Menyikapi Badai Permasalahan

Sahabat, apa kabar?
Cukup lama saya tidak berkunjung ke blog ini. Itu, tentu saja, berarti pula cukup lama saya tidak menulis untuk Sahabat sekalian. Seperti biasa, hal tersebut semata karena ada kerja-kerja lain yang menuntut konsentrasi dan pemenuhan tanggung jawab yang tidak boleh semata-mata, “harus saya selesaikan”.

Entah kenapa, beberapa pekan terakhir ini, ketika diundang menemani para A/R dalam sebuah acara, kemudian menemani para eselon III DJP dalam kelas Intermediate Leadership Training, dan terakhir kemarin ketika mengajar di kelas Pra Jabatan, saya menemukan beberapa lontaran kegalauan dari para peserta karena mereka merasa memiliki banyak masalah di kantornya. Seolah-olah, masalah demi masalah yang mereka hadapi adalah hambatan bagi mereka dalam berkinerja bahkan sampai ada yang mengatakan bahwa dirinya mengalami kemandegan dalam pengembangan diri karena, seakan-akan, masalah tidak ada henti-hentinya mendera.

“Hmmm, menarik!”, kata itu langsung muncul dan menari dalam benak saya. Sebuah situasi dan pemaknaan atas sebuah situasi yang sungguh menarik.

Entah kenapa, otak saya langsung berfikir dari sudut pandang yang berlawanan dengan pernyataan teman-teman itu. Ketika teman-teman itu melihat masalah dengan sudut pandang ketakutan yang kemudian menghadirkan kegalauan, saya justru langsung melihat masalah tersebut sebagai suatu bentuk permainan.

Diakui atau tidak, kebanyakan orang memilih zona nyaman dengan jalan menghindari suatu permasalahan. Bagi mereka, masalah adalah suatu bentuk lain dari gangguan terhadap area kenyamanan hidup. Maka, wajar pula jika kebanyakan orang memilih untuk menjadi safety player ketimbang memilih menjadi “penantang” badai. Lagi-lagi, ketakutan atas suatu ketidakpastian seringkala menjadi alasan bagi para safety player.

Ketika saya lontarkan suatu pernyataan, “Bukankah ketidakpastian yang ditimbulkan dari suatu permasalahan sesungguhnya selalu menawarkan dua sisi yang sama-sama mungkin terjadi, yaitu dampak positif maupun dampak negatif?”. Mereka mengiyakan.

Lalu, lontaran saya selanjutnya, “Kenapa Anda selalu melihat terlebih dahulu, dampak negatif sebagai suatu bentuk kepastian dari setiap masalah yang muncul?”. Dititik ini, ada dari teman-teman itu menjadi termenung.

Salah satu resep yang mungkin bisa menjadi preferensi kita jika bertemu dengan situasi itu adalah dengan mengubah ketakutan/kecemasan menjadi suatu tantangan!

Saya telah sampai pada suatu pemahaman bahwa ketika saya takut untuk melakukan sesuatu, sesungguhnya saya sedang berada dalam sebuah situasi ujian. Bahwa sesungguhnya, kualitas diri saya sedang diuji. Yang saya perlukan untuk melewati ujian itu adalah mengalahkan ketakutan tersebut.

Uniknya, justru ketika kita melakukan apa yang kita takuti, ketakutan itu akan sirna dengan sendirinya. Namun bila kita memutuskan sebaliknya, ketakutan itu akan mengendalikan dan memperbudak kita.

Contoh sederhana, pertama kali saya ikut rafting, mungkin sama dengan pemula yang lain, banyak bayangan-bayangan buruk meruak dalam kepala dan menimbulkan rasa takut/cemas tersendiri. Bagaimana jika perahu terbalik dan saya hanyut entah kemana? atau menabrak batu besar? atau jika saya terpelanting dari perahu dan kepala ini membentur batu yang berserakan, apa yang akan terjadi!…

Ketika saya memutuskan, bismillah… jalani saja sebaik mungkin, entah kenapa, justru saya menemukan keasyikan baru yang menimbulkan ketagihan.

Jika tadinya cemas jatuh, justru saya sengaja meminta untuk dijatuhkan. Jika sebelumnya takut jika menabrak batu besar, justru kemudian meminta dicarikan batu-batu yang terbesar untuk sengaja ditabrakkan ke perahu…😀. Justru disitulah, asyiknya sebuah permainan.

Dengan mengubah ketakutan/kecemasan menjadi sebuah permainan dan mengalahkannya, kita akan segera memahami bahwa ketakutan/kecemasan itu sesungguhnya tak lebih dari sekedar tirai asap.

Dalam kehidupan, kita pasti akan bertemu dengan beraneka ragam masalah, bahkan badai masalah. Yang perlu diingat adalah bahwa laut yang tenang justru terjadi setelah badai menerjang. Namun, sudah menjadi tabiat laut bahwa ketenangan laut tidak akan pernah berlangsung lama.

Jadilah sang Pemenang dalam kehidupan! Sejatinya, sang Pemenang adalah mereka yang mengembangkan keberanian untuk memulai dan keberanian untuk tetap bertahan menghadapi situasi sesulit apapun.

Tetap optimis, Sahabat…

Salam hangat dari pelayan Anda,
Sampurna

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Motivasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s