-(… CINTAILAH APA YANG ENGKAU KERJAKAN…)-

Pada tulisan yang lalu, saya menganjurkan Anda untuk bekerja pada area yang betul-betul Anda sukai, bahkan lebih dari itu, Anda mencintai pekerjaan itu. Setelah menulis artikel itu, saya mendapatkan banyak pertanyaan yang berkisar pada “bagaimana jika saya belum mendapatkan pekerjaan yang benar-benar saya sukai? Atau saya belum yakin terhadap pekerjaan seperti apakah yang sebetulnya saya sukai itu? Bagaimana saya harus menyikapinya?”

Saya memahami kenapa pertanyaan seperti itu menyeruak. Meski tidak sama, saya yakin betul bahwa kegamangan dalam situasi seperti itu rasanya sama dengan kegamangan saya dahulu ketika harus membuat satu pernyataan untuk menjawab pertanyaan seorang guru, “Apa cita-citamu jika besar nanti, Sampurna?”.

Saat itu, saya belum meyakini apa yang sebenarnya saya inginkan di masa depan. Ada banyak hal yang menarik perhatian saya dan rasanya cocok untuk saya kala itu. Walhasil, saya pun menetapkan untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan dua cita-cita: menjadi ulama atau seorang ekonom. Ternyata, perjalanan keilmuan saya hingga saat ini hanyalah sekedar lebih dekat kepada cita-cita kedua. Hari ini, saya memutuskan untuk tidak menjadi seperti apa yang saya cita-citakan dahulu. Saya memilih untuk menjadi trainer dan coach untuk para Pegawai Negeri Sipil baik Pusat maupun Daerah. Profesi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Justru di profesi inilah, saya begitu menikmati pekerjaan-pekerjaan saya! Di situlah saya menemukan passion saya dan mudah menciptakan kondisi yang dalam ilmu psikologi positif disebut sebagai the flow.

Love-What-You-DoUntuk menemukan pekerjaan yang betul-betul Anda senangi, Anda bisa memulainya dengan berusaha menyukai apapun yang saat ini tengah Anda kerjakan. Cobalah untuk menekuni apa yang tengah Anda kerjakan sekarang dengan penghayatan dan usaha yang terbaik. Seiring dengan penghayatan dan ketekunan Anda untuk memberikan usaha terbaik, Anda akan menemukan banyak keberhasilan di sepanjang jalan. Mungkin, suatu saat nanti, Anda baru akan menyadari bahwa pekerjaan yang tadinya Anda pandang tidak menyenangkan ternyata adalah pekerjaan yang paling Anda sukai.

Saya ingat kisah seorang jurnalis televisi yang dikenal pandai mewawancarai narasumber bagi berita-berita yang dibuatnya. Kepiawaian wartawati ini dalam menggali informasi mengundang perhatian para atasannya. Ia dikenal piawai melontarkan pertanyaan cerdas nan tajam namun dengan cara yang halus hingga membuat setiap nara sumbernya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan mengungkapkan informasi yang mendalam, bahkan eksklusif. Menyadari bakat sang wartawati, atasannya menawarkan pekerjaan yang lebih prestisius kepadanya, yaitu memandu sebuah talkshow televisi.

Sontak, sang wartawati menolak. Katanya, “Saya ini wartawan, tidak mungkin bisa memandu sebuah talkshow!”. Dalam benaknya, bakat dan nalurinya adalah sebagai seorang wartawan dan ia sangat menyukai hal itu. Atas desakan atasannya, akhirnya ia menyerah. Ia menerima tawaran memandu sebuah talkshow berduet dengan partner lainnya.

Awal kariernya dalam memandu talkshow tidaklah mulus. Tayangan perdana talkshow yang ia pandu, harus dilakukan tanpa kehadiran seorang penonton pun di studio. Ketiadaan penonton itu memaksanya untuk memutar strategi, menemukan cara agar para penonton sudi datang ke studio untuk menyaksikan talkshow yang ia bawakan. Kondisi itu memaksanya untuk menyambangi orang yang sedang lalu lalang di jalanan sembari menawarkan donat dan dengan ramah meminta mereka bersedia datang ke studio.

Kesulitan terbesar baginya adalah menemukan cara untuk mendatangkan public figure dalam acara tersebut. Awalnya, ia menginginkan untuk bisa memandu talkshow bintang film mini seri yang sedang digandrungi saat itu. Sayangnya Don Johnson, sang bintang Miami Vice itu, tidak mengindahkan undangannya untuk menjadi bintang tamu. Bahkan setelah berulang kali dikirimi surat undangan berikut bunga untuk meluluhkan hati sang bintang, tetap saja permintaan itu tidak digubris.

Untungnya ia tidak memilih mundur dan berhenti dari pekerjaan itu. Ia cari cara lain untuk bisa merebut perhatian khalayak pemirsa Amerika. Jalan sukses baginya mulai terbentang ketika ia memutuskan untuk menggarap topik-topik talkshow yang berhubungan dengan keluarga dan kehidupan seorang wanita.

Kini, kita mengenalnya sebagai ratu talkshow paling hebat di kolong langit ini. Talkshow-nya mengudara di 136 negara dan disaksikan lebih dari 46 juta pemirsa setiap pekannya. Bukan cuma itu saja, ia juga menjadi selebriti dengan nilai kekayaan lebih dari 15 triliun rupiah!

Talkshow yang ia pandu pernah menjadi acara talkshow peringkat pertama selama 21 musim berturut-turut di Amerika. Suatu capaian yang sangat luar biasa untuk seseorang yang pernah mengklaim, “Mana mungkin saya memandu sebuah talkshow!”. Ya, Anda mengenal dengan baik mantan wartawati itu. Ia bernama Oprah Winfrey.

Jadi, sekali pun Anda pada awalnya merasa tidak berminat pada suatu bidang, itu bukan berarti Anda tidak akan pernah bisa menyukainya sampai kapanpun! Bahkan seandainya Anda membenci sesuatu pada awalnya, itu tidak akan menjamin Anda untuk bisa mencintainya suatu ketika bukan?

“Witing tresno jalaran saka kulino”, begitu pepatah bijak orang tua kita dahulu. Kita bisa menumbuhkan perasaan suka dan cinta hanya dengan cara terus menekuninya. Yang diperlukan adalah terus berusaha menghayati dan melakukan apa yang terbaik yang bisa kita kerjakan. Sembari berusaha mencari makna dari setiap aktivitas yang kita lakukan. Jika itu kita lakukan, kita pun berhak atas kesuksesan. Menyadari hal tersebut, Goethe pernah berpetuah,“Bukan mengerjakan apa yang kita suka, melainkan menyukai apa yang kita kerjakanlah yang akan membuat hidup kita bahagia”.

Saran saya, “Sudikah Anda untuk mulai belajar mencintai pekerjaan Anda? Kemudian, teruslah berupaya memberikan hasil yang terbaik dalam pekerjaan tersebut?”. Bisa jadi, suatu hari nanti Anda akan berujar, “Untunglah, Aku dahulu tidak memutuskan untuk berhenti menekuni pekerjaan yang ternyata membuatku bisa sukses seperti sekarang ini!”

Salam Cinta, Kerja dan Harmoni!

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Motivasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s