Dari Mana Pola Pikir Terbentuk?

Salah seorang guru saya dalam bidang neuro linguistik programming pernah berbagi pengalaman menarik tentang seorang kliennya. Sang klien, seorang pengusaha di Surabaya, mengeluhkan peristiwa-peristiwa yang sering terjadi dalam perjalanan bisnisnya. Pendeknya, ia kerapkali mengalami kegagalan dalam deal-deal bisnis.

Setiap kali terlibat dalam lobby-lobby transaksi bisnis yang melibatkan uang dalam jumlah besar, ia selalu gagal mencapai deal di tahap akhir lobby-lobby bisnis tersebut. Pada akhirnya, ia hanya bisa terbengong-bengong karena kontrak-kontrak bisnis yang nyaris disepakati pada akhirnya melayang dan berpindah tangan ke pengusaha lain. Uniknya, kalo kontrak-kontrak itu hanya melibatkan uang dalam jumlah nominal kecil, kesepakatan mudah didapat dan order pun menjadi miliknya. Ada apa? Mengapa hal seperti itu sering kali ia alami? Pertanyaan-pertanyaan yang berputar di benaknya sekian lama itu akhirnya mengantarnya bertemu dengan guru saya.

Selidik punya selidik, dalam sesi konsultasi, guru saya menemukan akar permasalahannya. Rupanya di masa kecilnya, pengusaha itu sering mendengar orang tuanya ribut gara-gara masalah uang. Tidak begitu jelas baginya, mengapa uang selalu menjadi pemicu percekcokan sengit antara kedua orang tuanya. Di masa kecilnya, keluarga pengusaha itu bukanlah keluarga yang kekurangan. Apa lagi miskin.

Entah kenapa kemudian dalam pikiran pengusaha itu, di usianya yang masih kanak-kanak, terbentuk sebuah penggambaran bahwa uang adalah sumber mala petaka. Seiring dengan seringnya ia melihat pertengkaran kedua orang tuanya, keyakinan bahwa uang adalah sumber masalah bagi hidupnya pun terbentuk. Bahkan, tanpa ia sadari gambaran uang sebagai sumber masalah berubah menjadi sebuah keyakinan yang semakin mengkristal.

Sebagai coach dengan jam terbang tinggi, guru saya segera menyadari apa yang sebenarnya tengah terjadi. Sesi terapi pun dilalui hingga pengusaha itu bisa keluar dari permasalahannya. Kabar baiknya, tak lama setelah itu datang berita. Ada kesepakatan bisnis yang bisa dituntaskan oleh pengusaha itu. Sebuah kesepakatan bisnis yang melibatkan uang dalam jumlah besar.

***

Apa yang terjadi dengan cerita tentang pengusaha itu? Rupanya, keyakinan yang salah tentang uang di masa kecil pengusaha itu menjelma menjadi sebuah pola pikir. Keyakinan yang salah, bahwa uang adalah sumber masalah, kemudian membentuk pola pikir yang menghambat perjalanan karier bisnisnya. Ia menjelma menjadi mental block di masa dewasanya.

Setiap kali akan mengikat persetujuan bisnis, pikiran bawah sadar bahwa uang adalah sumber masalah menyeruak secara otomatis. Dalam benaknya, jika ia setujui perikatan bisnis itu dan uang dalam nominal yang banyak kemudian menjadi limiting_beliefs_mean_shadow3miliknya, hidupnya akan mengalami masalah. Akibatnya, ia menjadi ragu-ragu untuk bertindak. Keraguan inilah yang kemudian dilihat oleh calon mitra bisnisnya dan diartikan sebagai bentuk ketidaksiapan pengusaha itu untuk menjalankan kesepakatan bisnis secara profesional. Wajar kalau kemudian mereka kabur dan berpaling ke penyedia jasa lainnya.

***

Sebagian kalangan meyakini bahwa pola pikir adalah pembentuk kehidupan seseorang. Ketika seseorang berpikir, baik secara sadar maupun tidak sadar, uang adalah sumber bencana maka tindakan-tindakan di sepanjang kehidupannya akan diarahkan oleh pola pikir ini.

Dari mana kita memperoleh sebuah pola yang menyebabkan kita berpikir, merasakan dan bertindak dengan cara tertentu terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar kita? Dari mana pikiran-pikiran yang membentuk pola itu berawal?

Sebenarnya pola pikir kita adalah hasil bentukan dari pikiran orang lain maupun hasil interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Pola pikir acap kali mirip dengan hadiah yang diterima dari orang lain bahkan manakala kita tidak memintanya. Umumnya, manusia adalah produk dari kebiasaan berpikir orang lain.

Itu pula yang terjadi dengan pengusaha dalam cerita diawal tulisan ini. Tanpa sadar, ia menyerap pertengkaran tentang uang di masa kecilnya. Persepsi negatif tentang uang pun mulai terbentuk dalam benaknya. Dalam perkembangannya, ia memperhatikan dampak dari pertengkaran-pertengkaran itu dan secara sadar beranggapan, membenarkan bahkan kemudian meyakini bencana-bencana yang ditimbulkan sebagai akibatnya.

Waduh, berbahaya sekali kalau seperti itu cara kerjanya. Berarti kita  tidak memiliki kendali atas diri sendiri dong? Kalau kita dilahirkan dan berada di lingkungan yang baik, itu bagus! Bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya?

Untungnya, Allah sudah menciptakan seperangkat mekanisme yang otomatis ter-install dalam pikiran manusia. Dunia neuro linguistic programming menyebutnya sebagai kemampuan untuk melakukan filterisasi. Setiap manusia memiliki kemampuan dalam dirinya untuk menyaring semua informasi yang diterimanya.  Melalui kemampuan itu, kita bisa menyaring informasi dan menentukan mana yang akan kita terima, dihilangkan (delete), digeneralisasi, atau bisa pula dimaknai ulang dalam bentuk distorsi dari makna awal informasi yang diterima.

Ketika kita tidak secara kritis menyaring semua informasi yang kita terima, sesungguhnya kita tengah membiarkan nilai-nilai, keyakinan, kebiasaan, atau harapan-harapan orang lain masuk dalam pikiran bawah sadar kita dan membentuk kita. Selanjutnya, kita bertindak atas dasar semua itu. Ketika itu, pola pikir orang lain mendapatkan kendali atas kehidupan kita.

Begitulah, mengapa manusia umumnya akan menjadi produk dari kebiasaan orang lain. Apa maknanya bagi kita?

Sebagai pemimpin, sudah sepantasnya kita menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terbentuknya pola pikir yang positif di sekitar kita. Itu artinya kita harus menumbuhkan secara terus menerus nilai-nilai, keyakinan, kebiasaan, atau harapan-harapan yang sehat dalam keseharian kita. Tidak mudah memang.

Kita harus menciptakan komunitas yang bisa saling mengingatkan dan menyemangati agar hal-hal positif terus tumbuh di lingkungan kita. Sebab dengan cara itulah, disadari atau tidak, pola pikir kita dan bawahan kita akan terbentuk. Apa yang kita lihat, dengar dan rasakan dari lingkungan kita akan menjadi bahan bakar bagi pembentukan pikiran-pikiran kita. Repetisi atas pikiran-pikiran kita sesuai input informasi yang kita terima akan membentuk pola pikir kita. Pada gilirannya, pola pikir itu akan membentuk kehidupan di sekitar kita. Maka pastikan agar nilai-nilai, keyakinan, kebiasaan, atau harapan-harapan yang positif saja yang hadir dalam keseharian kita. Selainnya? Singkirkan jauh-jauh… kick out from our life!

Bagaimana menggunakan kemampuan filterisasi dengan benar untuk memastikan pembentukan pola pikir yang positif serta bagaimana mengubah pola pikir yang sudah terlanjur salah atau negatif? Insya Allah akan kita bahas pada kesempatan lain. So, jangan kemana-mana setelah iklan yang berikut ini…😀

Salam hangat, selalu ada cinta untuk Sobat sekalian …

Sampurna

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Motivasi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s