Belajarlah dari Suster Apung…

Apa kabar, Sahabat… Mohon maaf, lama tak menyapa dan berbagi inspirasi.

Beberapa waktu lalu, saya diminta Biro SDM untuk mengisi sesi Coaching for Improvement bagi para eselon IV di lingkungan Kemenkeu. Sepanjang sesi berlangsung, banyak sekali diskusi hangat yang terjadi menanggapi pertanyaan dan pernyataan yang dilontarkan para peserta. Uniknya, mayoritas dari pertanyaan dan pernyataan tersebut, oleh peserta disimpulkan sebagai mewakili fenomena gunung es ketidakpuasan terhadap kesejahteraan dan kenyamanan mereka selaku pegawai. Mulai dari kebijakan mutasi, promosi, hingga urusan salary yang dikeluhkan para anak buah maupun mereka rasakan sendiri. Memang mengurusi pegawai itu sangat menantang, sebab setiap pegawai memiliki keinginan yang unik.

Meski bisa memahaminya, tetap saja saya terhenyak. “Wah, sepertinya saya harus melakukan coaching terlebih dahulu kepada para pejabat ini. Baru kemudian mengajarkan ilmu dan ketrampilan coaching kepada mereka,” saya membatin.

Maka, saya memilih untuk keluar dari rencana pembelajaran yang seharusnya saya bawakan menggunakan metode pembelajaran yang telah dibakukan oleh Development Dimention International, tempat saya tersertifikasi sebagai coach, untuk menyesuaikan dengan situasi kelas hari itu. Setelah itu, materi mengenai coaching for improvement bisa saya deliver untuk mereka. Alhamdulillah, sesi hari itu berakhir dengan memberikan kesan positif bagi para peserta.

Pentingnya Memiliki Pikiran Positif

Pepatah Arab bijak mengatakan, “Wa ‘ainur-ridha ‘an kulli ‘aibin kaliilatun (Jika kita melihat sesuatu dengan positif, maka semuanya akan terlihat baik). Kamaa anna ‘aina-ssukhti tubdi-l-masawiya (Sebaliknya, jika kita melihat sesuatu dengan negatif, maka semua yang nampak adalah kejelekan).

Tak bisa dipungkiri, hidup ini memang mengenai cara pandang, tentang bagaimana kita merespon berbagai persoalan di sepanjang kehidupan. Cara pandang terhadap permasalahan hidup akan menentukan sikap & perasaan yang kita bangun terhadapnya. Pikiran mengerakkan sikap & perasaan kita.

Saya percaya, semua yang ada didunia ini, kecuali yang berasal dari-Nya, diciptakan dua kali. Penciptaan pertama selalu bermula di pikiran kita. Kitalah sesungguhnya pencipta isi pikiran-pikiran itu. Pikiran adalah alat ukur yang digunakan manusia untuk memilih sesuatu yang dinilai baik dan lebih menjamin masa depan dirinya. Yang dibutuhkan hanyalah memastikan kita mampu mengelola pikiran agar senantiasa positif. Agar tindak tanduk sebagai implementasi dari isi pikiran juga senantiasa positif. Sebab kebaikan tidaklah akan melahirkan kecuali kebaikan pula. Demikian pula hukum kebalikannya.

suster-apungSaya teringat sesosok perempuan tangguh, abdi negara dan masyarakat yang langka kita punya. Namanya, Andi Rabiah. Sedari kecil, perempuan kelahiran 29 Juni 1957 itu bercita-cita menjadi perawat. Di usianya yang kedua puluh, takdir membawanya menggapai mimpi menjadi seorang perawat. Satu hal yang tak disangkanya adalah ia menjadi suster apung untuk melayani sekitar 16.000 penduduk yang tinggal di 30 kepulauan yang berbeda di sepanjang Laut Flores, Laut Jawa, dan Selat Makassar.

Sejak 1997, ia harus terapung membelah lautan menghampiri siapa pun yang membutuhkan layanan kesehatan yang mampu ia berikan. Seorang diri, berbekal perahu sederhana ia menembus lautan lepas. Jarak terdekat antarpulau yang ia layani membutuhkan waktu 3 jam perjalanan, yang paling jauh harus ditempuh 13 jam untuk bisa mencapai Pulau Kapoposan dan Pulau Sabaru. “Kadang saya pergi malam, besok baru sampai di pulau. Jadi, semalaman berada di lautan dengan perahu kecil,” tuturnya tegar.

Gajinya hanya 1,7 juta per bulan. Itu tak menghalanginya untuk melakukan pekerjaan yang melebihi tanggung jawabnya. Bergelut dan mengobati berbagai macam penyakit: malaria, tipus, penyakit kulit, diare TBC, dan kusta mestinya adalah porsi seorang dokter. Bukan perawat seperti dirinya. Apalagi ditengah keterbatasan fasilitas dan stok obat-obatan yang ia punyai. Walhasil, ia pun pernah memberikan cairan infus yang sudah kadaluarsa kepada seorang pasien. “Alhamdulillah, orang yang menerima cairan infus itu hingga kini masih hidup,” ujarnya masygul pada presenter acara talkshow yang mewawancarainya di salah satu televisi swasta.

Pun juga, ia pernah terpaksa berperan sebagai bidan meski dengan ilmu kebidanan seadanya. Ia menuturkan bahwa dirinya pernah membantu orang bersalin dengan plasenta tertinggal di kandungan. “Alhamdulillah, ibu dan bayinya selamat.” Ya, ia memang dituntut oleh keadaan untuk serba bisa mencari solusi atas setiap masalah yang terjadi.

Kondisi masyarakat miskin yang tak mampu ke rumah sakit dan tak terjangkau oleh layanan kesehatan lainnya menjadi alasan baginya untuk tetap bertahan menekuni pekerjaan itu. “Ada kepuasan tersendiri bila orang yang ditolong sembuh. Bahkan saya rela tidur di rumah pasien menunggu sampai pasien sembuh”, ia menambahkan, “Mungkin kalau saya pindah ke darat, saya tidak dibutuhkan seperti kalau di Pulau. Karena itu, saya ingin tetap di Pulau,” kata Rabi’ah.

Duh, malunya diri mengenang sosok tangguh ini. Sesusah-susahnya kerja di Kemenkeu, rasanya tidak pernah ada kondisi separah seperti yang dihadapi Ibu Rabi’ah. Bahkan, suatu kali ia pernah mengalami kecelakaan ditengah laut. Kapalnya pecah diterjang ombak besar, ia pun terdampar di karang selama tujuh hari sebelum diselamatkan oleh seorang nelayan. Luar biasa. Ia memiliki mentalitas yang sulit dicari padanannya.

Bekerja tanpa pusing memikirkan fasilitas, gaji, sarana dan prasarana, karier, jam kerja maupun kejelasan SOP dan tanggung jawabnya. Wajar jika kemudian banyak penghargaan tersemat untuknya. Lebih dari itu, ia punya ribuan cinta dari penduduk pulau yang dilayani. Belum lagi, insya Allah, pahala dan amal shalih yang kelak akan menjadi sandaran di akhiratnya.

Sahabat…
Tolong cerita ini jangan diartikan bahwa saya selalu bisa menerima apa pun, dengan pasrah, situasi yang terjadi di Kemenkeu kini dan mendorong Anda untuk bersikap serupa. Menerima apa pun yang terjadi tanpa pembenahan. Tentu kita menginginkan arah perubahan yang bisa memastikan semua bergerak kearah perbaikan yang positif. Apa pun kondisi yang tengah terjadi itu. Hanya saja, saya ingin mengingatkan diri sendiri, mudah-mudahan Sahabatpun tergerak pula, ada pula yang harus kita bangun dalam diri. Diantaranya adalah etos kerja..,. semangat pengabdian…, dan rasa syukur.

Setidaknya hal itu, yang saya yakini, harus kita tanam melalui afirmasi terus menerus ke dalam pikiran kita. Memang kita punya banyak alasan untuk tidak puas, namun bukan itu yang kita butuhkan saat ini. Kita butuh solusi, ketika belum ada perbaikan seperti yang kita inginkan. Salah satu solusi itu adalah penyikapan yang benar atas masalah yang ada. Agar kita tidak dikenal sebagai pribadi yang berisik, namun minim kontribusi.

Jack Canfield dan Mark Hansen dalam Aladdin Factor merilis hasil sebuah riset. Kata riset tersebut, “Setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran. Satu-satunya yang dibutuhkan oleh pikiran itu adalah pengarahan. Jika arah yang ditentukan bersifat positif maka sekitar 60.000 pikiran akan keluar dari memori otak ke arah positif. Demikian pula sebaliknya.”

Jadi, janganlah larut dalam pikiran yang tak bermanfaat apalagi hanya mendramatisir masalah yang sama sekali tak menyelesaikan masalah. Sayangnya, kebanyakan kita gemar melakukan hal tersebut. Riset dari fakultas kedokteran di San Fransisko menyatakan bahwa 80% pikiran manusia bersifat negatif. Bisa dibayangkan jika setiap hari kita memproduksi 60.000 pikiran dan 80% darinya bersifat negatif, berarti setiap hari kita memproduksi 48.000 pikiran-pikiran negatif.

Duh, alangkah capeknya! Hidup kita terlalu indah jika harus ditukar dengan kesengsaraan semacam itu, Sobat…

Salam cinta selalu untuk Anda…,
Sampurna Budi Utama

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Motivasi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s