MENGUBAH POLA PIKIR LAMA

Pada tulisan sebelumnya tentang pembentukan pola pikir, saya menulis bahwa kita sesungguhnya adalah produk dari kebiasaan cara berpikir orang lain. Ketika kita tidak secara kritis menerima nilai-nilai, keyakinan, kebiasaan, atau harapan-harapan orang lain dan bertindak mendasarkan pada hal-hal tersebut, sesungguhnya kita telah memberikan kesempatan bagi orang lain untuk memegang kendali atas hidup kita. Di titik pemahaman ini, kita harus memulai membangun kehati-hatian. Mengapa?

Tidak masalah jika kendali/pengaruh lingkungan tersebut berdampak pada hal-hal yang positif bagi hidup kita, bahkan kita bisa menjadi sangat beruntung karenanya. Namun, di sisi lain  kendali/pengaruh itu juga bisa memberikan hal-hal yang buruk, seperti membatasi kemampuan dasar kita, tidak efektif, atau bahkan membahayakan kehidupan. Ingatlah selalu bahwa pada awalnya kita membentuk pola pikir kita sendiri, kemudian pola pikir itulah yang akan membentuk kita selanjutnya. Jadi? Pastikan kita mampu menyaring pengaruh lingkungan terhadap diri kita. Pastikan hanya pengaruh positif saja yang kita ijinkan turut membentuk pola pikir kita.

Untuk memastikannya cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan ini:

  • Siapa yang telah mempengaruhi pemikiran saya tentang diri saya sendiri, tentang orang lain, tentang kehidupan, tentang keberhasilan, dan hal-hal lainnya?
  • Keyakinan, sikap, kebiasaan berpikir seperti apa yang telah ditanamkan kepada saya selama ini?
  • Apakah pikiran, sikap, keyakinan, dan pendidikan yang selama ini saya peroleh berguna untuk meningkatkan keberhasilan saya dalam hidup atau justru malah membatasinya?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu direnungkan secara jernih dan dijawab secara jujur. Jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut dapat menjadi titik anjak bagi perubahan yang lebih baik dalam pengembangan pola pikir kita. Mari kita pertanyakan, apa yang bisa kita lakukan terhadap pola pikir, kebiasaan, sikap, nilai-nilai, keyakinan dan harapan lama, yang kita miliki selama ini, yang membatasi bahkan menjadi penghalang bagi pencapaian-pencapaian selama ini?

Jika jawaban atas pertanyaan tersebut sudah dapat ditemukan, kita dapat merumuskan pendekatan-pendekatan untuk merubahnya ke arah yang positip. Secara umum, kita harus menghapus/mengubah program-program lama dalam pikiran tersebut dan menggantikannya dengan program baru yang sesuai dengan keinginan. Secara terus menerus dan konsisten, kita harus menanamkan gagasan-gagasan baru ke dalam pikiran kita hingga bisa menggantikan gagasan-gagasan lama yang sudah terlanjur tertanam sebelumnya. Saya menyebut teknik ini sebagai teknik mencabut gulma.

Mencabut-gulmaPerhatikanlah gulma yang tumbuh ditengah-tengah sawah petani. Meski sang petani telah mencabut gulma-gulma itu namun jika tempat dimana gulma itu berada sebelumnya dibiarkan kosong begitu saja, pasti dalam waktu yang relatif singkat akan tumbuh gulma-gulma baru ditempat itu. Begitulah seterusnya.

Betapa melelahkan kerja petani jika seperti itu. Sangat tidak efektif. Lalu bagaimana mengatasinya? Jika ingin efektif maka usai gulma-gulma tersebut dicabut, sang petani harus menanam tumbuhan baru yang diinginkannya diatas area bekas gulma-gulma itu berada.

Begitu pun dengan pola pikir kita. Tatkala kita menyadari ada  kebiasaan, sikap, nilai-nilai, keyakinan dan harapan lama yang negatif dalam hidup maka kita harus menanamkan dalam pikiran gagasan-gagasan baru yang berlawanan dengan hal tersebut. Pola pikir baru yang positif sebagai lawan dari pola pikir lama yang negatif harus dihadirkan secara terus menerus dan konsisten. Itu pintu untuk memastikan perubahan pola pikir terjadi.

Sepertinya mudah sekali… Oh, no.. no.. no. Anda salah besar jika mengatakan seperti itu. Pengalaman saya menegaskan, lebih mudah mengajarkan teknik mencabut gulma itu ketimbang mempraktikkannya sendiri. Diperlukan disiplin diri yang kuat untuk bisa mencapainya. Sungguh tidak mudah melawan diri sendiri itu. Sebab, normalnya, manusia terlahir dengan kecenderungan untuk merangkul kemudahan dan menolak kesulitan. Karenanya, kita membutuhkan kemampuan untuk membuat diri kita mau melakukan sesuatu yang sangat kita inginkan pada saat kita tidak suka untuk melakukannya. Itulah disiplin diri!

Setiap orang pasti menginginkan pola pikir yang lebih baik, sayangnya kebanyakan akan menyerah untuk menggapainya manakala tahu ternyata jalan menuju pola pikir yang lebih baik itu ternyata terjal. Sering kita mencoba untuk mengubah, namun ternyata gagal. Berulang mencoba, berulang pula kegagalan-kegagalan itu terjadi. Kita marah karenanya. Sayangnya, terkadang ekspresi marah itu kita arahkan dengan cara yang salah: berhenti untuk melakukannya!

Mulai sekarang, saya ingin ketika Anda gagal untuk menanamkan pola pikir baru yang positif setelah mencabut gulma Anda, marahlah. Ya, marahlah dengan kemarahan terbesar Anda!

Marahlah dengan kemarahan yang meluap-luap sehingga Anda akan sanggup meneriakkan, “Cukup! Aku tidak mau lagi mengalami kegagalan-kegagalan ini lagi. Aku mau berubah! Aku harus berhasil mengubah diri untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang!” Biarkan emosi itu membantu Anda untuk fokus pada tujuan: mengubah pola pikir. Disaat seperti itu, Anda membutuhkan fokus pada apa yang Anda inginkan. Mengapa ini penting? Karena fokus akan membuka aliran energi dan sumber daya Anda untuk mencapai keinginan Anda. Sebab, energi dan sumber daya akan mengalir sesuai dengan arah niat dan atensi Anda.

So, jangan berhenti. Jangan menyerah. Teruslah tanamkan kebiasaan, sikap, nilai-nilai, keyakinan dan harapan-harapan baru yang Anda inginkan! Biarkan waktu yang akan membuktikan. Suatu saat Anda akan tertegun mendengar orang mengatakan tentang Anda, “Kok kamu beda banget ya dengan dulu waktu terakhir kita bertemu. Gimana sih caranya bisa seperti itu?”

Salam hangat,

Sampurna

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Motivasi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s