AGAR SENANTIASA “TERBAKAR”

Menemani para eselon IV Kementerian Keuangan di Training Kreativitas dan Inovasi untuk Sektor Publik selama empat hari di Balikpapan pekan lalu, banyak memberikan pembelajaran baru bagi saya. Selalu ada yang bisa dipelajari dan dikembangkan dari kebersamaan di kelas-kelas training yang saya ampu.

Salah satu yang menarik untuk dicermati adalah pertanyaan di sesi siang hari kedua training berlangsung. “Pak Sam, sebelum dilanjutkan bahasannya, bolehkah saya bertanya dahulu?” ujar seorang peserta dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

Setelah saya respon dengan anggukan sembari tersenyum lebar, beliau melanjutkan.

“Seringkali kali saya “terbakar” kala mendengar paparan dari para motivator. Seperti juga yang kali ini terjadi. Namun, sayangnya itu tidak berlangsung lama. Dalam beberapa minggu bahkan dalam bilangan hari kemudian, perasaan itu menghilang. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar kondisi seperti itu tidak terus berulang? Saya khawatir tidak lama setelah mengikuti training, perasaan ini akan menguap juga”, tuturnya.

Pertanyaan itu muncul, disela-sela story telling saya ketika memodel pikiran manusia dan cara kerjanya. Di hari sebelumnya kami sempat membahas struktur dan cara kerja otak manusia. Pertanyaannya sangat pas untuk mengeksplorasi kedua topik tersebut.

“Apa visi hidup, Bapak?”, saya bertanya sebelum membahas pertanyaan tersebut. Bagi saya penting sekali untuk mendapatkan jawaban ini terlebih dahulu. Mengapa?

Banyak orang dengan mudah mampu mendengar masukan dari pihak eksternal, apalagi jika itu terkait dengan kepentingan dalam hidupnya. Akibatnya, semangat dan motivasi segera menyala sebagai suatu respon. Umumnya, memang begitu. Ketika berbicara tentang motivasi yang diinduksikan pihak luar/eksternal ke dalam diri kita, lazimnya ada suatu percikan yang langsung timbul dalam diri. Masalahnya adalah bagaimana menjaga agar semangat dan motivasi yang terbangun itu bisa bertahan lama?

Saya memberi resep sederhana agar semangat dan motivasi itu bertransformasi menjadi percikan semangat dan motivasi yang bersifat internal. Ini penting, sebab semangat dan motivasi internal bersifat lebih long term bahkan bisa permanen. Pertama, kaitkan semangat dan motivasi yang terpercik itu ke dalam visi hidup Anda.

Visi hidup ini sangat penting. Apapun rumusannya, ia akan menjadi pemandu arah kehidupan kita. Ibarat seorang pilot yang menerbangkan pesawat terbang. Jika ia tidak punya tujuan yang jelas, hendak kemana pesawatnya diarahkan, bisa jadi ia akan kehabisan bahan bakar di udara yang menyebabkan pesawatnya didaratkan dengan cara yang sangat membahayakan keselamatan diri.

Visi adalah ruh bagi kehidupan kita. Tanpanya, kehidupan akan terasa hambar dan daya juang pun tak memiliki kanal sebagai saluran untuk menumpahkannya.

Sebagai contoh, kepada peserta training, saya memaparkan visi hidup saya. Saya punya tiga visi besar. Pertama, visi pribadi selaku hamba Allah. Kedua, visi pribadi selaku suami serta orangtua dari anak-anak. Ketiga, visi pribadi berkaitan dengan karier dan pekerjaan.

SampurnaBerkaitan dengan visi ketiga, mimpi saya adalah menjadi seorang trainer terpercaya bagi PNS Pusat dan Daerah yang berjiwa melayani.  Untuk memperjelas visi ini hingga mudah untuk dirasakan secara emosi dan memiliki kejelasan tolok ukurnya, saya menargetkan: Di tahun 2020, seluruh Kementerian dan Lembaga Negara serta 20% pemda yang ada di Indonesia telah menggunakan jasa pelatihan saya.

Sejak merumuskan visi itu, apa yang saya lakukan selanjutnya adalah melakukan afirmasi (self suggestion) secara terus menerus untuk menanamkan ke dalam pikiran bawah sadar tentang citra diri sebagai seorang trainer terpercaya yang berjiwa melayani. Dalam konteks ini, energi yang mengalir dari motivasi eksternal yang terbangun saya gunakan untuk menguatkan upaya pencapaian visi hidup. Saya tahu, energi akan mengalir ke mana niat dan fokus dipancangkan.

Saya membayangkan semangat dan motivasi yang diinduksikan oleh pihak eksternal tak ubahnya seperti kayu yang membakar api unggun. Sedikit demi sedikit, batang-batang kayu itu dilemparkan ke dalam tumpukan kayu bakar untuk menggelorakan upaya pencapaian visi. Karena visi hidup ini begitu penting, maka menjaga agar api terus menyala adalah sebuah keharusan. Itulah sebabnya, terkadang ketika merasa mengalami dis-orientasi dalam upaya pencapaian visi tersebut, sengaja saya mencari pihak-pihak maupun sumber-sumber lain yang bisa memotivasi saya kembali. Memperbaiki niat dan fokus dalam pencapaian visi hidup diperlukan agar energi tak terhambur tanpa daya ungkit.

Resep kedua adalah action-kan semangat dan motivasi yang memercik itu. Mengapa harus begitu?

Pernahkah Anda mengalami situasi di mana motivasi rasanya menguap, hilang entah kemana? Situasi yang membuat semangat kita untuk melakukan sesuatu seperti tiada dan membuat kita tak berdaya. Apa yang Anda lakukan ketika itu?

Sebagian orang memilih untuk menyalahkan situasi. Sebagian lain memilih untuk menunggu munculnya mood untuk kembali beraktivitas. Masalahnya, kehidupan terus bergulir dan kita tidak bisa hanya diam menunggu untuk mendapatkan hasil. Sebenarnya, jika mengetahui rahasianya, kita bisa memicu motivasi untuk berkinerja.

Masih ingat rumus energinya Einstein? E = MC2. Mengacu ke rumus ini, energi berbanding lurus dengan kecepatan. Jika kecepatannya nol, dengan asumsi massa bersifat konstan,  maka energinya adalah nol.

Kecepatan itu sendiri berhubungan dengan gerak. Karenanya, untuk memunculkan energi, rumusannya mudah: bergeraklah! Jangan menunggu motivasi muncul baru bergerak. Aturan mainnya harus dibalik, bergeraklah untuk memunculkan motivasi.

Menariknya adalah begitu kita bergerak, kecepatan tidak lagi nol, maka energi pun tidak lagi nol. Semakin cepat kita bergerak, energi semakin meningkat dengan koefisien kuadrat. Jadi, mulailah bergerak. Mulailah action! Energi Anda pun akan meningkat dan bertambah. Ketika itu terjadi, dorongan dalam diri/motivasi pun akan meningkat. Motivasi mengikuti tindakan yang diambil seseorang. Itu sebabnya, action menjadi penting.

Motivasi bisa dipicu. Pemicunya adalah apa yang kita pikirkan dan lakukan. Paksa tubuh untuk bergerak sembari berpikir. Pikiran dan tubuh kita adalah satu sistem yang saling mempengaruhi. Pikiran memicu, tubuh merespon. Tubuh memicu, pikiran merespon. Oleh karena itu, jika sedang lemah motivasi jangan mengeluh dan do nothing. Ketika motivasi lemah, kita justru memerlukan lebih banyak gerak. Jangan diam dan menunggu. Jika Anda selalu bertindak, terus menerus menjaga untuk mengambil posisi action, Anda tidak akan pernah kehabisan motivasi.

Itu dua resep saya menjawab pertanyaan peserta training dari DJBC.  Saran saya untuk Anda, jangan cepat percaya dengan efektivitas dari kedua resep itu! Mendingan Anda buktikan saja sendiri dengan mencobanya terlebih dahulu. Bagaimana dengan pengalaman saya pribadi? Jelas, saya sudah membuktikannya selama ini…😀.

Selaksa cinta untuk Anda, Sahabat…

Salam hangat selalu.

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Motivasi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s