Serial Infaq_02: “INFAQ MENGANTARKAN MANUSIA PADA KEBAHAGIAAN SEJATI” (Tadabbur surah al baqoroh:262)

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan mengungkit-ungkit pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. 2:262)

***

Pada ayat sebelumnya (QS 2:261), kita telah diberikan motivasi oleh Allah SWT untuk berinfaq. Ketika kita berinfaq di jalan Allah, maka harta kita tidak akan habis karena diinfaqkan, akan tetapi malah akan bertambah terus karena akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Harta yang tidak kita infaqkan dan hanya kita makan itulah yang akan habis. Allah berfirman : “Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 16:96).

Penegasan Allah pada ayat ini menunjukkan bahwa harta yang kita infaqkan di jalannya itu tidak akan habis. Bertambahnya harta benda orang yang diinfaqkan bisa juga dipahami dari segi nafsiyah (kejiwaan). Secara umum orang yang menerima infaq dari orang lain akan merasa senang, sehingga ia mendo’akan orang memberinya. Ketika orang yang kita berikan infaq itu adalah orang lemah, dan kemudian ia mendo’akan kita dengan ikhlas kepada Allah, insyaAllah akan terkabul. Seperti kita ketahui, do’anya orang yang lemah, apalagi kalau ia didholimi orang lain, maka do’anya aqrob ilal qobul. Dengan bantuan do’a orang lemah yang kita berikan infaq tadi insyaAllah harta kita akan ditambah oleh Allah SWT. Inilah wujud dari al-hayatun nafsiyah (kehidupan hati). Dengan hati yang hidup, kita akan mampu mengeluarkan harta benda kita. Dan tentu saja semua ini kita lakukan hanya karena Allah SWT, bukan karena yang lainnya.

Supaya infaq benar-benar merupakan shurotun hayah (potret daripada sebuah kehidupan), maka infaq ini harus benar-benar sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT. Jangan sampai infaq yang kita keluarkan malah menimbulkan bencana. Kapan infaq menjadi bencana ? Hal ini dijelaskan Allah SWT pada penggalan selanjutnya. Allah berfirman: “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan mengungkit-ungkit pemberiannya dan dengan tidak menyakiti perasaan si penerima.”

Dari penggalan ini kita bisa memahami bahwa infaq yang diiringi dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti hati penerimanya, maka penerima infaq yang seharusnya merasa senang, berbalik menjadi sebuah kebencian. Orang yang menerima infaq akan merasa daripada menerima infaq akan tetapi hatinya disakiti oleh yang memberi, akan lebih baik tidak usah menerima pemberian itu.

Pada ayat ini kita melihat terdapat beberapa hal yang menunjukkan betapa tingginya bahasa yang dipergunakan Al-Qur’an pada ayat ini. Allah SWT mengatakan: “…Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya….” Setelah menerangkan tentang orang yang menginfaqkan hartanya, harful atfi (kata sambung) yang dipergunakan untuk melarang pelakunya dari sikap mengungkit-ungkit adalah tsumma, bukan wawu atau fa’.

Apa rahasianya ? Kita tahu bahwa tsumma dipergunakan untuk lit tarakhi yang artinya ‘kemudian’. Sedangkan fa’ adalah untuk lit ta’kid yang artinya ‘maka’. Ketika antara dua hal disambung dengan harful attaf (kata penghubung) yang dipergunakan adalah tsumma, maka antara keduanya ada jarak. Karena dua hal yang dihubungkan itu adalah infaq fi sabilillah dengan manna dan adza, ini menunjukkan bahwa antara infaq fii sabilillah dengan manna dan adza adalah dua hal yang tidak seharusnya bersatu, tetapi harus ada jarak. Kalau antara dua hal disambung dengan fa’ berarti antara keduanya ada selisihnya namun hanya sedikit. Sedangkan kalau kata penghubungnya adalah tsumma, maka selisihnya banyak. Dengan dipergunakannya kata penghubung yang berbunyi tsumma, menurut sebagian ahli tafsir ma’nanya adalah bahwa memberi infaq yang pada dasarnya merupakan perbuatan mulia. Dan kalau ada orang yang berinfaq dan tidak diiringi dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti hati penerimanya, maka kemuliaannya lebih besar lagi.

Membiasakan diri agar mau berinfaq di jalan Allah bukanlah perbuatan yang ringan. Namun menjaga agar kita tidak mengungkit-ungkit infaq yang kita keluarkan, apalagi pada saat orang yang menerima infaq kita itu ada masalah dengan kita, adalah perbuatan yang lebih berat lagi. Dan untuk menggambarkan hal ini, maka ta’bir yang dipergunakan Al-Qur’an adalah tsumma bukan yang lain.

Subhanallah. Betapa tingginya nilai bahasa yang dipergunakan Al-Qur’an. Kalau kita membaca Al-Qur’an dengan tartil dan kemudian kita merenungkan ma’na yang terkandung di dalamnya, seolah-olah Al-Qur’an baru turun kepada kita. Inilah barangkali yang dimaksudkan para Ulama’ bahwa Al-Qur’an adalah atho’ullah al-mutajaddid (Al-Qur’an adalah karunia Allah yang selalu baru). Kalau kita membaca sebuah kitab tafsir tentang ma’na suatu ayat Al-Qur’an, kemudian kita membaca kitab tafsir yang lainnya, pasti akan kita temukan sesuatu yang baru yang belum dibahas dalam kitab tafsir sebelumnya.

Selanjutnya Allah mengatakan: ”… mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka.” Kalimat yang berbunyi robbihim, yang merupakan idhofatu robb ila him (disandarkannya kata robb dengan him, yaitu orang yang berinfaq fii sabilillah), adalah tasyrifan lahum (penghormatan yang Allah berikan bagi kaum muslimin yang mau berinfaq di jalan Allah tersebut). Penggunaan uslub seperti ini mengandung ma’na bahwa seolah-olah Allah SWT hanya memperhatikan orang yang berinfaq saja. Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang berinfaq di jalan Allah yang tidak diiringi dengan mengungkit-unkit dan menyakiti hati penerimanya, kedudukannya benar-benar dekat dengan Allah SWT (‘indiyah – di sisi Allah SWT).

Allah menutup ayat ini dengan mengatakan: “…Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” Kadangkala orang yang mengeluarkan infaq dari sebagian harta bendanya, dibayangi perasaan takut kalau-kalau hartanya habis karenanya. Ada juga kemungkinan orang yang mengeluarkan hartanya itu menyesali perbuatan yang telah dilakukannya, sehingga merasa sedih pula.

Pada penutup ayat ini Al-Qur’an menggunakan dua kalimat yang hampir sama yaitu khouf dan hazn.

Apa perbedaan antara keduanya ? Perbedaan antara khouf (khawatir) dengan hazn (menyesal) adalah bahwa yang dimaksud dengan khouf adalah perasaan sedih yang menghinggapi seseorang berkaitan dengan masa yang akan datang. Sedangkan yang dimaksud dengan hazn adalah kesedihan seseorang karena memikirkan apa-apa yang telah diperbuatnya pada masa yang lalu.

Penegasan Allah pada penutup ayat ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa orang yang mau menginfaqkan sebagian harta bendanya di jalan Allah akan terbebas dari dua kesedihan. Ini menunjukkan bahwa mereka yang mau berinfaq fi sabilillah adalah manusia-manusia yang memiliki masa depan yang cerah. Kenapa ? Karena mereka adalah manusia-manusia yang terbebas dari berbagai macam ketakutan berkenaan dengan masa yang akan datang dan tidak pernah merasa sedih atas apa yang telah dilakukannya pada masa yang lalu. Dan manusia yang terbebas dari rasa khawatir dan menyesal merupakan manusia yang menikmati kebahagiaan yang sebenarnya. Sebaliknya orang yang kikir adalah orang yang tidak pernah bahagia karena kehidupannya selalu dilanda berbagai macam ketakutan.

Maka, marilah perbanyak berinfaq dan jemputlah kebahagiaan yang sejati.

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Taddabur Al Qur'an and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s