Apakah Sukses Sebuah Kebetulan?

Tulisan yang bagus. Semoga membawa kemanfaatan, Sahabat…

***

Saya cukup yakin kita semua sudah sering dengar nasihat entah dari orang tua, guru, atau dari orang-orang yang lebih tua dan berpengalaman dari kita, bahwa untuk mencapai sebuah kesuksesan itu perlu kerja keras dan harus pantang menyerah.

Tapi, apakah kalau kita sudah kerja keras dan memiliki karakter pantang menyerah lantas kita pasti sukses? Jawabannya, “Tidak.” Tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mutlak. Tidak ada satu pun cara jitu untuk sukses. Meski ada puluhan atau bahkan ratusan buku yang “menjanjikan” kesuksesan dengan instan, tidak ada satu pun yang berani menjamin pembacanya akan sukses setelah membaca buku tersebut sampai habis.

Begitu juga seminar-seminar motivasi dengan tema yang fantastis, sang penyelenggara juga pasti tidak akan berani untuk menjanjikan apa-apa. Lalu, bagaimana supaya kita bisa mencapai kesuksesan di dalam hidup ini? Apa yang kita perlukan selain kerja keras dan pantang menyerah? Kita perlu yang namanya faktor keberuntungan. Mungkin ada ribuan contoh nyata yang menggambarkan betapa kerasnya usaha yang telah dilakukan, dan dengan pantang menyerah, namun mereka belum juga sukses. Biasanya, kalau hal ini terjadi pada teman kita, kita akan bilang, “Sabar.

Dewi Fortuna (keberuntungan) belum menghampiri saja. Usaha lagi ya.” Nah, pertanyaannya: Bagaimana kita bisa mengatur keberuntungan kita? Apakah keberuntungan bisa diatur? Ada yang berpendapat keberuntungan itu tidak bisa diatur, tapi ada juga yang bilang bahwa keberuntungan itu bisa dipengaruhi. Maksudnya apa? Pernah dengar quote terkenal dari Oprah Winfrey yang mengadopsi quote dari Seneca, seorang filsuf Roman abad pertama, “Luck is when opportunity meets preparation”? Saya setuju dengan pernyataan ini.

Covey-QuotesKarena memang pada kenyataannya, sering kali mereka yang “siap” yang akan mendapatkan kesempatan. Siap dalam arti apa? Siap di sini meliputi kesiapan ilmu, kesiapan mental, dan kesiapan wawasan. Jangan heran, kalau karena kesiapannya inilah yang membuat seseorang bisa melihat kesempatan, atau yang lebih kita sering juga sebut sebagai peluang. Nah, biasanya ketika seseorang berhasil mengambil peluang yang ada, saat itulah dia dianggap beruntung (lucky).

Padahal, apakah dia berhasil hanya karena dia beruntung? Atau, karena sesungguhnya dia memang siap ilmu, siap mental, memiliki wawasan yang luas, dan mampu melihat peluang serta cekatan dalam mengambil peluang tersebut? Buat mereka yang tidak terlatih melihat peluang (tidak siap) ya jelas saja tidak akan tahu bahwa ada peluang. Dan saat inilah yang sering dikatakan orang, “Anda belum beruntung.

” Padahal, apakah ini hanya karena faktor keberuntungannya yang tidak memihak dia, atau karena dia memang tidak siap? Lalu, kenapa judul tulisan ini “(Apakah) Sukses Sebuah Kebetulan?” Saya telah berbincang dengan kurang lebih 200 CEO, direktur, maupun general manager di program radio maupun di program TV “Young On Top”. Dan, hampir seluruhnya, ketika saya tanya, “Apa yang membuat Anda bisa sukses seperti sekarang?”, jawaban mereka, “Ah, saya beruntung.

” Menurut saya, sukses itu bukan sebuah keberuntungan, bukan sebuah kebetulan. Tapi apakah ada faktor keberuntungan di dalam sebuah kesuksesan seseorang? Jawabannya, “Tentu!” Lalu, kenapa orang-orang sukses selalu mengatakan bahwa mereka beruntung? Menurut saya, yang pasti karena mereka sadar bahwa faktor keberuntungan itu ada di dalam perjalanan mereka dalam menuju kesuksesan, dan mereka tidak mau sesumbar bahwa semua kesuksesannya secara keseluruhan adalah hasil kerja kerasnya semata.

Sejujurnya, ketika karier saya melejit layaknya sebuah roket, saya sempat berpikir bahwa semua kesuksesan yang saya dapatkan adalah 100% karena kerja keras saya. Namun semakin saya merenung dan menganalisis apa yang saya lalui, saya semakin sadar bahwa memang faktor keberuntungan itu ada di sepanjang perjalanan karier saya. Kalau saya tidak memiliki orang tua yang pengertian dan mampu mengarahkan saya, mungkin saya tidak akan memiliki karakter yang baik.

Kalau saya tidak memiliki kesempatan sekolah di luar negeri hingga S-2 mungkin saya tidak memiliki pola pikir yang terbuka. Kalau di pekerjaan pertama, saya tidak memiliki atasan yang baik, mungkin saya tidak belajar sebanyak yang saya dapatkan kala itu. Dan, masih ada ribuan keberuntungan lainnya. Terlepas dari faktor keberuntungan itu benar ada, saya tetap berpendirian bahwa faktor keberuntungan itu tidak bisa sepenuhnya kita kontrol.

Kalau kita “siap”, kita punya kesempatan untuk beruntung. Ini sudah kita bahas di atas. Tapi, kalau kita siap, apakah kita pasti beruntung, kanjelas tidak. Jadi, karena keberuntungan itu tidak bisa kita atur, maka saya selalu bilang: Tidak usah pusingin apa yang tidak bisa kita kontrol, fokus saja ke apa yang bisa kita lakukan. Tidak bisa dipungkiri, banyak juga orang yang kaya karena pure luck, entah karena menang lotre, atau dapat hibah dari orang tua.

Pertanyaannya: Pernah dengar cerita di mana mereka yang kaya namun tidak siap secara mental, uangnya habis juga pada akhirnya? Kalau ini yang terjadi, apakah bisa dibilang mereka sukses? Ingat, apa yang didapat dengan mudah, juga akan hilang dengan mudah. Kenapa? Karena secara psikologis, manusia akan kurang menghargai apa yang dia dapatkan dengan mudah (tanpa kerja keras). Kalau bahasa Inggrisnya: Easy come, easy go. Menjadi kaya, bisa karena kebetulan. Kalau menjadi sukses, saya rasa tidak ada yang kebetulan. Mau sukses? Tidak ada jalan lain kecuali dengan berusaha keras dan pantang menyerah. See you ON TOP! 

Billy Boen ;  CEO PT YOT Nusantara; Director PT Jakarta International Management

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Motivasi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s