bahkan orang yang hafal Al-Qur’an, dijamin Allah SWT bahwa kalau mati, jasadnya akan tetap utuh”.

Perlu kita ketahui bahwa kisah tentang para penghafal Al-Qur’an yang tetap utuh walaupun sudah meninggal, benar-benar terjadi di masa kehidupan kita. Ada seorang hamba Allah SWT yang hafal Al-Qur’an, yang kemudian pulang ke kampung halamannya di Aceh setelah menyelesaikan studinya. Ketika sampai di kampung halamannya, ternyata thoghut mengincarnya dan bahkan kemudian membunuhnya karena tidak menyukai kesholehannya. Setelah sekian hari terbunuh, ternyata jenazahnya ditemukan dalam keadaan utuh dan tidak membusuk, bahkan ketika ditemukan wajahnya tersenyum. Realita ini hendaknya kita jadikan motivasi bagi kita sendiri dan juga dalam mendidik anak-anak kita dalam menghafalkan Al-Qur’an.

Setelah motivasi-motivasi itu betul-betul tertanam, baru kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan kita beritahukan. Demikianlah yang hendaknya kita lakukan jika membuat sebuah dustur (undang-undang).
Pada ayat selanjutnya Allah SWT berfirman : “…Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan mengungkit-ungkit pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. 2:262)

Pada ayat sebelumnya kita telah diberikan motivasi oleh Allah SWT untuk berinfaq. Ketika kita berinfaq di jalan Allah, maka harta kita tidak akan habis karena diinfaqkan, akan tetapi malah akan bertambah terus karena akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Harta yang tidak kita infaqkan dan hanya kita makan itulah yang akan habis. Allah berfirman :”…Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 16:96).

Penegasan Allah pada ayat ini menunjukkan bahwa harta yang kita infaqkan di jalannya itu tidak akan habis. Bertambahnya harta benda orang yang diinfaqkan bisa juga dipahami dari segi nafsiyah (kejiwaan). Secara umum orang yang menerima infaq dari orang lain akan merasa senang, sehingga ia mendo’akan orang memberinya. Ketika orang yang kita berikan infaq itu adalah orang lemah, dan kemudian ia mendo’akan kita dengan ikhlas kepada Allah, insya Allah akan terkabul. Seperti kita ketahui, do’anya orang yang lemah, apalagi kalau ia didholimi orang lain, maka do’anya aqrob ilal qobul. Dengan bantuan do’a orang lemah yang kita berikan infaq tadi insya Allah harta kita akan ditambah oleh Allah SWT. Inilah wujud dari al-hayatun nafsiyah (kehidupan hati). Dengan hati yang hidup, kita akan mampu mengeluarkan harta benda kita. Dan tentu saja semua ini kita lakukan hanya karena Allah SWT, bukan karena yang lainnya.

Supaya infaq benar-benar merupakan shurotun hayah (potret daripada sebuah kehidupan), maka infaq ini harus benar-benar sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT. Jangan sampai infaq yang kita keluarkan malah menimbulkan bencana. Kapan infaq menjadi bencana ? Hal ini dijelaskan Allah SWT pada penggalan selanjutnya. Allah berfirman: “…Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan mengungkit-ungkit pemberiannya dan dengan tidak menyakiti perasaan si penerima.” Dari penggalan ini kita bisa memahami bahwa infaq yang diiringi dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti hati penerimanya, maka penerima infaq yang seharusnya merasa senang, berbalik menjadi sebuah kebencian. Orang yang menerima infaq akan merasa daripada menerima infaq akan tetapi hatinya disakiti oleh yang memberi, akan lebih baik tidak usah menerima pemberian itu.

Kalau Islam mengajarkan nilai-nilai yang demikian luhur, di dunia barat ada sebuah falsafah sosiologi yang aneh yang mengatakan “Suatu perbuatan baik, pada gilirannya akan berubah menjadi permusuhan”. Logika yang mereka pergunakan adalah bahwa orang yang berbuat baik biasanya mempunyai nilai lebih daripada orang yang menerimanya. Orang yang memberikan uang berarti lebih kaya daripada yang menerimanya. Orang yang memberikan pekerjaan berarti jabatannya lebih tinggi daripada yang menerimanya. Karena mempunyai nilai lebih, maka orang yang berbuat baik akan merasa lebih tinggi dan merasa super. Sebaliknya, orang yang diberi biasanya merasa rendah dan merasa lemah. Dalam kondisi demikian, orang yang menerima pemberian itu memendam rasa permusuhan dan dendam kepada orang yang memberinya. Ketika itulah maka perbuatan baik yang dilakukan malah membuahkan permusuhan.

Fenomena semacam inilah yang menurut pakar-pakar sosiologi barat jahiliyah dikatakan bahwa “Perbuatan baik pada gilirannya menimbulkan permusuhan”, karena orang yang berbuat baik merasa tinggi. Setelah merasa tinggi, ia akan memperlakukan orang yang diberi dengan seenaknya, yang dalam bahasa Al-Qur’an adalah mengungkit-ungkit. Suatu pemberian yang diikuti dengan kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan bukannya melahirkan rasa syukur dan terima kasih, akan tetapi akan menyebabkan sakit hati dan akhirnya menimbulkan perlawanan.

Falsafah yang dianut oleh orang barat ini bisa jadi benar, jika hal itu dilihat pada masyarakat yang tidak menerapkan sistem Islam dalam kehidupannya. Akan tetapi bagi masyarakat yang memahami Islam dengan sempurna, mereka telah mengetahui bahwa untuk menjaga kemungkinan buruk seperti itu Islam mengharamkan pemberian yang diiringi dengan manna dan adza, seperti yang dijelaskan Allah pada ayat ini.

Kekurangtepatan falsafah barat ini menyadarkan kita bahwa jika kita yang belajar tentang teori-teori sosiologi, jangan langsung percaya dengan teori-teori yang dikemukakan oleh orang-orang barat, karena pendekatan yang mereka pergunakan adalah pendekatan dengan akal mereka sesuai dengan temuan-temuan di masyarakat mereka yang jauh daripada cemerlangnya nilai-nilai Islam. Namun kalau prinsip yang dianut masyarakat kita sama dengan prinsip kejahiliyahan yang dianut masyarakat barat, maka temuan mereka itu bisa jadi sesuai pula dengan realita masyarakat kita. Akan tetapi jika masyarakat kita menerapkan ajaran Islam dengan lengkap dan benar, realitanya akan sangat berbeda dengan yang terjadi di dunia barat.

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Taddabur Al Qur'an and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s