KETEGARAN RUMAH TANGGA

Sahabat,…

Ijinkan kali ini tulisannya agak berbeda. Didedikasikan kepada para jomblo yang selesai Ujian Akhir Semester di tingkat terakhir bangku kuliah, sebentar lagi wisuda dan mulai mikir soal.. #eaa… Nikmati sajalah… ngapain berlama-lama😀.

***

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang-orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintahnya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. 2:221).

Kita telah memahami bahwa hanya rumah tangga yang benar-benar berdiri di atas landasan keimananlah rumah tangga yang bisa menikmati kebahagiaan. Ini dapat kita buktikan dalam kehidupan nyata. Secara manusiawi, seorang isteri yang ditinggal suaminya pasti akan merasa menderita. Apalagi kalau ditinggal selama bertahun-tahun, ada yang 10 tahun, 12 tahun, bahkan ada yang 20 tahun. Mujahidin-mujahidin dan du’at ilallah yang sekarang ada di sebuah alam Islami, isterinya ditinggal selama sekian tahun, sehingga kadang-kadang anaknya pun tidak kenal dengan bapaknya, karena bapaknya dipenjara dalam rangka memperjuangkan Islam.

Kalau isterinya ketika menikah dengan suaminya bukan dilandaskan atas dasar keimanan, jihad dan da’wah di jalan Allah, tentu ia akan minta agar diceraikan saja. Akan tetapi karena landasan rumah tangganya adalah keimanan, sang isteri tetap rela menunggu sampai suamiya keluar dari penjara. Dan ketika sang suami keluar dari penjara, ia bukan kemudian santai, tetapi tetap berjihad di jalan Allah SWT, karena dalam hidupnya yang ada hanyalah da’wah dan da’wah. Ini adalah satu hal yang patut untuk kita renungkan. Kita harus bertanya kepada diri kita, laa qodrollah (semoga Allah tidak mentakdirkan), seandainya diantara kita nanti ada yang harus merasakan kehidupan dalam penjara karena rekayasa thoghut, sudahkah kita dan keluarga kita siap menghadapinya ? Siapkan isteri kita selama sekian tahun mendidik anak kita dengan pendidikan yang Islami tanpa kita ada disampingnya ? Atau akan berantakan anak kita karena ketidaksanggupan isteri kita dalam memberikan tarbiyah yang Islami ? Mari kita perhatikan hal ini.

Kalau kita meneriakkan reformasi, yang mula-mula harus kita reformasi adalah keluarga kita sendiri. Sudahkah rumah tangga kita berdiri di atas dasar keimanan ? Ini bukan berarti kita mengharap-harap ujian Allah, karena tidak boleh kita mengharap ujian dari Allah SWT. ‘Jangan kamu mengharap bertemu dengan musuh, tetapi kalau kamu sudah bertemu dengan musuh, fatsbutu (harus tetap tegar)’.

Kita tidak mengharap ujian Allah berupa dipenjaranya kita. Akan tetapi sudah siapkah keluarga kita jika seandainya kita diuji Allah demikian ? Kadang-kadang isteri kita itu kita tinggal sehari dua hari saja sudah rewel. Kalau kita bandingkan dengan isteri-isteri para du’at ilallah di bumi Allah sana, yang ditinggal selama 10 tahun, atau 15 tahun, tidak mengeluh, apakah keluarga kita juga sudah sesiap itu ? Padahal ketika suaminya keluar dari penjara, langsung da’wah dan da’wah, langsung jihad dan jihad. Begitu jihad ditangkap lagi dan dipenjara lagi. Namun demikian isterinya tidak minta cerai.

untukmuKeluarga yang solid semacam ini tidak hanya terjadi pada kehidupan Rasulullah dan para shohabat saja. Kalau diberikan contoh dengan kehidupan Rasululllah SAW dan para shohabat, sebagian orang mengatakan “ Ya.. itu kan Rasul, tentu saja bisa”. Contoh yang sekarang kita angkat ini terjadi sekarang dan orangnya masih hidup di sebuah bumi Islam. Ketegaran semacam ini bisa diwujudkan karena pernikahannya benar-benar mabniyyun ‘alal iimaan (dibangun di atas dasar keimanan). Makanya sekali lagi, penikahan jangan hanya dianggap sebagai sekedar pemenuhan selera pribadi. Kita tidak dilarang mempunyai selera pribadi, tetapi selera kita itu hendaknya kita sesuaikan dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam hadist dengan jelas dikatakan “Laa yu’minu ahadukum hatta yakuuna hawaahu tab’a bimaa ji’tu bihi (seseorang diantara kamu tidak beriman, sehingga menjadikan hawa nafsu atau seleranya, mengikuti apa yang aku bawa, yaitu Al-Islam). Jadi keimanan bukan hanya sekedar untuk diucapkan, tetapi harus dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Masalah penikahan ini adalah masalah yang asasi (prinsip) dalam Islam. Ketika Islam menghendaki menuntut tegaknya sebuah masyarakat Islam, itu tidak mungkin bisa terjadi kalau rumah tangga-rumah tangga yang ada bukan rumah tangga yang Islami.

“Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.

Jadi masalah pernikahan itu merupakan ayatum min ayatillah. Pernikahan adalah sesuatu yang unik. Ada orang yang sebelum menikah tidak saling mengenal sama sekali, kadang-kadang sebagian orang bahkan hanya mengenal calon isterinya lewat sebuah foto saja, dan oleh Ustadznya dijelaskan bahwa ia sholeh atau sholehah, mereka kemudian bisa bersatu dalam satu rumah tangga yang Islami. Dan pasangan yang seperti ini bisa saling mencintai.Darimana cintanya ? Tidak ada yang bisa membuat seperti ini, kecuali made in Robbani. Jadi kalau ada orang yang menganggap bahwa pacaran sebelum nikah adalah hal yang penting, patut dipertanyakan. Banyak orang yang pacarannya dua atau tiga tahun, tetapi setelah menikah malah sering ribut dan saling menjelek-jelekkan, karena dulunya sama-sama hidup dengan warna jahiliyah. Kalau antara suami dan isteri dulunya sama-sama rusak, setelah berumah tangga akan saling membongkar kejahiliyahannya masing-masing. Akibatnya pasangan yang seperti ini akan selalu tersiksa.

Perbuatan ma’shiyat itu pada dasarnya akan menyiksa pelakunya sendiri, karena suatu perbuatan ma’shiyat akan membuat trauma pelakunya. Di sinilah makanya Islam memberikan tuntunan dalam melaksanakan kehidupan, supaya kita bersih dari perbuatan ma’shiyat, termasuk dalam pembentukan rumah tangga. Inilah rahasianya mengapa ketika Allah mengangkat Muhammad SAW sebagai Rasul, beliau dijaga agar sejak kecil menjadi orang yang bersih. Bersih akhlaqnya, bersih pergaulannya, dan sebagainya, sehingga ketika menjadi seorang Rasul bisa melaksanakan perintah-perintah Allah dengan sempurna dan tidak menjadi cemoohan masyarakat.

Hukum masyarakat seringkali terasa lebih keras daripada hukum yang berlaku secara formal. Ketika ada seorang pemuda yang dulunya jahiliyah kemudian aktif berda’wah, masyarakat masih berkata “Ah sekarang saja dia begitu. Dulunya seorang preman dia itu”. Jadi masyarakat seringkali masih saja mengingat masa lalu seseorang walaupun orang tersebut sudah berubah perilakunya. Oleh karena itu Islam benar-benar menjaga agar kita tidak mudah berbuat ma’shiyat, terutama dalam pembentukan rumah tangga. Jadi penikahan merupakan ayatum min ayatillah (ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah SWT). Oleh karena itu dalam masalah pernikahan ini hendaknya kita benar-benar memperhatikan aturan Allah dengan perhatian yang bersih yang penuh dengan qudroh imaniyah (keimanan kepada Allah).

Masalah pernikahan itu tidak hanya sekedar kepentingan individu. Diantaranya buktinya adalah bahwa Rasulullah SAW selalu memutaba’ahi (mengontrol) para shohabatnya yang akan menikah. Ketika ada seorang shohabat yang akan menikah dengan seorang wanita Anshor, Rasulullah bertanya “Calon isterimu wanita Anshor?” Shohabat itu membenarkan. Kemudian Rasulullah mengatakan “Lihat dulu, dimatanya si wanita Anshor itu ada sesuatu”. Perkataan Rasulullah SAW ini menunjukkan besarnya perhatian beliau atas pernikahan para shohabatnya.

Jadi seorang laki-laki boleh melihat calon isterinya, sebelum ia memutuskan untuk menikahinya. Ini untuk menghindari agar jangan sampai ada sesuatu yang disembunyikan, sehingga menimbulkan kekecewaan di belakang hariJadi seorang qoid (pemimpin) itu senantiasa mengontrol para jundinya, agar selalu berada pada jalan yang diridloi Allah SWT. Hatta dalam masalah pernikahan pun, Rasulullah tidak membiarkan masyarakatnya untuk diperbudak hawa nafsunya. Dan hubungan antara Rasulullah dengan para shohabat yang seperti ini, terbukti telah menghasilkan sebuah generasi yang terbaik. Jika kita menghendaki masyarakat yang seperti itu bisa terwujud dalam masyarakat kita, tidak ada hal yang harus kita pilih kecuali meneladani Rasulullah dalam segala hal, termasuk dalam masalah pernikahan ini.

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Taddabur Al Qur'an and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s