DO WHAT YOU LOVE

Jum’at sore dua pekan lalu, hp saya berdering. Di layar tertulis, “Pak Sam, bisakah malam ini Bapak ke kampus? Ada sesuatu yang akan saya diskusikan”. Sebuah pesan datang dari salah seorang kawan yang sedang mengikuti Intermediate Leadership Training untuk para eselon III DJP di Jurangmangu Bintaro.

“Ok. Insya Allah malam ini saya ke sana,” saya menjawab pendek. Jadilah malam itu kami ngobrol usai sholat isya’ hingga sekitar pukul 21.30 di ruang kerja saya.

***

“Saya sudah cukup lama bekerja di DJP. Beragam penugasan pernah saya jalani, dari kepala kantor hingga kepala bidang sudah saya lalui”, ujar beliau membuka obrolan kami malam itu. Selanjutnya mengalirlah cerita beliau mengenai pekerjaan dan bagaimana pandangan-pandangan kawan itu tentang masa depan karier dan pekerjaannya.

Intinya, Beliau merasa sudah tidak lagi memiliki antusiasme untuk bekerja di kantor. Ada beberapa alasan. Pertama, sudah tidak ada lagi tantangan yang beliau rasakan ketika bekerja di DJP. Kedua, Pola mutasi yang ada, membuat beliau seringkali harus berjauhan dengan keluarga. Padahal, beliau seorang family man.

Di sisi lain, beliau sudah mengembangkan usaha yang sesuai dengan minatnya. Alhamdulillah, usaha ini berkembang dengan baik dan membutuhkan keseriusan untuk membesarkannya.

Setelah mendengarkan cerita beliau, saya sampaikan, “Sangat penting untuk memutuskan bekerja sesuai dengan bidang yang kita minati.” Sebab, begitu kita bekerja pada area yang betul-betul kita senangi, maka kita tidak akan pernah lagi menyebutnya sebagai bekerja. Saya menyebutnya sebagai bermain-main atau bersenang-senang! Bukankah ini akan mengasyikkan?…

Jadi, sangat penting bagi kita untuk menemukan apa yang kita minati, kemudian menekuninya dengan fokus dan semangat untuk menikmati. Kesalahan terbesar yang dapat dilakukan seseorang adalah tidak berusaha mencapai kesuksesan dengan cara mengerjakan apa yang betul-betul ia senangi!

“Jika Anda tidak menyukai suatu pekerjaan, lebih baik berhenti saja karena hasilnya pasti akan payah,” saran Lee Iacocca.

Why? Kok begitu, sih?…

Sebab, ketika Anda mempertahankan suatu pekerjaan seumur hidup, padahal Anda tidak menyukainya, Anda pasti akan gagal! Sebab, jika tidak suka, Anda tidak akan mempunyai passion yang akan menggelorakan semangat juang yang Anda butuhkan untuk meraih kesuksesan!

LoveWhatYouDoMaka carilah, apa yang betul-betul Anda minati dan inginkan dalam kehidupan karier dan profesional Anda. Bekerjalah dalam area itu!

Sebab, ketika kita sudah mengenali apa dan dimana passion kita, kita akan bekerja dengan penuh antusias. Ya, passion akan melahirkan antusiasme. Tanpa antusiame jiwa kita akan kisut, melayu laksana bunga yang kehilangan kesegarannya, tanpa semarak kemudaannya. Antusiasme akan melahirkan semangat yang meluap, suka cita yang membebaskan, serta gairah yang mengalir. Dengan menyenanginya kita akan sanggup berusaha lebih kuat dan bersemangat sekalipun harus jatuh bangun dan berpeluh-peluh… Insya Allah, kesuksesan adalah penghargaan yang pantas untuk diterima.

Bila Anda bekerja pada area/bidang yang tidak Anda minati, itu seperti menulis dengan tangan yang salah. Bukan dengan tangan Anda yang terkuat. Anda bisa melakukannya. Namun, tidak akan bagus hasilnya. Hasil maksimalnya hanyalah berada pada tataran lumayan. Hanya lumayan saja.

Lain halnya jika Anda menulis menggunakan tangan yang tepat, Anda akan mendapatkan hasil yang terbaik yang selayaknya memang bisa diraih. Edward V. Appleton membagi rahasia kesuksesannya meraih penghargaan sains paling bergengsi, Hadiah Nobel Fisika. Dia bilang,” Antusiasme-lah yang membuat saya mampu bekerja berbulan-bulan dalam laboratorium yang sepi.” Baginya, “Antusiasme lebih utama daripada ketrampilan profesional!”

Karenanya, saya sarankan kepada kawan itu, “Jika memang bisnis yang sedang dikembangkannya itu adalah bidang yang memang Anda minati. Tekunilah… Segera ambil keputusan untuk keluar dari DJP, fokuslah pada bidang itu. Jangan pernah menengok ke belakang menyesali keputusan yang sudah diambil!”

***

Begitulah, saya memberi saran dan pandangan-pandangan saya kepada Beliau. Biarlah, Beliau renungkan lebih dalam tentang hal ini. Dalam suasana yang jernih dan tenang.

Satu hal yang ingin saya pastikan Beliau mengetahuinya. Dari lubuk hati yang terdalam, “Apapun keputusannya, Saya mendo’akan yang terbaik untukmu, Kawan…”

Salam hangat, salam 3 (tiga) besar!

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Leadership and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s