Latih Daya Kenyalmu

Sekelompok pemuda merencanakan pendakian ke Gunung Rinjani untuk melewati akhir tahun sekaligus menyambut tahun yang baru. Terpesona oleh foto-foto yang mempublikasikan keindahan gunung Rinjani, mereka bersepakat bahwa hidup tidaklah lengkap jika belum pernah sampai ke puncak Rinjani. Terlalu sayang jika keindahan Rinjani dilewatkan. Ya, puncak gunung api aktif tertinggi kedua di Indonesia itu memang menyimpan keindahan yang sungguh menawan.

Mereka pun berkomitmen untuk berkumpul di kaki Gunung Rinjani di suatu pagi jelang pergantian tahun baru. Di kaki gunung tertinggi di Lombok, dengan ketinggian 3.726 mdpl, mereka semakin terpana. Pantas jika Rinjani menjadi impian traveler untuk berdiri di puncaknya. Mereka mematok target, harus bisa mencapai puncak Rinjani. Pantang berpulang tanpa menapakkan kaki di sana.

Mulailah rombongan sepuluh  pemuda itu bergerak  mengikuti jalur pendakian Sembalun. Semua tampak menyenangkan pada awalnya. Rinjani berdiri menjulang jauh di depan. Cuaca cerah berbalut hangat sinaran mentari pagi. Sepanjang perjalanan pertama, mereka masih sering berpapasan dengan para petani dan penduduk desa Sembalun, serta ladang pertanian warga di kiri-kanannya. Jalur perjalanan awal setelah areal pertanian adalah jalur pendakian yang landai didominasi oleh punggungan bukit dengan tumbuhan ilalang yang lebat. Mereka mendaki penuh semangat.

Pemandangan menakjubkan di sepanjang perjalanan pendakian memanjakan mata. Juga udara segar yang memenuhi rongga dada. Seiring sinar mentari yang merambat naik, langkah-langkah kaki mereka mulai membawa ke jalur pendakian yang semakin berat. Jalan mulai rumpil, akar pohon-pohon liar dan bebatuan yang berserakan semakin sering ditemukan. Meski demikian, pos pertama dan kedua pendakian mampu mereka lalui.

Selepas pos ketiga Plawangan Sembalun, medan pendakian semakin berat. Mulai terdengar satu dua komentar dari sebagian rombongan mengeluhkan kondisi medan. Semakin mendekati Bukit Penyesalan semakin banyak keluh kesah itu terdengar. Susah payah mencapai Bukit Penyesalan, mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka belumlah sampai di puncak bukitnya! Masih ada bukit-bukit selanjutnya sebelum mengapai puncak Rinjani. Deretan bukit yang seolah tiada habis-habisnya…

Di Bukit Penyesalan itu, kekesalan dan sumpah serapah tak bisa ditahan lagi. Puncaknya, enam orang diantara kelompok pemuda itu memutuskan menghentikan pendakian dan kembali ke desa Pembalun. Mereka tak sanggup meneruskan perjalananan dan memilih pulang meski belum mencapai tujuan awal mereka.

Empat orang sisanya tidak sepakat dengan keputusan menghentikan perjalanan. Sebab, komitmen awal adalah mencapai puncak Rinjani apapun yang akan terjadi. Mereka tetap memilih meneruskan pendakian.

Tak lama berselang, tanjakan terakhir sebelum Plawangan Sembalun sudah terlihat. Itu adalah tanjakan menantang dengan kemiringannya sekitar 60 derajat. Jalanannya terjal dan licin, apalagi hujan yang cukup deras mengguyur di sisa perjalanan hari itu. Oksigen semakin menipis, kaki terasa lelah dan hampir mati rasa, ditambah lagi badan mulai menggigil kedinginan. Meski begitu, tekad mereka tetap bulat untuk meneruskan perjalanan. Puncak Rinjani masih jauh, tegak menantang.

segara-anakSetelah menempuh sekitar 10 jam pendakian dari jalur Sembalun, Danau Segara Anak berhasil mereka capai.  Decak kekaguman dan lontaran teriakan tanda kepuasan kontan nyaring terdengar. Berbentuk seperti bulan sabit dengan lahan yang luas dan datar, Segara Anak tidak saja sangat indah namun juga menjadi tempat berkemping yang ideal. Tidak menunggu lama, pemimpin dari rombongan yang tersisa itu memutuskan untuk menghentikan pendakian guna beristirahat. Tenda didirikan dan bekal-bekal makanan segera dikeluarkan. Usai menikmati bekal, mereka berendam di air panas yang mengandung belerang untuk mengusir lelah. Mereka memutuskan bermalam di tepi danau nan eksotik itu.

Esok hari, usai menikmati istirahat malam yang nyenyak, pemimpin rombongan menyerukan untuk segera berkemas dan melanjutkan perjalanan. Alih-alih bergegas, tiga pendaki yang tersisa mempertanyakan instruksi pemimpin rombongan itu. “Untuk apa kita berkemas dan meneruskan pendakian? Bukankah yang kita cari adalah keindahan Rinjani? Bukankah tempat ini adalah tempat sangat indah yang kita belum pernah temui sebelumnya? Apalagi yang kita cari? Bukankah puncak masih sangat jauh? mana berat lagi medannya”, rentetan pertanyaan dan alasan bermunculan. Diskusi diantara mereka tidak mencapai kesepakatan. Tiga pemuda bersikeras untuk menghentikan pendakian sebab keindahan Danau Segara Anak sudah lebih dari cukup bagi mereka.

Tinggallah sang pemimpin rombongan. Seorang diri meneruskan perjalanan. Baginya, tujuan mencapai puncak Rinjani belumlah diraih. Komitmen dan tekad yang diusung sedari awal harus dipenuhi. Meski berat dan tertatih, di hari kedua pendakian, jelang sore tenggelam, ia berhasil mencapai puncak Rinjani. Segera lantunan syukur ia ucapkan. Luar biasa indah puncak Rinjani ini… betul-betul keelokan yang sulit dicari bandingnya. Sejenak ingatannya melayang kepada kawan-kawannya yang tercecer dalam pendakian ini. “Alangkah ruginya mereka. Andai mereka mau bersabar dan menanggung sedikit lagi kepayahan, keindahan yang menakjubkan ini pasti akan mereka rasakan jua,” gumamnya sembari tak lekang matanya menatap hamparan langit di puncak Rinjani.

***

Apa yang ditunjukkan oleh para pemuda dalam cerita diatas mengingatkan saya pada satu hal, bahwa banyak orang berani memimpikan kesuksesan dalam hidup, namun sayangnya tidak banyak yang bersedia membayar harga untuk kesuksesan itu. Padahal kesuksesan menuntut banyak hal, diantaranya kerja keras dan komitmen yang kuat  untuk menggapainya. Sebab, jalan menuju sukses bertabur dengan hambatan dan kesulitan. Disinilah kita perlu meyadari pentingnya membangun kecerdasan untuk mengatasi setiap permasalahan yang kita hadapi.

Setelah 19 tahun melakukan penelitian dan mengkaji lebih dari 500 referensi, DR. Paul G. Stoltz mengemukakan satu teori kecerdasan baru selain Intellegent Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ)  yang selama ini sudah dikenal. Kecerdasan baru itu bernama Adversity Quotient (AQ).   Stoltz mendefinisikan AQ sebagai “the capacity of the person to deal with the adversities of his life. As such, it is the science of human resilience.” Secara ringkas, AQ adalah kemampuan dalam bentuk kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk bertahan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan serta mengatasi tantangan-tantangan dalam kehidupan.

Seseorang yang memiliki AQ yang tinggi teridentifikasi dari kegigihannya dalam menghadapi tantangan dan kesulitan sehari-hari. Lebih dari itu, bukan saja mampu mengatasi tantangan, seseorang yang memiliki AQ tinggi akan sanggup merespon tantangan-tantangan tersebut untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik. Ia mampu mengubah hambatan menjadi peluang. Demikian pula sebaliknya. Untuk memberikan gambaran atas kecerdasan ini, Stoltz membagi kecerdasan ini ke dalam tiga kelompok kategori manusia: quitter, camper, dan climber.

Enam pemuda yang memilih untuk menghentikan pendakian di Bukit Penyesalan adalah contoh dari manusia tipologi quitter. Seorang quitter melihat masalah dan tantangan sebagai sesuatu yang gelap dan menakutkan. Mereka bahkan sudah berhenti sebelum memulai. Jika pun berani memulai, gampang pula mereka menyerah di tengah perjalanan. Dari tipikal ini, kita akan sering mendengar bagaimana mereka dengan entengnya menyalahkan orang lain atas kegagalan hidupnya. Mereka cenderung menghindar untuk mengambil resiko, suka bermain aman, dan tak berani menghadapi tantangan-tantangan baru yang menuntut keberanian. Padahal, sejatinya mereka memiliki potensi yang besar dalam diri. Sayangnya potensi itu terabaikan.

Tiga pemuda yang memutuskan untuk berhenti di Segara Anak adalah contoh dari tipologi camper. Meski berani memulai dan pada awal terlihat sangat  bersemangat, mereka bukanlah pejuang sejati. Cepat merasa puas dengan capaian-capaian yang ada, dan menggunakan seluruh energi besar yang masih dimiliki untuk memelihara status quo adalah ciri khas tipologi ini. Akibatnya, mereka tak pernah mencapai potensi sesungguhnya yang dimiliki.

Satu-satunya pendaki yang tersisa, yang sanggup mencapai puncak Rinjani seperti komitmen awal, itulah sang climber. Ia adalah tipologi manusia yang tak pernah menyerah dalam mengejar mimpi. Seolah ia tak ada matinya. Terus bergerak menuju pencapaian-pencapain yang lebih tinggi dalam kehidupannya. Semakin dihadapkan pada kesulitan, sebanyak kuat ia melangkah. Semakin keras ia ditekan, semakin tinggi daya lentingnya terlontar.

***

Kecerdasan dalam menghadapi masalah adalah penentu kesuksesan seseorang. Tanpa kecerdasan ini, sulit bagi seseorang untuk menggapai prestasi terbaik dalam hidupnya. Sebab, dalam proses mencapai prestasi itu pasti akan bertemu dengan hambatan, tantangan, dan kesulitan. Semua ragam permasalahan itu tidak cukup diselesaikan menggunakan IQ, EQ, dan SQ saja. Dibutuhkan “daya kenyal” untuk mengatasi itu semua. Kekenyalan seseorang dalam merespon kesulitan dan kemampuannya dalam mengatasi adalah cermin dari AQ.  Dengan kata lain, seseorang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan  cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya rendah.

Dalam kehidupan nyata, para climber-lah yang akan mendapatkan kesuksesan sejati. Penelitian Charles Handy terhadap ratusan orang sukses di Inggris memperlihatkan bahwa mereka, yang dikategorikan sebagai orang-orang sukses itu, memiliki tiga karakter yang sama. Pertama, memiliki dedikasi tinggi terhadap apa yang tengah dijalani. Dedikasi itu bisa berupa komitmen, passion, kecintaan atau ambisi untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. Kedua, mereka memiliki determinasi, yaitu  kemauan untuk mencapai tujuan, bekerja keras, berkeyakinan, pantang menyerah dan kemauan untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Terakhir, selalu berbeda dengan orang lain. Orang sukses memakai jalan, cara atau sistem bekerja yang berbeda dengan orang lain pada umumnya.

Nah, seberapa jauh Anda telah melatih “daya kenyal” itu, kawan? Siapakah Anda? Seorang quitter, camper, ataukah climber-kah? Telisiklah lebih cermat ke dalam diri Anda.

Salam pengembangan diri!

About sampurna budi utama

Seorang yang ingin terus menjadi pembelajar dalam kehidupan. Dilahirkan di Yogyakarta, 19 Februari 1974. Saat ini bekerja sebagai Widyaiswara Madya Kementerian Keuangan dan dosen STAN Jakarta. Aktif sebagai nara sumber pelatihan/workshop terutama di bidang keuangan daerah dengan lebih dari 7.000 jam pelatihan yang dihadiri lebih dari 8.000 peserta dari kalangan eksekutif dan legislatif. Serta menjadi trainer untuk materi Leadership di lingkungan Kementerian Keuangan. Menamatkan pendidikan tingkat menengah di SMAN I Yogyakarta, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di STAN Jakarta dan S-2 FEUI Konsentrasi Ekonomi Keuangan Negara dan Daerah. Menikahi Nur Aisyah Kustiani, Ak. M.Si dan ayah dari: Ishmah Karima Jamil, Nushayba Najmina, Aynun Ramadhani Fajriah, serta Dareen Aisha.
This entry was posted in Motivasi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s