Belajar dari Kegagalan

Sahabat,
Meski dalam banyak tulisan saya pernah mengangkat tema tentang belajar dari kegagalan, rasanya saya tidak akan bosan dan berhenti menulis tentang hal tersebut dari berbagai sudut pandang.

Kali ini, ide tulisan ini muncul dari diskusi di kelas pembelajaran bagi para A/R (Account Representative) se Sumut 1, Sumut 2 dan Aceh di Medan dua pekan lalu. Dua orang peserta menyatakan bahwa ditempat kerjanya sulit bagi mereka untuk mengembangkan diri dengan cara berani mencoba melakukan hal-hal baru dalam pekerjaan mereka. Alasannya, mereka dituntut untuk bekerja dengan konsep “zero toleran terhadap kesalahan”. Sementara proses belajar hal-hal baru, identik dengan kemungkinan untuk melakukan kesalahan.

Seorang ibu bahkan curhat karena harus mengganti dengan penghasilan bulanannya akibat kesalahan penetapan pajak yang sebenarnya timbul dari kesalahan sistem IT yang ada. Kejadian itu, kemudian menjadi referensi yang lain sehingga memunculkan sebuah pandangan “bekerja itu yang penting tidak salah, tidak usah neko-neko”.

Saya membayangkan, jika fenomena ini tidak disikap secara bijak oleh para pemimpin di semua level bukankah ini akan mengancam eksistensi organisasi di masa depan?

Memang, sebenarnya fenomena “lemahnya perlindungan dari atasan” bukan hanya dialami oleh level para pelaksana. Dalam beberapa sesi pembelajaran dan diskusi dengan teman-teman eselon IV dan III, bukankah hal tersebut juga kencang diutarakan dan dialami oleh jajaran manajerial kita?

Terlepas dari detail teknis kasus yang kami diskusikan waktu itu, saya menggarisbawahi dua hal sebagai pembelajaran, yaitu ada dua bagian dari keberanian yang akan membawa kita kepada kesuksesan.

awesome-teamworkPertama. Keberanian dalam bentuk kesediaan untuk memulai, bertindak dengan penuh keyakinan, dan melangkah dengan berani menuju arah tujuan kita, kendati tidak ada jaminan untuk berhasil.

Kedua. Keberanian dalam bentuk kesediaan untuk menjalani prosesnya dengan tegar, tetap bertahan, menolak untuk menyerah, dan terus bekerja keras daripada yang lain.

Kenapa kedua hal tersebut penting?

Sebab, begitu kita mulai menapakkan kaki dalam perjalanan mewujudkan impian, kita HARUS membuat keputusan untuk tidak pernah berhenti, tidak pernah menyerah, tidak pernah lari meninggalkan gelanggang.

Keputusan untuk tidak berhenti memberi kita keuntungan besar. Orang yang tekadnya jelas, biasanya menang!

Sebuah penelitian mengenai tujuan dan ketekunan untuk bertahan menemukan bahwa 95% dari tujuan yang ditetapkan, pada akhirnya akan benar-benar tercapai, sejauh orang tersebut tidak pernah menyerah!

Masih ingat dengan Nelson Mandela yang harus mendekam 27 tahun di penjara sebelum pada akhirnya berhasil menumbangkan rezim apartheid? atau Jack Canfield dan Mark Victor Hansen yang harus mendapatkan penolakan dari 33 penerbit sebelum pada akhirnya buku mereka “Chicken Soup for The Soul” laku terjual lebih dari 80 juta copi?

Bagaimana dengan kita?
Tetapkan diri untuk melangkah. Dunia hari ini mengarah pada persaingan yang sangat ketat untuk memperebutkan siapa yang pantas menyandang predikat terbaik!

Quote indah dari James Burn ini semoga bisa menjadi pembakar semangat kita, “Banyak orang mencapai kebesaran berkat banyaknya kesulitan dan kesukaran yang harus mereka hadapi. Semak yang terkuat tumbuhnya justru di atas tanah yang paling keras. Kegelapan mencemerlangkan bintang-bintang.”

Salam CINTA. Mari BEKERJA menciptakan HARMONI dalam kehidupan!

 

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Motivasi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s