JANGAN KALAH DENGAN KEBIASAAN LAMA

 Seorang kawan bertanya usai mendengar uraian saya tentang teknik mencabut gulma untuk mengubah pola pikir lama yang bersifat negatif, “Bagaimana cara mengubah gulma jika sang gulma (kebiasaan) itu sudah terlanjur mengakar?… Bukan saja sekedar bentuk akarnya yang sudah sangat memanjang, namun ia juga merasuk ke dalam tanah dan menjalar hingga ke mana-mana?” Begitulah kira-kira pertanyaan simboliknya.

Ya, sering saya mendengar hal yang seperti ini. Terkadang, ujung dari pertanyaan seperti itu menyiratkan bahwa rasanya kok tidak mungkin untuk mengubahnya ya? Sepertinya, hal itu menjelma menjadi kebiasaan yang telah begitu lama mengekang kehidupan. Kalo ditanyakan ulang,” Masih perlukah perubahan itu harus Anda lakukan?”, mayoritas akan menjawab, ”Jelas dong, pak. Kebiasaan lama itu seakan seperti benalu bagi hidup saya!”

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, kita membutuhkan disiplin diri yang kuat untuk mengatasinya. Semakin kuat akar kebiasaan lama yang merusak itu menancap, semakin kuat pula kebutuhan kita akan disiplin diri itu. Terkadang, disiplin diri itu membutuhkan hentakan yang sangat keras dari sumber eksternal agar kita mampu menyadarinya.

Dalam beberapa sesi training motivasi saya sering mengingatkan, “Apabila nasehat dan ceramah, dan yang semisalnya, sudah tidak bisa lagi menjadi obat bagi kita untuk berubah, saya khawatir, satu-satunya jamu yang mujarab hanyalah musibah.”  Mengapa saya katakan itu? Pengalaman hidup banyak orang telah mengajari saya akan hal itu.

Lho kok begitu? Ya. Sebab jarang sekali orang mau mengubah dirinya manakala sudah tertanam suatu kebiasaan yang mengakar dalam dirinya. Dalam situasi itu, cenderungnya ia merasa nyaman dengan kebiasaan tersebut. Jika pun dalam suatu ketika muncul kesadaran, dan pengakuan, tentang kebiasaan buruk tersebut umumnya kesadaran itu tidak cukup kuat untuk membuatnya melakukan perubahan. Sekalipun kesadarannya menuntun pada suatu pengakuan tentang kebutuhan untuk mengubahnya.

Mengapa begitu? Sederhana saja. Jika kebutuhan akan perubahan itu belum sampai pada taraf menjadi tuntutan yang sangat menyakitkan, orang memiliki kecenderungan kuat untuk resisten terhadap perubahan.

Perubahan, terutama yang bersifat drastis, sering kali dijelaskan dengan cara seperti itu. Jarang orang mau melakukan perubahan karena memang menyukai dan menginginkan perubahan tersebut. Sebab, perubahan menyimpan satu misteri yang ditakuti manusia: ketidakpastian. Umumnya, orang pada akhirnya melakukan perubahan karena sudah tidak ada cara lain. Ia terpaksa harus melakukan perubahan. Maka semboyan yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ini adalah change or die!

Tiada pilihan lain lagi. Wajar, jika kemudian perubahan diidentikkan sebagai proses yang tidak menyenangkan. Menyakitkan memang. Namun perubahan adalah satu-satunya jalan yang mesti ditempuh. Teori psikologi menjelaskan, salah satu faktor motivasi yang kuat mendorong orang untuk melakukan sebuah tindakan adalah menghindari kesakitan. Meski tidak menyenangkan, jika suatu tindakan harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari situasi yang lebih menyakitkan, manusia akan melakukan itu. Itulah sebabnya, kita mau minum obat sepahit apa pun demi sebuah kesembuhan dari penyakit! Belajarlah pada sang elang untuk memahami hal ini.

elangSeekor elang dewasa sanggup bertahan hidup hingga usia 70 tahun. Namun usia sepanjang itu hanya akan ia nikmati jika sebelumnya ia mau melakukan tindakan yang menyakitkan baginya. Memasuki umur 40 tahun, elang memiliki dua pilihan yang sama-sama tidak enak. Mati di usia itu atau meneruskan hidup namun harus melalui perjalanan yang berat dan menyakitkan dalam hidupnya.

Elang  yang berumur 40 tahun harus  mau menerima kenyataan bahwa paruhnya tidak lagi sekuat di masa mudanya. Paruh sang elang menjadi bengkok ke dalam dan memanjang hingga hampir menyentuh dadanya. Di satu sisi, seiring proses penuaan itu, bulu-bulu elang bertambah menjadi lebat dan semakin menebal. Kondisi itu menyulit dirinya untuk merentangkan sayap dan terbang dengan berat yang semakin membebani. Belum lagi bentuk cakarnya yang berubah semakin menua hingga kehilangan daya cengkeram yang menjadi andalannya. Dalam situasi seperti itu, nyaris mustahil baginya untuk berburu mangsa untuk mendapatkan makanan.

Jika ingin survive dari kondisi itu, elang harus bersusah payah terbang ke puncak gunung yang tinggi untuk memulai proses perubahan yang akan menyelamatkan dan memperpanjang kehidupannya.

Di sana, ia akan mematuk-matukkan paruh tuanya menghantam batu agar terlepas dari mulutnya hingga tumbuh paruh baru sebagai gantinya. Sang elang pun harus memaksa cakar-cakarnya  agar tanggal hingga muncul cakar-cakar baru. Selesai dari proses itu, sebagai bagian terakhir yang tak kalah menyakitkan baginya adalah mencabuti bulu-bulu di tubuhnya satu persatu agar tumbuh bulu-bulu baru setelahnya. Semua proses itu membutuhkan waktu lima bulan, sebelum akhirnya ia menjelma menjadi elang lama dengan chasing baru yang lebih segar dan kuat. Perubahan yang memungkinkannya untuk hidup 30 tahun lebih lama.

Kita bisa memetik hikmah dari kehidupan sang elang. Lesson learned dari cerita ini memang memaksa kita untuk mau berpayah-payah menempuh jalan perubahan. Sebab itu memang suatu kemestian. Jalan yang harus dilewati. Maka, kuatkan disiplin diri untuk melakukannya. Jangan menunggu musibah baru kita berubah. Sebab, cara itu biasanya jauh lebih menyakitkan, kawan…

Salam hangat sepenuh cinta

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Motivasi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s